Aku Hanyalah Pelarian Terbaik yang Sudah Memperjuangkanmu Dalam Diam Doaku.

Tanpamu aku tak berarti
0 27

Ternyata, dugaanku selama ini benar. Jika aku hanyalah pelarian terbaik yang sudah memperjuangkanmu dalam diam doaku. Sepertinya, sudah saatnya aku menunda doa yang tengah kukemas dalam sujud terakhir salat. Bahwa memperjuangkanmu selama ini ialah takdir yang telah Allah ciptakan. Dan, aku sudah salah mendoakan namamu itu.

Aku tak ingin terluka ke dua kalinya. Setelah kau kemarin berpura-pura hendak menjauh. Kurasa kau sedang memperbaiki diri untuk tidak mengenalku. Dan tengah memantaskan takdir-Nya. Namun nyatanya, kau tengah membenihi rindu di ladang hati yang baru. Sedang aku hanya menunggu mengering dan siap dijalari rumput-rumput liar yang kian memamah rinduku.

Tabu rasanya jika aku terus-terusan mengharapkanmu. Karena aku hanya menjadi rumah yang telah kau hapusi jejak-jejak singgah. Karena aku hanyalah dermaga yang sudah lama ditinggali kapal atas keberangkatannya. Kau beruntung telah menjadikanku sebagai pelarian terbaikmu. Sementara aku, tengah menghitung seberapa banyak doaku tertanam nama-namamu itu.

Baca Rekomendasi :   Tak Ada Lagi Namamu Kusebut dalam Doa Karena Semua Kuserahkan Kepada-Nya

Sudah! Sudah saatnya kau dan aku tak perlu mengenal. Jika saja, di suatu hari nanti kau kembali hadir dalam dimensi hatiku. Kuanggap kau hanya menjadi abu yang segera lenyap dihembus napas kebohongan. Terima kasih atas temu yang membuatku tahu, jika aku adalah pelarian terhebat yang pernah orang lakukan padaku, yakni kamu.

Karena melepasmu sungguh berat. Aku kembali merancang celah-celah dalam dinding ilusi yang baru. Menemuimu pada kelopak senja yang bermekaran tepat di kepalamu.

Aku salah mengira jika pergi diam-diam darimu ialah kepercayaan dalam menuhankan doa-doa terbaru. Aku salah jika diam-diam melepasmu ialah ketidaksengajaan agar kau tahu cara terbaik melipat temu menjadi lebih dekat. Walau kenyataannya, aku termakan omong kosong yang dibumbui keambiguan tanya– kenapa aku harus berani melepasmu!

Baca Rekomendasi :   Di Akhir Kebencian Tetaplah Tersimpan Cinta Yang Abadi Untukmu

Sebab akan ada jalan-jalan terjal yang kulewati. Akan ada jalan-jalan yang menurunkan rasa di setiap kelokannya. Aku patah berkeping di pertengahan jalan. Di bawah pohon kering yang tidak pernah ingin tumbuh lagi. Apalagi memperanakkan kecemasannya. Aku menjadi kayu bakar yang siap menyala kecemburuan setiap jengkal kepergianmu.

Bagimu, kau menang dalam pertualangan baru itu. Hingga aku hanya menyesali kepergian dan mengikhtiarkan dalam usaha melepasmu.

Kau menang dalam pergolakan hati runcing yang siap menghunus setiap dada-dada yang menciptakan rindu di dalamnya. Kau menang pada setiap celah-celah terjal yang siap memutus hati yang tengah merajutnya. Sekarang, aku siap melepasmu dalam tanya-tanya orang lain. Sekarang aku siap melepas dalam kekikiran hati dalam mempertanyakan perihal merindu. Dan, aku mati berkeping setelah tahu kau tengah baik-baik saja bersamanya.

Baca Rekomendasi :   Bolehkah Aku Mengetuk Rumahmu, Bertamu dan Bertemu Orang Tuamu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page