Jarak Itu Tak Memisahkan, Hanya Saja Temu Belum Juga Memperatkan

Jarak itu tak memisahkan
0 61

Perasaan gundah, merana, pilu bilamana waktu belum membolehkan untuk berjumpa. Rasa berdegup kencang jantung ini bila menjumpainya. Bagaikan pungguk yg merindukan sang rembulan. Sungguh luar biasa Sang Pencipta menciptakan insan dengan sempurnanya. Sungguh hebatnya pesonamu menarik hati, membuat yang melihatnya terpana oleh indahnya paras dan rupamu. 

Jika urusan firasat, aku bahkan kalah telak darimu. Namun, urusan memercayai dan menjaga, mungkin aku sedikit lebih darimu. Entah kapan, firasatmu berganti nama menjadi ‘rindu’ kepada seseorang yang selalu menunggumu, yakni aku. Semoga nanti–firasatmu berganti nama ya, Seseorang yang namanya selalu kudoakan.

Tak jarang rindu tiba-tiba datang menyerang juga.

Aku tidak pernah mempermasalahkan segudang luka yang kau ciptakan. Karena bagiku, luka mengajarkan banyak cara untuk mendewasakanku. Tapi yang menjadi masalah adalah deretan bahagia yang pernah tercipta di antara kita.Yang apabila aku mengenangnya, air mata bisa saja jatuh tanpa aturan secara tiba-tiba.

Baca Rekomendasi :   Bukannya Tak Memiliki Rasa yang Sama, Namun Kuserahkan Segalanya Kepada Ilahi

Terkadang kenangan bahagia jauh lebih menyakitkan daripada luka-luka yang terpaksa ada. Bahkan saat mengenang luka, seringkali hatiku tidak merasa apa-apa. Sebab, jika pun disesali– semua telah terjadi. Lain halnya saat aku mengingat-ingat kenangan bahagia yang pernah kita lewati bersama. Lagi-lagi ada sesak yang berhasil mengusik ketenangan jiwa.

Tak jarang rindu tiba-tiba datang menyerang juga. Seperti halnya dengan dirimu, bahagia yang pernah tercipta dan sulit dilupa adalah ketika dirimu sedang mengusahakan sesuatu untuk membuatku merasa bahagia, juga kalimat-kalimat penguat yang berulang kali kau katakan selalu melekat dalam ingatan, bahkan sampai detik ini.

Saat kita sudah tak bersama lagi. Katamu, “Setiap senyumku adalah sesuatu yang patut untuk diperjuangkan-pun di pertahankan. Dan bagaimanapun caranya kau akan mengusahakannya. Dari ratusan kebahagiaan sederhana yang mencoba kau cipta di antara kita, aku sulit lupa saat kau berusaha datang tepat waktu untuk membawakan minuman kesukaanku. Lelahmu selepas kau bekerja, tak pernah menjadi alasan untuk berkata ‘tidak’, saat aku berkata ingin.

Baca Rekomendasi :   Jarak Bukan Penghalang Sayang, Insyaallah Kita Bahagia Pada Waktunya

Padahal saat itu, bukan minuman itu yang benar-benar aku ingin, aku hanya ingin bertemu tuan pemilik rinduku saja. Namun sayangnya, kebahagiaan itu tidak pernah bisa selamanya aku rasakan. Segala mimpi hancur, segala bahagia sirna. Sesaat setelah kau berkata, jika kita berteman saja. Sakit, bahkan teramat sakit. Lagi-lagi ada sesuatu yang harus kulepas padahal belum lama kugenggam. Menyesal aku tidak mengikatnya dari dulu, jika tahu bahwa kau akan menolak kuajak terikat.

Dan salah satu penyesalan yang pernah ada adalah ketika kita berjalan layaknya sepasang kekasih yang saling jatuh cinta, padahal kita bukan siapa-siapa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page