Siapa yang Lebih Tersakiti? Kamu yang Menduakan Atau Aku yang Bodoh Mencintai

Siapa yang paling tersakiti
0 64

Siapa yang lebih tersakiti? Kumohon, mengertilah! Coba katakan padaku, siapa yang lebih tersakiti? Aku atau dirimu? Jika kau katakan bahwa dirimulah yang paling tersakiti, ayolah… Coba lihat mataku. Masih mampu kau katakan bahwa dirimu yang paling terluka?

Tak ada yang bisa disalahkan, baik darimu ataupun sebaliknya. Ketahuilah, kesalahan ini berasal dari harapan yang terlalu besar, sampai-sampai diri lupa bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Lupa, bahwa dia tak benar-benar menginginkanmu. Kau saja yang terlalu berharap lebih. Dan kini, kau tahu bagaimana rasanya kecewa? Sudahlah, hentikan saja harapan semu padanya.

Kau hanya buang-buang waktu untuk selalu memikirkannya. Mengertilah, kau berhak untuk bahagia. Bukankah bahagia yang kau inginkan? Lantas mengapa masih menetap pada hati yang tak ingin mendekap

Baca Rekomendasi :   Jangan Meninggalkanya Untuk Mencari yang Lebih Baik, Perbaiki Saja Dia!

Katamu Kita Adalah Ruang Untuk Saling Merindu, Tapi Nyatanya Itu Hanya Bualan Semata Saja.

Kita adalah ruang untuk saling merindu. Lucu saja, kalau nanti kita mengulang pertemuan itu. Saat kamu pura-pura takut, dan saat aku kembali melempar senyum. Sebab kita hanya sepasang hati yang ingin menyatu. Seperti hujan dan bumi yang terus dirindui setiap waktu. 

Biarlah Kurelakan Hatimu Pergi Berkelana, Dan Aku Disini Masih Setia dan Selalu Memaafkan. Mungkin Nanti Aku Juga Akan Pergi.

Hatimu Pergi Berkelana, Sedangkan Aku… Pagi ini, aku kembali berjalan dengan membawa kenangan-kenangan tentang kita. Memikul derita dalam cerita lama yang membuatku terluka tiap kali mengingatnya. Apakah kau juga sama? Kuharap kau ingat walau agak ‘sedikit’. Tak mengapa, asal ada rasa di ruang rindu dadamu.

Baca Rekomendasi :   Nikah Dulu Baru Pacaran, Karena Pacaran yang Halal Itu Jauh Lebih Menyenangkan!

Namun, tetap saja tidak ada jawaban yang bisa didapatkan dari udara kosong di luar sana. Hatimu telah lama pergi berkelana dengan seseorang yang baru. Ia telah membawamu, merebut senyumku serta dekapmu dariku. Pagi ini, embun pagi kembali membawa pada kenangan indah bersamamu. Melukiskan kembali tentang rasa dan cinta yang membuatku tersenyum sesaat dan merintih tersiksa. /aku patah lagi/

Aku memang selalu jadi manusia penuh perbandingan. Pandai mengingat, walau tak selalu bahagia. Kadang, sulit melupakan. Terlalu mudah mengingatkan pada masa lalu. Terutama denganmu. Lalu, aku merasa sinar fajar tak lagi hangat dibanding pelukmu. Dan secangkir teh tak lagi terasa manis jika aku memikirkanmu.

Baca Rekomendasi :   Teruntuk Kamu yang Pernah Meninggalka Diriku Tiba-tiba

Pada akhirnya, aku akan kembali mengutuk diriku sendiri yang selalu kalah melawan ingatan tentangmu. Menatap langkah dan berharap hatimu kembali mendekap hatiku. Meskipun ada rasa benci ketika melihat ia duduk denganmu. Ia yang telah membawa bahagiaku, yakni kamu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page