Sebelum Kujabat Tangan Ayahmu Didepan Penghulu, Kita Sebatas “Jodoh” Tak Pasti

Akad Di depan Ayahmu dan via facebook.com @gariswaktu
0 20

Berbicara tentang ekonomi, pasti akan ada yang namanya laba dan rugi. Berbicara tentangmu, aku tak pernah merasa rugi mencintaimu. Berharap bersanding denganmu adalah tujuanku. Namun, aku belum berani menyatakan, “Aku cinta padamu.” Sebelum kau jabat tangan ayahku dan melantangkan “qobilthu.” Saat ini, aku hanya mampu memandangmu dari jauh.

Meskipun raga ini sebenarnya ingin memilikimu secara utuh. Ya, aku hanya pengagum rahasia. Tanpa tahu apakah kau juga mempunyai perasaan yang sama.

Sebuah rasa yang memenjarakanku dalam belenggu ketidakyakinan tentang rasa padamu yang tengah berlabuh di dalam muara hati.

Ataukah karena aku yang belum menyakinkanmu terhadap perasaanku, atau karena aku yang tidak punya nyali untuk bertutur lembut dengan kedua orang tuamu. Mungkin Tuhan memiliku cadangan yang mampu bersanding denganku nantinya. Namun, aku tidak tahu bagaimana jadinya saat aku menemuimu tengah bersenda gurau mesra dengannya. Kacaunya hatiku nanti melihatnya. Andai tragedi itu tidak terjadi dalam kisahku ini.

Baca Rekomendasi :   Jatuh Cinta Itu Menyakitkan. Jika Kau Belum Siap, Jangan Lakukan

Jika Memang Kita Tak Berjodoh, Maka Pergilah Meski Sebenarnya Aku mengharapkanmu Sebagai Teman Hidupku.

Pergilah dan kembalilah jika sempat. Aku mencintaimu dengan sangat. Dengan segenap rasa dan cinta yang aku punya. Aku merindukanmu setiap saat. Setiap detik yang seolah membunuhku tiap langkahnya. Waktu yang membuatku terpaksa mencoba bahagia tapi juga menderita. Lalu aku benar-benar lupa bila kamu sudah memilih dia dan meninggalkan cerita kita.

Derita dan bahagia adalah dua hal berbeda yang tidak bisa aku satukan. Ia bagaikan minyak dengan air yang selalu berseteru. Ia adalah inginku yang mencoba menahanmu dan hatimu yang sudah berkemas akan pergi dari kehidupanku. Meski bagaimana pun keputusan mu sudah bulat ya? Aku hanya mampu memandang kepergianmu dengan bisu.

Baca Rekomendasi :   Jangan Baper Kepada Pasangan, Karena Kebahagian Kamu Meningkat di Level Dewa

“Apakah tidak ada kata perpisahan untukku?” Pertanyaanmu dengan suksesnya membunuh benih kecil yang tersisa dalam diriku. Kini hatiku benar-benar telah mati oleh kejahatanmu. “Apakah menurutmu aku menginginkan semua ini? Ini semua hanya demi kamu, dengan egoisnya kamu sedikit pun tidak memikirkan perasaanku!” Aku hanya mampu berteriak dalam bisuku karena takut kata-kataku akan melukaimu.

Aku mencoba tersenyum sebisaku meskipun jelas jika itu terpaksa. “Pergilah, suatu saat jika ia meninggalkanmu.

Aku masih disini menantimu,” ucapku lembut menyentuh pipinya. Itulah kata perpisahan yang kamu minta, bukan perpisahan yang aku ingin. Aku masih berdiri menunggu kamu menoleh untuk melihatku. Namun nihil, tidak ada tatapan dann kekhawatiran akan lukaku. “Pergilan dan kembalilah jika sempat,” Kamu telah sempurna membunuh hati yang tulus mencintaimu. Kamu mengganti debar rindu dengan tikaman kedua tanganmu.

Baca Rekomendasi :   Teruntuk Kamu yang Sedang Menunggu Jodoh, Semoga Segera Dipertemukan

Seandainya aku mampu. Aku ingin berhenti. Kedepannya akan semakin menyulitkan ku. Hari-hari selanjutnya yang akan aku lalui dengan membawa serta luka yang kamu lukiskan pagi ini akan selalu menyertai setiap langkah dan hidupku. Entah sampai kapan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page