Kisah Nyata : Ibu Gojek Ini Membawa Anaknya Mengemudi, Semuanya Demi Buah Hati

Gapape ye bang sambil bawa anak kan?," pintanya berlogat Betawi Tomang dah. Keyakinan saya terjawab, memang ia dan suaminya sudah lama ngontrak di kawasan Roxy, yah hanya 10 menit dari rumah di Tomang.

Wanita Ojek Online
0 258

Ojek online memang kini menjadi salah satu pekerjaan yang bisa menambah pundi-pundi rupiah. Bisa jadi dijadikan sebagai penghasilan tambahan atau bahkan sudah banyak yang menjadikannya sebagai pekerjaan utama. Memang sangat banyak suka dan duka menjadi ojek online, namun tak jarang banyak kisah yang menjadi perbincangan hangat warga net karena kisahnya banyak memberikan hikmah.

Seperti kisah seorang gadis yang diputusin pacarnya lebih memilih menghabiskan waktunya menjadi ojek online. Namun ada juga kisah seorang penumpang ojek online yang membagikan kisahnya dengan terharu biru. Bagaiaman tidak, ternyata driver yang membawanya adalah seorang ibu yang sedang membawa anak kecil. Memang sebenarnya tidak boleh, tapi mungkin driver mempunyai alasan tersendiri.

Berikut kisha selengkapnya yang dicerikatakn oleh Egy Syahban di Quoara. Simak Saja langsung.

Lontong sayur yang sebenarnya masih setengahnya untuk dilahap sarapan, terpaksa ditinggal karena notifikasi Gojek menggetarkan Xiaomi di kantong, dibalik terpal si mpok yang berjualan puluhan tahun di depan rumah, emak-emak berkisara umur 40-an celangak celinguk mencari siapa sekiranya penumpang pick up-annya.

Baca Rekomendasi :   Meski di Pandang Negatif, Sungguh FPI "Pahlawan" di Negri Ini

“Almagest ya bu, Menara Mandiri?,” setengah teriak saya bertanya sembari berjalan ke arahnya.

FYI: Almagest adalah nama yang sering saya gunakan, nama dari seorang anak laki kecil jagoan sang Ayah 🙂

“Iya bang, Sudirman kan?,” timpalnya.

Gapape ye bang sambil bawa anak kan?,” pintanya berlogat Betawi Tomang dah. Keyakinan saya terjawab, memang ia dan suaminya sudah lama ngontrak di kawasan Roxy, yah hanya 10 menit dari rumah di Tomang.

Alasannya membawa anak sangat Ironi, ekonomi, sekalipun suaminya bekerja, kondisi kehidupannya berefek bagaimana kehidupan sang anak tiap paginya, ada di bangku depan motor Ibunya.

Helm sudah terpasang aman, Xiaomi di kantong kanan langsung dirogoh, tujuannya? menceritakan kisah jarang ini di grup Whatsapp keluarga, yang hanya tersisa Adik perempuan, suaminya, dan Mama kami, setelah Papa duluan ‘pergi’ di tahun 2012.

Baca Rekomendasi :   5 Cara yang Bisa Dilakukan untuk Menahan Amarah Saat Puasa

Mengabarkan kejadian si emak ini sambil membawa anaknya saat bertugas, otomatis memancing Mama mengulas kembali bagaimana kisahnya dulu yang hamil tua anak pertama, saya, juga mirip. Dari hamil tua sampai hamil muda bekerja, karena kondisi kehidupan memaksanya. Demi saya dan adik.

“Mungkin begini dulu mama gue dulu keadaannya, gak ada pilihan lain, demi gue! ya Allah, maafin aku….” auto respon dalam hati berucap.

Asyik larut ngobrol bagaimana bisa sampai begini situasinya, saat motor melintasi Senayan, rasa ironi membaur dengan kesedihan yang saya paham betul; bahwa situasi dan sistem-lah yang membuatnya begini, membuat pipi saya basah,

Bukan tangisan mewek, tapi apa itu namanya itu?, tetesan air mata kecil mengandung emosi dan rasa ironi ditambah adanya rasa penyesalan.

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata : Menikah Terlambat Pembawa Berkah Bagi Hidupku

Saya yang ambivert ini memang memiliki sisi mellow yang mudah menangis di momen tertentu.

Emosi karena terlalu banyak kemungkinan tak terduga yang membahayakan sang anak, di satu sisi juga emosi; kenapa si emak ini diharuskan memilih keadaan begini?!

Menyesal, karena akhirnya melihat langsung bagaimana pengorbanan sang Ibu demi anaknya, mevisualisasikan sedikit bagaimana cerita dulu Mama berjuang demi bertahan hidup keluarganya, demi ‘keadaan’ sekali lagi.

Penyesalan yang diakibatkan terlalu banyaknya dosa akibat kelakuan anak cowoknya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page