Pada Akhirnya Kamu Memilih Pergi, Sedangkan Aku Merintih Tangis

  • Bagikan

Akan selalu ada cara lain, untukmu memilih berangsur membaik dan memulihkan perasaan. Dengan berpura-pura pamit, hingga akhirnya berujung dengan kata pergi. Nyatanya, kepergian yang sengaja kamu cipta itu gak seberapa dengan rasa sakit yang pernah kamu bentuk. Dengan rasa ego yang sama sekali menjadi tameng terhebatmu, untuk sesegera mungkin menghilangkan diri. Atau tersering (mungkin) mengeja kata jera. Begitu juga dengan jeda.

Untuk apa lagi memperbaiki segala yang retak. Mengisahkan tentang perjalanan hidup yang tidak sebaik orang-orang. Karena kita tak akan pernah menjadi kata. Karena kita hanya, sebatas ilusi yang diramu oleh semesta, lalu diterbangkan angin hingga jatuh, menemukan jalannya sendiri-sendiri.

Baca Rekomendasi :   Beginilah Cara Tuhan Mengajarkanmu Caranya Menjadi Dewasa Lewat Sebuah Luka

Dulu, hanya kita yang selalu mementingkan ego. Kamu lebih berpura-pura, sedangkan aku hanya ingin berdiam diri. Jika saja perjalanan ini bisa diputar. Pertemuan kita sama sekali tak dikenal. Kamu hanya sebatas singgah, dan aku yang masih berharap pisah.

Pamit yang akhirnya menjadi pergi akan mungkin terjadi. Tak akan ada lagi penyelesalan atas penyelesaian. Tidak ada yang namanya luka dari kehilangan. Karena semuanya benar-benar tidak mampu disatukan.

Apa kamu masih ingat,’jika cinta tak akan mampu disatukan jikalau ia hanya ingin memedulikan dirinya sendiri. Jika orang-orangnya tak bisa belajar untuk menjadi cinta dalam dirinya.’ Kenapa bukan sejak dulu, kita memilih jalan ini?

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page