Bisa Gak Kamu Lebih Peka Lagi, Kalo Aku Inginnya Kamu Tahu Tanpa Diberitahu?

Ini Semua Bukan Tentang Kamu Atau Aku yang Banyak Kekurangannya, Tapi Bagaimana Sikap Kita Dalam Menghadapi Kekurangan Kita Masing-Masing.

Ikat dengan doa via instagram.com/eveninsilence.id
0 22

Terkadang, kamu juga ikut-ikutan menyebalkan, manakala aku merasa kalau kamu kurang menghargai apa yang aku lakukan, padahal itu semua juga demi kamu. Huh! Bisa nggak sih, kalau kamu itu lebih peka lagi, kalau aku inginnya kamu tahu tanpa diberitahu? Bukan dengan kelakuan kanak-kanakku semisal lebih banyak berdiam diri, yang terpaksa aku lakukan untuk membuat kamu mencari tahu dengan bertanya ‘kenapa?’ yang anehnya sekaligus membuatku serba salah harus menjawab apa, dan akhirnya seringkali aku jawab dengan ‘nggak kenapa-napa’, ditambah muka cemberut karena kesal.

Kanak-kanak sekali, bukan? Tapi terkadang, kita memang harus kekanak-kanakan untuk lebih disayangi orang lain. Dalam perkara ini, orang yang dimaksud ya kamu. Apalagi, itu termasuk dalam peran kamu selaku suami, bukan? Aku dan kamu punya hak dan kewajiban untuk memanjakan dan dimanjakan di beberapa kondisi. Jadi, tak apalah jika sesekali aku menuntut hak-ku itu kepada kamu. [Kutipan Buku Genap]

Keputusan Terbaik Agak Sulit Dihasilkan Oleh Orang yang Plin-Plan.

Aku juga suka dengan ketegasan kamu. Ketegasan yang disampaikan bukan dengan nada tinggi atau marah-marah. Ketegasan yang disampaikan dengan santai tapi mengena. Well, salah satu kriteriaku memang ingin punya suami yang tegas. Karena salah satu peran penting suami selaku imam adalah memberikan keputusan-keputusan terbaik dalam kehidupan rumah tangga. Baik yang berhubungan dengan diri sendiri, istrinya, atau anak-anaknya. Dan keputusan terbaik agak sulit dihasilkan oleh orang yang plin-plan alias tidak tegas. [Kutipan Buku Genap2]

Ini Semua Bukan Tentang Kamu Atau Aku yang Banyak Kekurangannya, Tapi Bagaimana Sikap Kita Dalam Menghadapi Kekurangan Kita Masing-Masing.

Kita memang tak pernah tahu siapa ditakdirkan untuk siapa, tapi takdir tak selalu berupa intervensi Tuhan terhadap makhlukNya. Ada juga takdir yang disebut dengan sunatullah, takdir berupa hasil dari apa yang kita usahakan. Siapa jodoh kita memang sudah tercatat rapi di lauhul mahfudz sana, tapi bagaimana seseorang sampai pada jodohnya tentu saja tergantung dari usahanya. Jika belum sampai, mungkin itu adalah kode, kalau ada sunatullah yang belum dipenuhi, ada ikhtiar yang masih belum disempurnakan, ada doa yang tak sempat dilantunkan.

Bahkan jika merasa segala upaya sudah dicoba, tapi tak kunjung jua sampai pada jodohnya; tetaplah berusaha dan berdoa. Jangan khawatir, karena ada pahala dalam setiap doa dan usaha, ada sederet kesabaran dalam proses menunggu, ada kekuatan yang tersembunyi dibalik ujian. Tetaplah berusaha, Sayang. Sambil menyerahkan segala urusan pada-Nya, maka yang terbaik akan datang dalam kehidupan kita. Entah itu urusan jodoh, atau yang lainnya. [Kutipan Buku Genap]

Baca Rekomendasi :   Jodoh Itu Sudah Tertulis di Lauhul Mahfudz, Begitu Juga Dengan Pasanganmu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page