Kami Berikan Jasa Kami, Tolong Jangan Tolak Jasad Kami

Benar sih, orang yang berilmu dan beriman beda derajad dengan hanya yang beriman

Perawat Covid 19
0 213

Sangat pilu melihat warga berdebat dengan Bupati karena warga sekitar tidak terima dengan korban meninggal + covid19. Anda pasti tau kalau proses penguburan adalah Fardhu Kipayah, Hukumnya wajib, jika tidak dilakukan umat Muslim seluruhnya akan bertanggungjawab.

Binatang saja dikubur jika meninggal dunia, tau sendiri kan sebagian besar orang yang sudah kalah secara fisik melawan pandemic ini adalah mereka pahlawan alias petugas kesehatan yang rela berkorban nyawa dan meninggalkan keluarga demi menjalankan tugasnya, ada was-was di hati mereka ketika menjalanjkan tugas? pastinya, akan tetapi demi ikrar mereka dan sumpah jabatan/ profesi.

Sedangkan anda hanya sibuk tidak mengizinkan untuk dikebumikan di wilayah anda, yang punya tanah elo, lebih berkuasa dari pemimpinnya loh. Sebenarnyab mereka itu kenapa ya?, miskin informasi kah, tidak punya hati atau apa!.

Amit-amit terjadi, jikapun tertular ke anda karena menerima jasadnya, itu bukan aib, malah sesuatu perjuangan teramat besar dalam hidupmu. Lalu anda pikir korban yang meninggal tertular dari mana? Apakah dia kepingin, tentu tidak, dia juga pasti tertular atas ketidak tahuan dan ketidak inginannya, dipastikan besar bukan karena tertular karena menerima jenazah di pekuburan sekitarnya.

Benar sih, orang yang berilmu dan beriman beda derajad dengan hanya yang beriman. Salam atas kegalauan saya melihat beberapa kekonyolan belakangan ini.

Artikel ini merupakan status facebook dari Rahmad Hamidi, Semoga bermanfaat ya sahabat baper.

***

Jika Kamu Ingin Membantu Indonesia dan Passion Kamu Adalah Rebahan, Ini Kesempatanmu.

Nggak selamanya “rebahan” itu menimbulkan stereotip negatif loh, di saat pandemik coronavirus disease 2019 seperti ini, kaum rebahan malah justru lebih baik dari para covidiot. Udah nggak asing lah ya, sama julukan covidiot.

Buat yang belum tau, covidiot itu sebutan buat stupid person who stubbornly ignores ‘social distancing’ protocol, thus helping to further spread covid-19, atau bisa juga buat stupid person who hoards groceries, needlessly spreading covid-19 fears and depriving others of vital supplies.

E tapi, meski rebahan #dirumahaja dalam situasi seperti sekarang ini sangat diapresiasi, jangan lupa untuk tetap produktif dan jangan wasting time ya. Ayo jadikan #selfquarantine mu jadi makin bermanfaat.

Nah, Lantas Apa Kata Netizen dan kaum rebaha, berikut sebagian admin kutip dari instagram.com @muslimmyway.

bariqsutianto Kapan lagi ya kan akhi, nyelametin dunia dengan rebahan

alyhst.aliyah, Untung introvert. Selfquarantine udah biasa 🤣
diparuru18, Yaa Allah aku rebahan saban hari karena pengangguran ternyata ada bagus nyaa 😭 (untuk saat ini)

 

****

Mengatasi Virus Corono, Pilih Belajar Dari Korea Selatan Atau China?

Adakah negara yang berhasil mengendalikan corona dengan lockdown total? Ada. China. Tanpa ampun. Lockdown. Sejauh ini mereka berhasil mengendalikan penyebaran virus. Rusuh diawal, benar2 rusuh, tapi dua bulan berlalu, mereka berhasil membuat kurva penyebarannya melandai. Bertambah hanya 0,1% per hari.

Adakah negara yang berhasil mengendalikan corona tanpa lockdown total? Ada. Korea Selatan. Kunci sukses mereka di test massal. Dengan test massal, mereka bisa tahu peta penyebaran dgn detail. Mereka juga sangat terbuka informasinya, dengan keterbukaan, masyarakat bisa terlibat dengan baik, termasuk sukarela melakukan social distancing. Kurva penyebarannya landai sekali sekarang, bertambah 1-2% saja per hari. Terkendali.

Nah, dari dua pilihan strategi itu, sekarang pertanyaannya: mau pilih yang mana?

Jika mau pilih lockdown, resikonya jelas. Sudah ada UU-nya. Tinggal keluarkan PP.

Jika mau pilih model Korea Selatan, juga sudah jelas. Artinya, dengan penduduk Indonesia 270 juta, dengan asumsi butuh 10.000 test per 1 juta penduduk, bersiaplah utk test, 2,7 sampai 3 juta orang. Harus cepat, prioritaskan Jakarta, Jabar, Banten. Korea Selatan bisa melakukan 10.000 – 20.000 test per hari. Cepat sekali, taktis, kongkrit. Indonesia? Ini pertanyaannya. Informasi yg saya punya baru 20.000-an yang di test. Entah berapa aktualnya di lapangan. Apakah 20.000 ini termasuk rapid test, atau hanya spesimen yg dikirim ke pusat. Penting sekali keterbukaan informasi ini.

Test ini tidak simpel seperti yang terlihat. Itu butuh tenaga, anggaran, dsbgnya. Jadi Korea Selatan mengerahkan resources, juga anggarannya untuk mensupport test massal tsb.

Silahkan dipilih. Mau lockdown total, atau demokratis seperti Korea Selatan. Karena rasa2nya baru dua negara ini yg jumlah pertambahan pasiennya landai sekali. Negara2 lain masih dua digit.

Nah, apakah ada negara yang berhasil tanpa strategi yang jelas? Lockdown tidak, test juga lambat. Sayangnya sejauh ini tidak ada. Karena bahkan sudah lockdown pun, tidak ada jaminan pandemi ini bisa dikendalikan dengan cepat. Pun sudah test banyak pun, juga tidak ada jaminan. Apalagi jika tidak kedua-duanya.

Kita mau pandemi ini cepat selesai. Anak2 bisa sekolah lagi, usaha bisa dimulai lagi, pekerjaan bisa dilakukan lagi, dsbgnya. Saya, kamu, kita semua seharusnya satu prinsip tentang itu. Pun, seharusnya, kita semua satu prinsip tentang: masalah ini serius. 40 tahun terakhir, tidak pernah ada di Indonesia ini, anak2 sekolah diliburkan 2 minggu. Ini malah diperpanjang lagi mungkin jadi 1 bulan, 2 bulan. Itu artinya 40 tahun terakhir, baru kali ini terjadi. Maka itu serius. Tidak ada waktu lagi buat santai, corona dijadikan bahan lucu-lucuan oleh pejabat, seperti dua bulan lalu. Lupakan masa2 itu, mari serius.

Nah, yang mungkin kita tidak satu prinsip di kepala adalah: bagaimana mengatasinya. Itu ada dua opsi, dan dua-duanya sudah ada contoh suksesnya. Jika tidak mau lockdown, maka tirulah Korea Selatan. Lakukan test massal. Besok 10.000 di test, lusa 20.000 lagi. Tanggal 30 April misalnya, sudah setengah juta di test di seluruh Indonesia.

Tolonglah kongkrit. Percepat test di lapangan. Bukan cuma bombastis bilang, sudah ada 1 juta alat testnya, sudah ada sekian juta ini dan itu. Seminggu berlalu, moso’ baru belasan ribu yang di test. Karena dengan FAKTA jumlah test yang tinggi, itu pesan kepada seluruh rakyat, pemerintah serius, loh. Kita mainnya pakai data, fakta. Dan pastikan test ini sesuai standar internasional.

Akhirul kalam, saya, kamu, kita semua, seharusnya semua pengin ini cepat selesai. Tidak ada yang mau berlama2 mendekam di rumah. Ada yang mau berkumpul lagi dgn keluarganya, ada yang mau beribadah lagi di rumah ibadah masing2. Dan siapa yang paling diharapkan mengambil keputusan soal ini? Pemerintah.

Dulu, orang-tua sering menasihati: ketahuilah, saat orang marah terhadap sesuatu, boleh jadi itu bukti betapa peduli dan sayangnya dia. Justru yang tiap hari hanya memuja-muji, boleh jadi malah menjerumuskan.

*Tere Liye

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page