Aromamu Yang Sering Membuat Rindu. Sayangnya Kini Bukan Lagi Milikku

  • Bagikan
Cinta kembalilah
Cinta kembalilah via instagram.com @mata_raisha

“Jadi, pilih mana, aroma buku atau aroma aku?” Jo tersenyum penuh kemenangan melihat bagaimana ekspresi Aura mendengar tawarannya barusan.

“Kenapa harus milih kalau bisa dua-duanya?”

“Karena kamu nggak boleh egois. Harus pilih salah satu.” Jo masih memaksa Aura untuk memilih. Bahkan mereka berbincang masih di tengah pintu karena Jo baru saja pulang bekerja.

“Oke oke. Aku pilih kamu aja. Karena kamu yang ada disini sekarang. Kalau pilih buku, kan kita lagi nggak boleh boncengan buat ke toko buku. Huft, PSBB tuh memuakkan.” Aura memasang raut wajahnya yang kesal. Ia kemudian memeluk Jo yang baru pulang. Masih masam. “Bau ih. Mandi gih.”

Jo kini melangkahkan kaki masuk kedalam. Menaruh ranselnya, lalu mengeluarkan bungkusan plastik. Aura yang menyadari plastik yang di bawa Jo kemudian menghambur, mendekat. Ia kemudian memasang wajahnya tersenyum begitu lebar.

“Nih, buat tuan putri yang udah mulai mati gaya.” Jo menyodorkan plastik berisi buku yang tadi ia beli. Ada 5 eksempelar buku. Buku-buku yang sejak lama Aura inginkan tetapi selalu ditunda untuk Aura beli.

“Wooooo, banyak banget bukunya. Hihihi. Makasih.” Aura mendekap buku-buku dalam plastiknya erat. Ia kemudian melihat-lihat, memilih buku mana yang akan ia buka lebih dulu.

***

Ponsel Jo berdering. Aura tak menghiraukan karena ia masih berkutat dengan buku baru yang Jo belikan. Hanya saja, Aura menyadari satu hal. Nada deringnya berbeda dari biasanya. Aura kemudian mengenyahkan pikirannya, lalu kembali larut dalam cerita pada buku yang sedang ia baca. Tak lama kemudian,ponsel Jo berdering untuk yang ke-dua kalinya. Dengan nada dering yang familiar di telinga Aura. Ia yang penasaran kemudian menutup buku, meraih ponsel Jo. Nama ibu tertera pada layar.

Baca Rekomendasi :   Aku Memilih Cita Daripada Cinta, Karena Aku Yakin Ia Akan Datang Tepat Pada Waktunya

“Ibu telpon nih. Mau aku angkat?” tawar Aura. Tetapi belum juga Jo menjawab ia berubah pikiran. “Nggak jadi ah. Malu sama ibu.”

Nada panggilan itu berhenti. Jo yang baru selesai memasak makanan kemudian menghampiri mengambil ponselnya. Melakukan panggilan pada ibu.

“Ayo makan. Udahan dulu baca bukunya.” Jo menarik Aura mendekat. Aura memang selalu lupa diri jika sudah mulai tenggelam dalam buku yang ia baca. Mereka berbincang sembari makan. Sesekali terdengar tawa. Lalu kemudian hening karena mereka kembali fokus pada makanan.

Usai menyantap makanan, mereka pun kembali melanjutkan obrolan. Aura yang sedang merasa begitu bahagia kemudian memeluk Jo erat. “Makasih udah dateng.”

Jo membalas pelukan Aura. “Kamu kangen ya? Abis kemarin marah-marah gak tau kenapa terus sekarang jadi jinak gini mentang-mentang udah makan?”

Aura yang kesal karena kesan romantisnya di rusak oleh Jo kemudian melayangkan cubitan pada punggung Jo dengan cukup keras. Ia kemudian memeluk Jo erat, lagi. Membenamkan kepalanya di dada Jo. Waktu terasa berhenti sejenak. Aura merasa seperti pulang, dalam tenang. Bersama dengan aroma Jo yang begitu ia kenal dan sering dirindukan.

Baca Rekomendasi :   Aku Mencintaimu Sejak Pertama Pesanmu Masuk ke Dalam Ponselku

***

Malam belum berkenan beranjak. Waktu terasa begitu lama untuk berganti menjadi pagi. Aura menahan sesak yang sejak tadi datang. Air matanya tak hentinya mengalir membasahi pipi. Ia sesak, menahan rindunya kepada Jo. Bahkan ia tahu, bahwa kini rindunya tak boleh lagi hadir. Malam yang dingin membuatnya memeluk dirinya semakin erat. Mengingatkannya pada pelukan Jo yang sering Aura dapat, yang kemudian membuatnya tenang kemudian. Hanya saja, ia tahu, bahwa peluk itu kini bukan lagi menjadi miliknya.

Dering ponsel Jo hari itu yang terdengar berbeda ternyata dari seseorang yang entah sejak kapan kini menjadi milik Jo. Aura yang merasa di khianati, yang kini perasaannya begitu bercampur baur hanya terdiam kala ia mengetahui banyak hal yang di sembunyikan Jo darinya. Ia merasakan kakinya tak lagi mampu menopang dirinya sendiri untuk tetap tegak. Amarahnya begitu memuncak, hanya saja Aura tak tahu apa yang baiknya ia lakukan.

Ia merutuki dirinya sendiri. Menyalahkan dirinya yang bisa saja menjadi alasan mengapa Jo melakukan hal serupa kepadanya. Pikirannya di penuhi banyaknya kemungkinan- kemungkinan yang berakhir pada tak ia temukan jawaban.

“Karena gue kurang perempuan ya? Terlalu tomboy ya? Gue gak bisa masak ya? Gue sering marah dan kesel sama dia ya? Gue nggak bisa kaya perempuan kebanyakan ya? Gue gak pinter? Gak bisa ngimbangin dia? Gue gak menarik? Apa karena waktu itu sempet LDR karena gue milih resign?”

Baca Rekomendasi :   Aku Tak Pernah Membencimu, Meski Tak Rela Dia Memilikimu

Pikiran Aura di penuhi hal serupa, Ia hanya terdiam, menatap dirinya pada kaca. Merutuki betapa bodohnya ia. Setelah banyak hal yang terjadi di hidupnya, Aura yang bertemu dengan Jo seperti menemukan apa yang hilang. Ia kemudian berusaha untuk kembali mempercayai Jo, melupakan masa lalunya. Bagaimanapun yang terjadi, Aura selalu berusaha mempercayai apa yang Jo katakan. Hanya saja, hari itu, saat Aura mengetahui banyak hal yang Jo sembunyikan, kepercayaannya seketika hancur tak bersisa. Ia merasa di permainkan. Hingga kemudian, sakit di dadanya membuatnya tertawa masam.

“Bukankah ini salahmu sendiri? Sejak awal berani melanjutkan hubungan tanpa tahu apa namanya. Sejak awal menaruh hati kepadanya tanpa sisa padahal ia sendiri sudah memperingatkanmu jauh-jauh hari. Jadi sekarang siapa yang salah? Dirimu sendiri Aura. Dirimu sendiri!!”

Aura memeluk dirinya. Menangis. Merasakan begitu sesak dadanya. Sayangnya, walaupun kini ia merasa begitu sakit, ia tak membenci Jo sedikitpun. Sesaknya semakin bertambah, saat disana, masih ia temukan rindunya yang sama besarnya untuk Jo seperti biasa.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page