Dibalik Kebahagianmu Bersamanya, Aku Masih Terpuruk Dengan Semua Ini

  • Bagikan
Sendiri menyimpan luka
Sendiri menyimpan luka via instagram.com @ain.photo

Kau tahu. Tempo hari dalam liburan ku bersama keluarga di daerah Bandung Selatan, dengan panorama bebukitan yang menentramkan, di bumbui lukisan hamparan kebun teh yang menyejukkan, rupanya masih belum mampu membuat jiwa ini siuman, jiwa ini masih tak sadarkan diri semenjak kau tinggalkan.

Kau tahu, disana ayah bercerita tentang kunang-kunang. Mahluk yang katanya begitu istimewa, tapi kini telah tiada, yang tersisa hanya kenang. Dan Ayah bilang, mereka para pecinta kunang-kunang hanya mampu ikhlas merelakan kekasih hatinya yang telah hilang.

Lemah sekali bukan, mereka hanya bisa pasrah melihat kenyataan, lalu dengan bangga berseloroh cerita kepada kita-kita anak muda, bahwa cinta sejati itu adalah mengikhlaskan, terdengar terlalu naif rasanya bukan.

Atau memang Iya, bahwa seorang pecinta ulung adalah dia yang bukti cintanya adalah kerelaan, dalam kehilangan, dalam penantian, dalam kesabaran.

Jika begitu, lalu mengapa sampai saat Ini aku masih belum sanggup merelakan, padahal rasanya dalam hidup ini, tak pernah ada orang yang mendapatkan cintaku melebihimu. Bahkan aku yakin, akulah orang yang paling megah mencintaimu.

Baca Rekomendasi :   Kepadamu Ku Titipkan Dirinya, Semoga Bersamanya Kau Temukan Bahagia

Hingga untuk merelakan mu, aku masih belum tau apakah aku akan mampu.

***

Menurut ku bukti mencintai adalah berusaha memiliki, bukti mencinta adalah berada disampingmu dalam bingkai bahagia.

Sendiri menyimpan luka
Sendiri menyimpan luka via instagram.com @ain.photo

Tapi ayah bilang, itu bukan cinta, itu adalah nafsu. Yng aku cintai sebenarnya hanya diriku sendiri, yang gaboleh ditinggal pergi, yang gabisa dibiarkan sendiri. Dan mereka, para pujangga dengan kunang-kunang nya tidak seperti itu.

Jika waktu memang mengharuskan kunang-kunang pergi, kemudian hilang tak pernah kembali, maka mereka para pencinta akan senantiasa bahagia, sebab sesak kehilangan itu adalah resdiu dari megahnya rasa cinta yang mereka bangun, ada kepuasan yang membahagiakan. Semakin dalam mereka tenggelam dalam lautan sesak, mereka akan semakin bahagia. Sebab mereka telah memberikan seluruhnya untuk yang mereka cinta.

***

Itulah kata-kata ayah yang sampai saat ini masih belum ku pahami, ditengah umbaran potret bahagia sebagai pengantin baru yang kau upload pada akun media sosialmu, aku menulis ini. Masih tentang mu, dan dengan sesak ku.

Baca Rekomendasi :   Tanpa Perlu Kamu Tahu, Namamu Masih Selalu Kusebut Dalam Sujudku

***

Melupakanmu, Aku Lakukan Perlahan Sayang

Setahun berlalu, setelah tanggal yang kau lingkari sebagai hari yang bersejarah dalam hidupmu itu kau lewati. Detik itu, dirimu telah genap. Kalian sah menjadi sepasang, ibarat lagu dengan lirik nya, debur ombak dengan batu karang nya, malam dengan gelapnya, dan gemintang dengan kerlip cahayanya, kalian nampak begitu serasi, satu sama lain saling mengisi, cantik dan tampan, dengan hias senyum bahagia yang kalian tampak kan, di lengkapi dengan sanak saudara yang berbondong berebut saling menimpali do’a yang secara langsung kalian Aamiin kan.

Hari itu, benar-benar akan jadi hari paling berkesan untuk kalian. Dan bagiku, hari itu menjadi hari yang terasa begitu kelam, aku hidup tapi tak mampu merasakan apapun, seolah mati, terbunuh cabikan perasaan yang tak bertuan. Tak berdarah namun terlihat begitu parah. Hingga meski selamat, sudah setahun lukanya masih begitu menganga.

Baca Rekomendasi :   Kini Semua Berbeda, Kamu Berubah dan Kecewaku Makin Membuncah

Tidak mudah berhenti mencintaimu, sosok yang telah kujadikan ratu di singgasana hati, nama yang selalu ku langitkan dalam tiap sujud, dan arah yang selalu ku tuju, perlu waktu dan jalan yang panjang bahkan berliku, penuh belukar kenang yang begitu menyakitkan dan menyesakkan dada, sembari dihujani rintik tawa bahagia yang begitu deras darimu dan dia di sana, bagiku semua ini terasa semakin tidak mudah.

Namun meski begitu, kupastikan akan ku lakukan, sebab kini haram bagiku untuk mengharapkanmu, jalan menujumu adalah jalan nerakaku. Bagiku takdir terasa begitu nestapa, ntah mengapa dalam hatiku semesta menjadikan mu teramat istimewa, sementara aku di hidupmu, bukan apa-apa.

Kini berhenti mencintaimu akan ku lakukan secara perlahan, do’a terbaik selalu kupanjatkan kepada Tuhan untuk mu, dariku yang untuk cemburu pun sudah tak kau ijinkan, sebab Aku yang hanya mampu memberimu sayang, harus rela kalah oleh dia yang memberimu uang.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page