Cinta Perlu Pengorbanan Bersama, Hingga Tuhan Berikan Takdir Akhirnya

  • Bagikan
Cinta perlu pengorbanan
Cinta perlu pengorbanan via instagram.com @javaphotography

Aku tak tahu, sejak kapan, aturan-aturan itu berlaku. Perihal perempuan yang hanya boleh menunggu. Karena katanya, takut-takut jika perempuan berusaha lebih dulu, ia hanya akan menanggung malu jika cintanya tak seperti yang ia mau. Perihal pria yang seharusnya berjuang lebih banyak, lebih keras, karena itu menunjukkan bagaimana ia sebenarnya menginginkan seseorang yang ia cinta. Padahal, kadangkala, pria juga ingin sesekali menjadi ia yang menerima. Menerima pernyataan cinta atau bahkan ia jua ingin merasakan diperjuangkan pula.

Aku tak tahu, sejak kapan aturan bahwa perempuan sudah seharusnya menjadi seperti kodratnya. Yang mampu memasak banyak makanan enak, menjadi cantik, memanjakan mata. Padahal, tak semua perempuan punyai kelebihan yang sama. Akan ada banyak stigma beterbangan baginya, jika ia memilih untuk menjadi berbeda. Aku juga tak tahu, sejak kapan seorang pria yang seharusnya banting tulang lebih keras. Menjadi sumber semua pembayaran dari setiap transaksi yang ada. Mereka bilang, gengsi di junjung tinggi jika ia tak mampu berikan yang di pinta.

Baca Rekomendasi :   Semakin Kekasih di Kekang, Semakin Dia Selingkuh dan Nakal

Menanggung Bersama Menjadikannya Terasa Lebih Ringan Adanya. Karena Cinta Adalah Apa Yang Sepatutnya Diperjuangkan Hingga Akhirnya Tiba

Bertemu denganmu membuatku tak lagi harus terkurung dalam stigma yang ada. Kita adalah dua manusia yang saling menyadari bahwa kita adalah makhluk yang berbeda. Dengan banyaknya kelebihan dan kekurangan yang ada. Dan tanpa sadar, kita saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Bersama denganmu, aku tak lagi perlu takut untuk turut serta berusaha. Karena nyatanya, menyadari bahwa perjalanan kita adalah cerita yang tak mudah, membuat kita menjadi saling menghargai satu dengan lainnya.

Cinta perlu pengorbanan
Cinta perlu pengorbanan via instagram.com @javaphotography

Ada bahagia yang tak mampu kuungkapkan jelas dengan kata-kata. Perihal bagaimana rasanya perjalanan kita beriringan, terasa seimbang. Karena kita yang memilih untuk mengusahakan segalanya bersama, mengisi ruang kosong satu dengan lainnya, tanpa takut perihal stigma yang ada. Menjadikan rasa yang kita punya, kini terasa lebih bermakna karena kita yang memilih untuk mengusahakan bersama.

Baca Rekomendasi :   Dia Bukannya Menghilang, Hanya Saja Kamu Bukan Prioritasnya

Ada Banyak Cerita Yang Telah Berlalu, Menjadikan Kita Tetap Bersatu. Kini Biarkan Tuhan Yang Menjadi Akhir Dari Penentu Sebuah Takdir

Cerita kita tak mudah. Sesekali mungkin lebih memilih menyerah dibandingkan terus berusaha susah payah. Hingga kadangkala, kita memilih untuk beristirahat sejenak. Melihat segalanya dari berbagai arah. Membuka pikiran, menurunkan ego. Hingga maaf dan saling memaafkanlah yang kini menjadi awal dari setiap kesempatan baru. Membawa kita bersama untuk terus melanjutkan segala hal yang telah kita usahakan bersama-sama hingga di titik yang tak pernah kita duga sebelumnya.

Pertemuan kita menjadi awal cerita yang tak pernah terduga. Perihal dua manusia yang mencinta dengan cara yang berbeda. Bahkan mungkin, kita adalah dua yang tak mengikuti stigma yang ada. Karena pada akhirnya kita begitu menyadari, bahwa rasa yang ada adalah sepenuhnya menjadi tanggungjawa kita. Menjadi apa yang seharusnya kita jalani tanpa perlu melibatkan mereka yang bahkan mungkin tak mengenali kita sebaik-baiknya.

Baca Rekomendasi :   Istri Minta “Duluan” Ternyata Pahalanya Sangat Besar Bahkan Jadi Tiket ke Surga

Hingga pada akhirnya, setelah banyaknya perjalanan yang ada. Setelah kita yang sampai pada titik waktu tak terduga. Kita hanyalah dua manusia yang tetap tak mampu melewati takdir Tuhan. Apapun takdir Tuhan pada akhirnya, setidaknya semoga tak pernah ada penyesalan yang terlintas karenanya. Sebab kita pernah mengusahakan rasa bersama-sama. Menjadikannya berharga bagi satu dengan lainnya. Semoga Tuhan pula, berkenan menjadikan kita adalah pelabuhan satu dengan lainnya. Saling melengkapi hingga ajal tiba.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page