Mangejar Matahari Tenggelam di Nusa Tenggara Timur

Pantai Outune
0 41

Perpaduan langit kuning keemasan di saat senja selalu memacu andrinalin dengan perpaduan antara laut hijau kebiruan dan langit biru dengan awan berarak putih laksana gadis elok untuk selalu minta di foto, dan bagi pencinta landscape, matahari tenggelam di Pulau Timor akan memenuhi hasrat untuk mengabadikan keindahannya.,

Akhir tahun 2019 kami (saya, istri dan anak 7 tahun sebagai team, as usual) sudah fix akan melakukan perjalanan ke Sumba, tetapi seperti perjalanan perjalanan sebelumnya, berkenaan dengan biaya perjalanan dari Samarinda yang menguras kantong, maka harus ada spilt of untuk menambah lokasi di sekitar Sumba, dan memang Pulau Timor sudah lama menjadi impian karena terkenal akan sunset yang indah, dan akhirnya jadwal tersusun dengan cantiknya, 2 hari di Pulau Timor, 4 hari di Sumba dan baliknya mampir ke Bali pas akhir tahun 31 Desember untuk hunting firework, Perfecto !!!

Dengan telah beroperasinya bandara Samarinda, sunggung sangat membantu bagi traveler, tidak perlu lagi ke Balikpapan sehingga sangat menghemat waktu, perjalanan dari Samarinda Kupang transit Surabaya berjalan lancar, kami mendarat di Bandara El Tari Kupang dan langsung di jemput driver yang sudah kami kontak sebelumnya, kami memang rencana memakai mobil sewaan dengan driver sebagai guide karena hasik research sarana transportasi umum sangat minim/tidak ada untuk menuju lokasi yang akan kami tuju, dan juga untuk flexibilitas explore lokasi.

Pantai Tablolong.

Pantai Tablolong
Pantai Tablolong

Sore itu rencana kami akan menikmati sunset di Pantai Tablolong, dalam perjalanan dari bandara kami mencari makan terlebih dahulu dan sesuai kebiasan kami sebagai muslim biasanya ada 2 opsi rumah makan untuk makan, rumah makan Padang dan Seafood, dan Alhamdulillah di Kupang kedua tipe Rumah makan tersebut banyak dijumpai, maka siang itu rumah makan padang sebagai menu makan siang kami menjelang sore di Kota Kupang.

Perjalanan dari Kupang Ke Pantai Tablolong hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja, jalan lumayan bagus tetapi menjelang pantai Tablolong jalan mulai berlubang, dan sekitar 2 km sebelum masuk pantai melewati jalan dengan pengerasan batu saja, sebelum masuk ke jalan batu ada pos tiket masuk ke Pantai, kami membayar 20 ribu untuk all in 1 mobil dan di pantainya membayar lagi untuk parkir dan tiket all in kami bayar 25 ribu.

Pantai Tablalong sangat ikonik dengan pondok istirahat yang sangat fotogenik, pantai yang bersih dangan pasir yang lembut di tepi air laut biru kehijauan sungguh kombinasi yang menakjubkan, dan seperti biasa kami mulai explore pantai yang menakjubkan tersebut, sambil menikmati keindahan dalam frame kamera kami juga mengawasi si kecil yang sudah mulai bermain air, karena kami datang sudah menjelang sore, maka pengunjung sudah mulai sepi, tinggal sekitar 4 keluarga yang menikmati suasana menjelang sunset, dan kami beruntung karena sunset sore itu sangat bagus dengan step by step matahari bulat turun diperaduannya diselingi awan yang berarak.

Baca Rekomendasi :   Pesona Danau Maninjau, Keindahan di Ranah Minang yang Menawan

Kami menikmati suasana sunset tersebut sampai final, sampai pantai benar benar gelap dan tinggal kami saja yang tinggal di pantai. Kami kembali ke Kupang untuk menikmati makan malam di sebuah restoran sea food yang menggugah rasa sebagai penutup hari pertama yang sempurna, hari pertama di Kupang yang menakjubkan.

Hari kedua Kami rencana mengejar matahari terbenam di Pantai Oetune dan Pantai Kolbano, yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan, tetapi sebelum menuju kedua lokasi tersebut yang sebanarnya berdekatan, kami menyambangi dulu Gua Cristal.

Gua Cristal

Gua Kristal Kupang
Gua Kristal Kupang

Dari Kota Kupang hanya berjarak 30 menit perjalanan, berkenaan pas menjelang Natal sampai lokasi sepi sekali, yang jaga pun tidak ada, padahal driver sudah kontak sebelumnya akan ada tamu yang datang, terpaksa driver minta tolong warga sekitar untuk bisa menghubungi yang jaga karena gua cristal masih dikelola warga/pemilik tanah. Setelah menunggu sekitar 30 menit akhirnya yang jaga datang dan kami baru bisa masuk, tiket 10 ribu/ orang dan waktu itu kami berempat termasuk driver kami kasih 100 ribu termasuk untuk guide nemani masuk ke dalam Gua.

Dari mulut gua untuk mencapai kolam sekitar 20 meter turunnya dan cukup terjal, dengan batu yang lembab dan cenderung licin, karena agak repot maka si kecil dan mamanya hanya melihat dari atas saja, saya yang turun sampai kolamnya, di kolam gelap gulita, akan menjadi menarik jika guide yang ada menyinari dengan lampu yang disiapkan khusus, setelah disinari maka baru kelihatan indahnya gua Cristal.

Air jernih laksana cristal akan menarik siapapun untuk masuk kedalam dinginnya air, tetapi berkenaan setelah dari gua Cristal kami akan melanjutkan perjalanan ke Pantai Kalbano yang cukup jauh, maka saya mengurungkan niat untuk berenang di dalamnya, setalah puas mengambil beberapa foto kami keluar dan melanjutkan perjalanan panjang ke Pantai Kolbano yang menurut Google Map membutuhkan waktu 3.5 jam perjalanan.

Baca Rekomendasi :   Inilah Daya Tarik Wisata Keren sekaligus Sejuk Hutan Pinus Mangunan

Pantai Kalbano.

Pantai Kalbano
Pantai Kalbano

Berkenaan dengan hari tersebut adalah hari Jumat, maka sebelum meninggalkan kota Kupang kami mencari Masjid dulu untuk Solat Jumat dan sekalian mencari Warung Padang untuk makan siang. Perjalanan ke Pantai Kolbano sebenarnya menarik, dengan jalan yang relative sempit tetapi mulus berkelok kelok membelah bukit dan kadang hutan, perlu driver yang sudah hafal jalan berkenaan dengan kondisi jalan tersebut.

Setelah perjalanan sekitar 3 jam dari batas kota Kupang akhirnya kami sampai di Pantai Kolbano, perjalanan panjang lenyap seketika begitu melihat pantai dengan kerikil yang berwarna ke-pink-an dan laut yang biru kehijauan menyejukkan mata, kaki yang pegal sepanjang perjalanan langsung lemas dan segar begitu terkena air laut yang dingin.

Di pantai Kolbano disamping terkenal dengan pantai dengan kerikil dipantainya, juga ada batu yang bilangnya menyerupai wajaha singa, tetapi ada yang bilang mirip wajah manusia, dan saya lebih suka dengan pendapat mirip wajah manusia.

Di pantai tersebut juga banyak anak anak yang menawarkan guide untuk menemani memanjat bukit wajah manusia tersebut, dan akhirnya saya sendiri ditemani naik ke atas, sedangkan istri dan anak bermain kerikil ditepi pantai, naik ketas hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menitan, dan tidak terlalu menguras tenaga, hanya saja sepanjang jalan banyak kotoran kambing dimana kambing kambing tersebut juga ternyata senang ke atas, dan benar saja pemandangan dari atas bukit menunjukan pemandangan terbaik pantai Kolbano, gradasi air laut yang biru teduh dan pantai putih sunggung menawan, apalagi dengan langit biru cerah dengan sedikit awan putih menambah kecantikan pantai Kolbano, pantas kambing kambing tersebut suka naik ke bukit ini, mungkin mereka yang pertama menunjukan spot terbaik untuk menikmati Pantai Kolbano.

Sebenarnya kami belum puas bermain dan menikmati indahnya Pantai Kolbano, terutama si kecil yang sedang asyik bermain kerikil dan air dengan anak anak lokal, tetapi berkenaan harus mengejar sunset di Pantai Oetune, maka terpaksa kami meninggalkan pantai Kolbano menuju Pantai Outune yang hanya berjarak 25 menit perjalanan arah kembali ke Kupang.

Pantai Outune.

Pantai Outune
Pantai Outune

Perjalalan ke pantai Outune menjadi bersemangat karena langit yang sebelumnya sempat mendung dan gerimis tiba tiba tersibak menjadi cerah, tiba di pantai Outune pas matahari mulai tergelincir dengan indahnya. Pantai Outune terkenal akan gumuk pasir dan sunsetnya yang indah dan sore itu kami beruntung dapat mengexplore perpatuan keduan dengan indahnya.

Baca Rekomendasi :   Catat Bro! 10 Curug di Bogor yang Keindahannya Bikin Gak Mau Pulang

Untuk explore keindahan Outune banyak guide atau lebih tepatnya porter anak anak yang siap membawakan alat fotografi kita, sepertinya Outune sudah menjadi spot fotografi yang terkenal di Pulau Timor sampai anak anak sebagai poter sudah familiar dengan istilah fotografi dan juga spot terbaik mengambil foto, akhirnya saya minta ditemani 2 anak untuk menjadi porter, ternyata istri juga minta ditemani juga 1 anak porter, dan si kecil malah minta ditemani 2 anak untuk menemani bermain sambil kami minta diawasi driver kami, jadi total kami membawa 5 porter anak sore itu.

Sepanjang sunset tersebut kami explore keindahan pantai Outune sampai benar benar sepi, sampai semua pengunjung benar benar habis, dan rencananya mau menunggu milky way tetapi ternyata tidak muncul, setelah puas menjelajah kami kembali ke Kupang, ada beberapa guide anak yang ikut menumpang mobil kami sampai kampung mereka, ternyata antara pantai dan kampung mereka cukup jauh, sekitar 5-6 km dan mereka biasa jalan kaki kadang sampai gelapnya malam tergantung permintaan tamu, sunggung pengalaman berharga bagi si kecil mendengarkan dan juga merasakan perjuangan anak anak Pantai Outune dalam mencari tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Perjalanan kembali ke Kupang malam itu sunggung meninggalkan kenangan 2 hari memburu matahari tenggelam yang Alhamdulillah diberi cuaca yang bagus dan sekaligus membuktikan bahwa sunset di Pulai Timor sungguh menakjubkan.

Malam itu masih ada satu lagi agenda yang mesti kami tuntaskan, yaitu makan seafood di pasar malam dekat pelabuhan Kupang, dan makan malam yang telat (sudah jam 23,00 wit) tetapi nikmat dengan ikan dan cumi bakar dengan sambal pedas menjadi penutup hari yang tak akan terlupakan. Besok subuh kami harus kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Sumba. Sumba, kami datang…….( continue Sumba episode)

Artikel ini merupakan cerita perjalanan dari Abdul Aziz di Grup Backpaker Nusantara dan sudah di izinkan tayang di bapermulu.com . Kamu punya cerita perjalananan, bisa kirim tulisan kamu tayang disini ya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page