Belajar Dari A World of Married Couple, Selingkuh Itu Menghancurkan Segalanya

Secantik apapun, sekaya apapun, sepintar apapun, sebaik apapun, semahir apapun anda dalam pekerjaan rumah tangga, anda gak bisa menjamin pasangan anda gak akan selingkuh.

Belajar A World of Married Couple, Selingkuh Itu Menghancurkan Segalanya via dramabeans.com
0 71

Meski drama korea A World of Married Couple sudah berakhir dengan 16 Episode. Ternyata masih sangat banyak yang belum kita ketahui, jika di tonton ulang lagi. Banyak pembelajaran hidup yang bisa kita ambil dari masing-masing tokoh. Sebut saja bagaimana cara mengahadapi suami yang selingku dari Ko Ye Rim.

Begitu juga dengan keluarga pameran utama,  Ji Sun Woo seorang dokter yang sukses dan menjabat sebagai kepala asosiasi dan masih mampu menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang baik. Dia masih menyiapkan sarapan untuk anaknya Lee Joon Young dan suaminya Lee Tae Oh.

Sun Woo adalah sosok yang sempurna, selaian berpenghasilan tinggi dan menghidupi keluarganya di lingkungan yang mewah di Gosan. Dia juga berlaku baik dengan mertuanya dan membiayai seluruh pengobatan sang mertua meski akhirnya pil pahit yang harus dia rasakan. Bagaimana seorang mertua bisa memperlakukan menantu dengan cara seperti itu, sudah jelas anaknya yang selingkuh tetapi dia tetap membelas habis-habisan anaknya.

Dari kelaurga  Ji Sun Woo – Lee Tae Oh – Lee Joon Young dapat kita pelajari hal-hal berikut ini.

1. Selingkuh itu pilihan sadar. Gak ada tuh, istilah “khilaf”.

2. Secantik apapun, sekaya apapun, sepintar apapun, sebaik apapun, semahir apapun anda dalam pekerjaan rumah tangga, anda gak bisa menjamin pasangan anda gak akan selingkuh.

Jelas, apa kurangnya Ji Sun Woo? Sebagai wanita karir yang karirnya sukses banget, udah dokter, jadi associate director pula, ia juga merupakan ibu rumah tangga yang baik. Ia masih memasak, membersihkan rumah, melayani suami, dan lain-lain. Superwoman banget. Tapi Lee Tae Oh tetap selingkuh. Kenapa?

3. Selingkuh itu gambaran inferioritas diri, kurang bersyukur, dan/atau tidak menghormati pasangannya.

Menurut saya, Lee Tae Oh memiliki gejala narsisistik yang dasarnya dari inferioritas sebagai mekanisme kompensasi. Ia membutuhkan banyak validasi dari luar untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Ditambah dengan budaya toxic masculinity yang masih cukup kental di negara-negara Asia.

Sedari kecil mungkin Lee Tae Oh sudah merasa inferior—ia dibesarkan oleh ibu single, yang sudah dijelaskan pada cerita bahwa janda punya stigma jelek di masyarakat Korea Selatan (dan negara-negara Asia lainnya). Ia juga kekurangan figur ayah yang membuatnya menjadi kurang percaya diri. Ditambah, pekerjaannya tidak menentu dan tidak selalu menghasilkan, jadi ia mungkin merasa gagal dalam hidupnya.

Hal ini diperparah dengan perannya yang sudah menjadi suami dan normalnya suami yang menanggung finansial keluarga, namun pada kasus keluarganya, Sun Woo lah yang menjadi tulang punggung utama keluarga. Sun Woo membiayai proyek film Tae Oh juga, kan. Tae Oh makin merasa inferior, merasa tidak punya power, dan tidak punya kontrol.

Baca Rekomendasi :   Bikin Heboh! Artis Cantik Korea Ini Rekomendasikan Flim Dilan 1990

Oh, memang, dari kecil Tae Oh sudah merasa tidak punya kontrol untuk mencegah ayahnya pergi. Sekarang ia merasa “dikendalikan” oleh Sun Woo. Masyarakat juga menganggapnya remeh, terbukti dengan hanya Sun Woo yang disapa saat pesta-pesta. Tae Oh merasa “gagal” sebagai pria yang harusnya lebih dominan di keluarga.

Tak heran ia merasa tercekik—inferioritasnya menjadi-jadi. Ia butuh wanita yang bisa ia kendalikan dan penurut. Itulah alasannya ia memilih Yeo Da Kyung sebagai selingkuhan, karena Da Kyung jauh lebih muda, lebih bisa diatur, dan dasarnya “bucin” banget.

4. Kadang, selingkuh itu bukan karena tidak cinta lagi.

Tapi kebutuhan ego, atau bahkan kebutuhan seksual. Tae Oh selingkuh dengan Da Kyung bukan karena ia tidak cinta Sun Woo, ia hanya merasa tercekik. Merasa tidak maskulin bagi istrinya. Karena narsisistiknya pula, ia merasa butuh dicintai banyak orang.

5. Jangan pernah merasa paling mengenal pasanganmu.

Orang bisa berubah dalam hitungan detik, tergantung Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Anda sudah tinggal dengan pasangan selama apapun gak menjamin kalau anda benar-benar mengenalnya. Bukannya harus curiga setiap saat juga, cuma percayalah pada insting anda ketika ada sesuatu yang dirasa gak beres.

6. Banyak-banyak cross-check tentang pasangan.

Tanya teman, keluarga, rekan kerja, atau siapapun yang mengenal pasangan anda. Kamu mungkin dekat dengan pasangan anda, mungkin pasangan anda cerita satu dua hal penting pada anda, tapi itu tidak membuat anda paling kenal dengan dia. Percayai insting anda ketika anda merasa mulai ada yang salah. Segera lakukan sesuatu.

7. Terbuka dengan pasangan masalah apapun, termasuk finansial.

Tae Oh terlalu sering memanipulasi finansial keluarga, mulai dari mencairkan uang tanpa sepengetahuan Sun Woo, bahkan saat sudah bersama Da Kyung pun demikian.

8. Selektif memilih pasangan.

Tentukan batasan-batasan dan kriteria pasangan yang anda butuhkan (bagi dalam Green Flags, Yellow Flags, dan Red Flags). Ketika anda menemukan Yellow Flags dalam diri pasangan, segera cross-check dan analisis lagi sebelum melangkah. Hati-hati, jangan gegabah. Pikirkan dampak ke depannya. Ketika anda menemukan Red Flags, tinggalkan tanpa babibu, terutama jika pasangan anda selingkuh dan kasar (verbal maupun fisik).

9. Jangan pertahankan rumah tangga demi anak atau demi hal eksternal lainnya.

Yang penting: Gimana kualitas hubungan kalian? Gimana keadaan mental kalian berdua saat kalian bersama? Apakah saling menyakiti? Menurut saya, bertahan di hubungan toksik malah akan melukai anak. Anak tau dan anak bisa merasakan. Anak tau kalau anda tidak bahagia dengan pasangan anda.

Baca Rekomendasi :   It’s Okay Not to be Okay, Drama Korea Tentang Kesehatan Mental yang Dikemas Secara Apik

Sebagai anak yang sayang orang tua pastinya anak ingin orang tuanya bahagia. Lagipula, saat anda tidak bahagia, anda bisa aja emosi dan mempengaruhi psikologi anak anda. Keadaan rumah tangga jadi tidak stabil, tentu membuat anak bingung dan ketakutan. Prinsip saya, happy parents makes happy children.

10. Posisi suami dan istri di rumah tangga sebaiknya setara.

Suami memang pemimpin, tapi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mendengarkan aspirasi orang yang dipimpinnya, dalam hal ini istri dan anak. Selalu diskusikan keputusan apapun yang ingin diambil.

Punya lebih banyak uang gak semerta-merta membuat seseorang jadi dominan. Tae Oh sepertinya merasa Sun Woo dominan karena pekerjaan dan uangnya lebih baik dan bagus dari dirinya, padahal Sun Woo nggak pernah merendahkan Tae Oh sekalipun. Jadi, sebenarnya, istilah dominan dan inferior menurut saya hanyalah bentuk dari ketidakpercayaan diri.

11. Perceraian itu berantakan.

Ribet. Ada harta gono-gini, hak asuh anak, dan lainnya. Korbannya? Tentu anak. Anak yang bercerai cenderung menyalahkan diri sendiri, dipikirnya orang tuanya bercerai karena dirinya. Belum lagi konflik batin karena kekurangan kasih sayang orang tuanya yang sekarang terpecah. Diperparah dengan pasangan baru orang tuanya, anak juga dipaksa harus menerima keadaan. Semua ini terlalu membingungkan untuk anak.

12. Komunikasi dua arah itu penting. Sama siapapun.

Termasuk anak yang anda pikir tidak tau apa-apa. Anak juga manusia, ia punya cara pikir sendiri, punya perasaan sendiri. Tanya pada anak anda apa yang dia rasakan tiap harinya. Tanyakan keinginannya. Diskusikan, dan buang ego anda sebagai orang tua. Ganti mindset harapanmu pada anak menjadi “Yang penting anak saya bahagia, asal ia ada di jalan yang tepat”.

Tugas orang tua hanya mengarahkan, bukan mengatur. Ini saya petik dari cara komunikasi Sun Woo ke anaknya, Joon Young yang terkesan satu arah, tipikal Asian parent yang penginnya anak cuma belajar, belajar, belajar. Sun Woo juga tidak menanyakan perasaan anaknya ketika memutuskan sesuatu.

Saya tau apa yang diputuskan Sun Woo mungkin yang dia anggap terbaik untuk keluarganya, tapi dia lupa ada orang yang mungkin terdampak dan juga memiliki suara. Disaat semua orang kesal dengan Joon Young, saya kasian. Dia ini korban, walau saya tidak membenarkan juga apa yang dilakukan Joon Young yang sering kurang ajar.

Baca Rekomendasi :   How To Buy A Friend Episode 5-6, Nyatanya Persahabatan Ini Hanya Palsu

13. Belajarlah jujur pada perasaan sendiri dan terbuka tentangnya.

Sun Woo adalah wanita tegar dan kuat, semua masalah dapat ia hadapi. Tapi ia sangat mengunci rapat perasaannya, tidak mau berbagi pada orang lain, termasuk anaknya. Padahal, bicara dari hati ke hati juga penting. Walaupun tetap harus dibatasi mana yang harus anak tahu. Selain itu, minta tolong ketika butuh bantuan. Kadang kita tidak bisa menghadapi semuanya sendirian. Inilah yang memicu perilaku alkoholik Sun Woo.

14. Seorang ibu akan mati-matian membela anaknya.

Hal ini benar dalam kasus Sun Woo yang mati-matian membela anaknya dalam keadaan apapun. Tapi masalahnya, keputusan yang diambil Sun Woo kadang bertentangan dengan keinginan Joon Young, sehingga Joon Young merasa sering tidak dipahami dan tidak memiliki kedekatan emosional dengan Sun Woo dibandingkan dengan Tae Oh. Walau Tae Oh bukan ayah dan suami yang baik, ia paling mengerti keinginan Joon Young dulu.

15. Anak tidak hanya butuh materi, tapi butuh cinta dan kasih sayang.

Sun Woo sebenarnya memberikan semua itu, tapi ia lupa kalau anaknya butuh waktu bersamanya dan butuh didengarkan keinginannya. Menurut pengamatan saya, Sun Woo terlalu mendikte Joon Young masalah akademis, walau maksudnya baik.

Sun Woo juga egois ketika ia berusaha mempertahankan pekerjaannya yang menyita waktu—alasannya agar Joon Young hidup dengan layak. Padahal, semua orang tau kalau pasien Sun Woo banyak dan walaupun ia tidak jadi direktur ia bisa tetap berpenghasilan banyak. Ini ada campur tangan ego Sun Woo yang tidak ingin kedudukannya dijatuhkan.

16. Kenali anak anda dengan baik. Ajak bicara, ajak tukar pikiran.

Jangan hidup dengan pemikiran anda sendiri yang percaya bahwa anak saya pasti baik. Anak juga bisa salah, itulah tugas orang tua untuk meluruskannya. Ketika anak menyembunyikan banyak hal dan tidak bercerita apapun pada orang tua, menurut saya, parentingnya gagal. Orang tua dianggap tidak bisa menjadi tempat aman untuknya bercerita. Jangan terlalu banyak menceramahi anak.

Artikel ini sebagian besar diambil dari diskusi di quora yang dijawab oleh Benedicta atas pertanyaan Apa pelajaran hidup berharga yang bisa kamu ambil dari drakor “A World of Married Couple” ?

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page