Bismillah, Semoga Hijrah Ini Istiqomah dan Allah Ridhoi.

  • Bagikan
Mengiklaskan masa lalu
Mengiklaskan masa lalu via instagram.com @masmeya

Ku tatap wajahku lekat lewat kaca. Sungguh aneh, rasanya seperti bukan seperti diriku sendiri. Gadis yang suka menggulung rambutnya ke atas, memakai kaos ketat dan celana hotpant. Bibirku mengulum dan tersenyum, sedikit malu dan kikuk. Namun, entah bagaimana ada semburat kebanggaan dalam hatiku.

“Rei, jadi beli makan siang bareng gak?” teriak Salsa, langsung membuka pintu kamar kosnya, tanpa permisi apalagi assalamualaikum. Membuatku otomatis terlonjak kaget.

Dengan tergesa gesa, segera aku melepaskan gamis dan jilbab yang baru saja aku rangkai di tubuh dan kepalaku.

“Cie cantiknya Reinaku sayang… Eh, ngapain di lepas lagi,” ucap gadis berjilbab ungu itu mendekat.

Aku hanya nyengir menatapnya, karena melihat gamis dan hijabnya aku pakai. Apalagi sekarang, terlihat berantakan karena buru-buru aku lepaskan.

Dengan telaten, Salsa membantuku merapikan kembali jilbab yang ada di kepalaku. Bahkan hampir saja, mengajak berselfie ria, tapi untungnya segera aku tolak.

“Emang aku pantas ya, pakai pakaian seperti ini,” ucapku tak yakin pada diriku sendiri. Melihat gamis bewarna hijau botol milik Salsa.

Salsa menyerngit, kerutan nampak jelas di dahinya, menatapku bingung.

“Ya, pantaslah, cantik banget malah. Lebih bagus jika kamu bisa istiqomah, Rei,” Ucap Salsa sumringah. Dua jempolnya terangkat ke atas.

Baca Rekomendasi :   Aku Tak Menahanmu Lagi, Pergilah Bila Memang Itu Membuatmu Bahagia

“Lagipula, itu memang kewajiban kita sebagai seorang muslimah untuk menutup aurat, kan?”

Tiba tiba tubuhku lemas, mataku sedikit berembun. Kata kata Salsa seperti menampar wajahku.

“Lho, kok nangis kenapa?” tanya Salsa mendekat ke tempat dudukku. Merangkul pundakku.

Aku masih sedikit terisak, memikirkan kebodohanku setahun yang lalu.

“Rei, ini Mak belikan gamis sama hijab buat kamu Rei, nanti dipakai ya?”

Mak masuk ke dalam kamar dengan menenteng sebuah gamis dan jilbab besar di tangannya.

“Haduh, Mak. Ngapain sih, suruh Rei pake gamis begitu, panas ah. Gerah,” jawabku manyun.

Emak hanya tersenyum mendengarkan penolakanku.

“Ya, nanti kalau sudah terbiasa, gak akan gerah atau panas kok sayang. Yang penting kan istiqomah dulu,” nasehat Mak sembari mengelus rambut hitam sebahuku.

“Lagipula, itu kewajiban setiap muslimah Rei. Mak juga kepikiran kalau kamu nanti kuliah pakai pakaian seperti biasanya. Khawatir aja bawaannya,” lanjut Mak dengan wajah teduhnya.

Aku memutar bola mata ke atas, kesal saja mendengar nasehat Mak hari hari ini, soal gamis, jilbab dan aurat wanita melulu.

Belum sempat aku jawab.
Handphone ku berdering.

Baca Rekomendasi :   Cukup Sampai Disini Saja. Aku Hanya Butuh Kepastian, Dan Kau Tak Bisa Memberikannya

“Yes, bisa kabur…,” ucapku sumringah saat melihat nama Aldo tertera di layar benda pipih itu.

“Udah ya, Mak, Rei capek bahas masalah itu. Nih, Aldo telpon, Rei udah ada janji mau keluar. Ok,” kata kataku sembari terburu buru. Mengambil tas dan memakai jeans secepat kilat dan segera berlari keluar kamar.

Terakhir Mak terlihat mengelus dada, melihat kelakuan putri semata wayangnya.

Namun ternyata tak sampai disitu.

Hampir selama 2 tahun lebih Mak, masih berusaha agar aku mau memakai gamis dan jilbab. Sampai keinginanku untuk melanjutkan kuliah di luar kota semakin kuat.

“Rei, bawa beberapa stel gamis ini ya, nanti dipakai kalau di kampus,” sekali lagi Mak berusaha membujukku di hari keberangkatanku.

“Ish, apaan sih Mak, Reina gak cocok sama pakaian kayak gitu. Buang gak atau Rei bakar!” ancamku sedikit membentak pada wanita yang telah melahirkanku. Rasanya kupingku panas sekali mendengar nasehat Mak yang itu itu saja.

Mungkin karena kaget dan syok atas bentakanku, akhirnya Emak mengeluarkan kembali semua gamis yang tadi di masukkan ke dalam tas. Sedikit ada buliran bening yang menetes dari kedua matanya.

Namun hatiku sudah keras dan tak peduli. Setelah pamit, aku segera melangkahkah kaki pergi dari rumah. Bersyukur, karena tidak akan mendengar nasehat Mak lagi soal gamis dan hijab.

Baca Rekomendasi :   Ku Titipkan Surat Untukmu Beserta Kenangan yang Dicampur Rindu Kala Hujan

“Ya Allah Rei…,” Salsa menyeka air matanya setelah mendengarkan ceritaku.

“Seharusnya, kamu beruntung Rei. Ibuku sudah lama berpulang,” Salsa semakin menekukkan wajahnya. Membuatku ikut sedih dan menyesal.

Namun tak sampai sepersekian detik, wajah manis gadis itu terangkat kembali. Kali ini dia tersenyum.

“Jadi, gimana, kamu mau belajar istiqomah pakai gamis dan hijabkan, sekarang?”

Aku menganggukkan kepala mantab.

“Terimakasih Sa, justru karena disini aku punya sahabat kayak kamu, aku semakin sadar. Aku pingin bikin Mak bangga,” jawabku.

Salsa tersenyum mendengar jawabanku. Bahkan menghadiahkan gamis dan hijab yang baru aku pakai tadi sebagai hadiah dan gamis pertamaku.

“Bismillah, semoga aku bisa istiqomah dalam hijrah ini. Ridhoilah langkahku ya Allah,” doaku dalam hati.

***

Tidak pernah ada kata terlambat untuk hijrah dan hidayah Allah bisa datang dari mana saja. Jadi saat hidayah Allah itu datang, bersyukurlah dan mulai hijrahmu dengan istiqomah dan penuh kesabaran. Karena ujian selanjutnya pasti untuk menguji keteguhan hatimu. Percayalah Allah akan meridhoi langkah hijrahmu dan mempermudahnya.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page