Orang yang Suka Mencela dan Berkata Kasar Pada Orang Lain Adalah Sampah

Orang yang suka menghina, mencela berkata kasar pada orang lain, adalah orang yang belum mampu bahagia. Karena keadaan hatinya belum mampu berfikir dengan jernih

Lelaki miskin tanggungjawab via dramabeans.com
0 74

Zaman sekarang jari-jari orang menjadi lebih tajam dari pisau di social media. Menghina, mencela dan berkata kasar menjadi hal biasa yang sering terjadi. Ingatlah menghina, mencela dan berkata kasar bukan dosa kecil tetapi dosa besar. Orang yang suka menghina, mencela berkata kasar pada orang lain, adalah orang yang belum mampu bahagia. Karena keadaan hatinya belum mampu berfikir dengan jernih, hingga dia tidak sadar apa yang di dikatakan atau yang ditulis menunjukkan keadaan buruk dan busuk hati dalam dirinya saat itu.

Dosa mengumpat atau menggunjing itu lebih besar bahayanya daripada zina. Orang berzina lalu bertaubat maka Allah menerima akan taubatnya. Tetapi dosa mengumpat atau menggunjing hanya diampuni jika mau meminta maaf kepada orang yang diumpatnya. Di Akhirat kelak manusia akan menuntut haknya kepada manusia lain.

Maka orang yang dihina, diUmpat boleh menuntut kebaikan orang yang mengumpatnya. Dan penyesalan paling besar pada hari kiamat ialah melihat kebaikan kita dalam timbangan orang lain. Astaghfirullah. Semoga kita terhindar dari sifat-sifat yang buruk..Aamiin.

Baca Rekomendasi :   5 Makanan Ini Selalu Ada di Pernikahan Adat Betawi, Mana Makanan Kesuakaanmu?

Berhati-Hati Dengan Rasa Puas dan Bangga. Amalan Bisa Menyebabkan Orang Takabbur dan Sombong.

Pandai menilai dan mengaibkan orang lain karena konon ilmu dan amal yang dilakukannya lebih baik daripada orang lain. Setelah itu dia merasa berpuas hati dan tidak menemukan kecacatan dalam amalnya, merasa diri paling benar, paling tinggi imannya. Maka lahirlah manusia yang terlalu yakin dengan kekuatan ilmu dan ibadahnya.

Dia lupa siapakah sesungguhnya yang mencampakkan hidayah ke dalam hatinya, menggerakkan tubuh badannya untuk sujud, menuliskan catatan takdirnya hari ini, esok dan di penghujung hidupnya ? Orang yang sudah berpuas hati dengan amalannya akan dijangkiti penyakit malas untuk melakukan perbaikan. Ia merasa semua baik, jadi tidak perlu menambah ilmu dan amal. Lama-kelamaan dia pun terseret oleh arus yang semakin mempengaruhi. Amal dan ilmunya itu ternyata tidak mencukupi untuk melawan kejahatan syaitan dan hawa nafsunya sendiri!

Baca Rekomendasi :   Di Umur 25 Tahun, Lebih Baik Mengutamakan Karir atau Jodoh Dulu?

Bahkan Kadang Ada yang Berfikir Tak Mengapa Melakukan Maksiat Asalkan Berbuat Amal yang Banyak.

Taat dan maksiat tidak mungkin disandingkan. Kedua-duanya saling bertentangan dan tak akan pernah bersatu. Al-Quran juga menyindir perbuatan orang-orang yang merasa yakin dengan rahmat Allah walaupun mereka berbuat jahat. Sesungguhnya mereka telah tertipu oleh hasutan syaitan dengan fahaman salah seperti ini, yaitu merasa aman ketika melakukan dosa karena telah beramal sholeh.

Seorang hamba yang tunduk dengan sebenar-benarnya kepada Allah tidak akan rela unsur-unsur maksiat menyerang hatinya. Dia akan berusaha untuk menolak setiap sengatan berbisa itu demi memastikan hatinya hidup dengan iman dan amal yang telah disemai. Untuk apa bersungguh-sungguh menjaga iman dan amal tetapi merusakkannya dengan satu kejahatan yang dilakukan dengan sengaja !! Semoga kita mampu menjaga iman dan amalan dengan sebenar-benarnya…Aamiin.

Baca Rekomendasi :   Bujet Minim? Pesan Hotel Online Banyak Untungnya

Selain Menghiudupkan Jiwa Orang Mukmin, Taubat Juga Menjadi Cara Termudah Diterima Oleh Allah Untuk Kembali Oleh-Nya Dalam Pelukan Rahmat-Nya.

Namun kadang jiwa manusia bersikap angkuh, merasa diri telah sempurna dan tidak pernah salah walau sesaat, memandang orang lain dengan pandangan kehinaan, seolah-olah aib dan kelemahan itu hanya milik orang, sedang dirinya tiada cela.

Beristighfarlah untuk waktu yang telah kita sia-siakan tanpa mengingati Allah. Beristighfarlah untuk diri yang kurang amanah terhadap keluarga dan orang lain. Beristighfarlah untuk membersihkan hati dari prasangka buruk, riya, tamak, dengki, cemburu dan lidah yang menyengat perasaan orang lain. Beristighfarlah karena rela menjadi sahabat syaitan angkara kejahilan diri dan ketandusan ilmu. Beristighfarlah untuk diri yang tidak merasa perlu untuk beristighfar. Lakukan setiap waktu hingga bertemu ALLAH dalam keadaan bersih lagi diridhai !!.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page