Aku Memilihmu Bukan Karena Kamu Paling Baik, Tapi Kamu Paling Siap Menerima

Aku memilihmu bukan karena kamu paling baik, tapi karena kamu paling siap untuk menerima

Aku Memilihmu bukan karena kamu baik via instagram.com @azharajay
0 291

Banyak menuntut memang sering membuat orang lupa, kalau ternyata masih banyak yang harus diperbaiki dari dirinya sendiri. Dan itulah yang terjadi padaku. Selama ini aku berusaha untuk membuatmu nyaman, sampai aku tak sadar, kalau aku juga tidak nyaman dengan diriku sendiri. Aku jadi orang lain yang bukan aku.

Aku jadi aku yang kamu harapkan. Aku bukan aku yang aku inginkan. Lantas, bagaimana caranya aku bisa membuatmu nyaman, jika aku sendiri belum nyaman dengan diri sendiri.

Tak Ada Orang yang Suka Dibohongi, Termasuk Dirimu Sendiri Walaupun Pelakunnya Adalah Dirimu Sendiri.

Kamu, hanya harus jujur dengan perasaan kamu sendiri. Membohongi perasaan hanya akan mengusir ketenangan hatimu. Sedang menghindarinya, akan menghilangkan keleluasaan yang kamu punya. Kamu jadi bukan kamu. Kamu ada, tapi sebagian dirimu hilang entah kemana. Ditutupi topeng yang kamu sendiri tak tahu bagaimana bentuknya.

Baca Rekomendasi :   Rayuan Berkelas Itu Bukan Dengan Bunga Ataupun Coklat, Tapi Dengan Akad

Dan yang nampak dari luar; kamu sudah bukan kamu lagi. Apakah orang lain suka? Bisa jadi iya, kalau mereka belum tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Yang jelas kamu pasti tak menyukai dirimu sendiri. Karena kamu mengerti apa yang sedang kamu rasakan. Karena kamu tahu dengan pasti; apa yang kamu lakukan, apa yang kamu ungkapkan adalah bukan apa yang kamu rasakan.

Memang begitu adanya. Tak ada orang yang suka dibohongi. Termasuk dirimu, walaupun pelakunya adalah diri kamu sendiri. Terserah mau secerdik apa kamu membohongi dirimu sendiri. [Kutipan Buku Menata Hati]

Bagi Kebanyakan Perempuan, Perasaan Adalah Proritas yang Lebih Penting Daripada Pekerjaan Apapun.

Bagi kebanyakan perempuan, perasaan adalah prioritas yang lebih penting daripada pekerjaan apapun. Normalnya, perempuan itu lebih rajin daripada laki-laki. Jadi kalau ada perempuan yang bawaannya males buat melakukan apapun, bukan berarti perempuan itu sedang tidak melakukan apa-apa. Dia hanya sedang sibuk dengan perasaannya sendiri. Jujur, aku termasuk dalam golongan perempuan kebanyakan itu.

Baca Rekomendasi :   Tiada Salah Mencintai Suami Orang Tapi Pikirkanlah Perasaan Anak dan Istrinya

Jadi jangan pernah memandang perempuan dengan sebelah mata, dan jangan pula membohonginya dengan memberikan janji-janji palsu. karena jika sudah percaya padamu, itu artinya kamu harus menjaganya. Karena kepercayaan ibarat kaca, jika sudah pecah tidak akan bisa kembali lagi ke bentuk semula.

Ada Banyak Perempuan yang Kesulitan Untuk Berdamai Dengan Jarak dan Rindu. Aku Adalah Salah Satunya.

Aku tahu ini sulit buat kamu. Tapi kali ini, pilihan kita nggak banyak. Aku sepenuhnya percaya sama kamu. Mana yang sekiranya paling baik buat kita, mana sekiranya paling enak buat kamu jalanin. Ikut aku ke kota yang baru, berarti mungkin kamu harus memulai dari nol lagi di sana, bisa jadi kamu harus menyesuaikan lagi mimpi-mimpi kamu.

Baca Rekomendasi :   Cinta adalah Pertautan Hati, Emosi, juga Rasa

Atau tetap di sini, menjalani keseharian seperti biasa, melanjutkan mimpi-mimpi yang sudah kamu susun, tapi terpaksa kita harus LDR-an. Mungkin sebulan sekali aku bisa pulang ke sini.

Aku Tak Mau Hidup Menggenap Dengan Orang yang Tak Bisa Memberi Kepastian. Dan Tak Terbayang Betapa Repotnya Menghabiskan Lebih Dari Separu Hidup Bersama Orang yang Tak Punya Keberanian.

Harusnya semua laki-laki di muka bumi ini mengerti, betapa mahalnya harga sebuah ketidakpastian. Apalagi, bagi mahluk yang bernama perempuan. Kepastian tidak sesederhana iya atau tidak. Dalam bahasa keputusan, kepastian adalah salah satu sinonim dari keberanian. Tentu saja aku tak mau hidup menggenap dengan orang yang tidak bisa memberi kepastian, dan tak terbayang betapa repotnya menghabiskan lebih dari separuh hidup bersama orang yang tak punya keberanian.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page