Part 1 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Lalu saat kesadaranku pulih, sekuat tenaga aku berteriak pada teman-teman di dalam tenda.

Teror Gunung Dempo via facebook.com/Aras Anggoro
1 1.214

Banyak anak muda sekarang yang hobby mendaki gunung. Selain keindahan lautan awan dan sunrise, kadang mendaki gunung juga diselimuti pengalaman horor. Seperti pengalaman dari Aras Anggoro yang menurutkan kisahnya di facebook dan viral di kalangan para pendaki. Berikut kisah lengkapnya.

Walau tenaga sudah nyaris habis, tapi aku bersyukur karena sudah berhasil mencapai Puncak Dempo dan Puncak Merapi berturut-turut. Sekarang yang kami perlukan tinggal menuju Pelataran, masuk tenda dan istirahat. Kami berenam, lima laki-laki: Amran, Idan, Anes, Ale, aku, dan satu orang perempuan: Yuni. Kami semua masih sekolah, hanya Bang Amran dan Bang Idan yang sudah lulus.

Dalam pendakian Dempo ini, Bang Idan bertindak sebagai pemimpin rombongan karena selain lebih tua, dia juga pernah kesini sebelumnya, begitupun Bang Amran dan Yuni. Sementara buat yang lainnya, termasuk aku, ini adalah pendakian perdana.

Benar Adanya Jika Gunung Bukanlah Tempat Sembarangan, Berawal Dari Kekonyolan Bang Idan Akhirnya Nestapa Kami Lalui.

Ada kekhilafan konyol namun akibat yang ditimbulkan tak pernah terbayangkan oleh kami. Tanpa sengaja Bang Idan membawa kartu remi bergambar p0rn0 di carriernya. Bang Idan menemukan kartu itu di kantong celananya ketika baru saja berganti pakaian setelah kami baru sampai di Pelataran.

“Gituan kenapa dibawa Dan? Kau ini ngajarin ngga bener aja.” Kata Bang Amran ketika melihat tumpukan kartu itu.

“Tak sengaja aku Am.” Jawab Bang Idan malu-malu, lalu menambahkan sambil cengar-cengir, “habis kami mainkan kemarin malam, eeh kok malah ikut terbawa packing.”

“Hati-hatilah Dan. Mereka ini masih sekolah, apalagi ada perempuan.” Sambung Bang Amran. Bang Idan cuma garuk-garuk kepala sambil tersenyum malu. Tapi insiden itu segera kami lupakan, malah kami justru bersyukur, kartu-kartu remi bergambar porno itu segera kami mainkan walau terpaksa sambil menahan air liur melihat gambar-gambar syur nya.

Menjelang magrib aku mendekati Anes dan Yuni yang sedang memasak nasi di luar tenda, mengabarkan kalau kami hendak sholat magrib berjamaah dulu.

“Aku sholat magrib dulu Nes, Yun.” Kataku.

Anes menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Iya Pin, aku disini nemenin Yuni. Dia haids ternyata.”

“Tadi ngga?” Balasku.

“Baru banget dapet.” Kali ini Yuni yang menjawab tanpa menoleh ke arahku.

Akhirnya kami berempat sholat magrib berjamaah, sedang Yuni dan Anes berbeda keyakinan. Selesai sholat bersamaan nasi matang. Tapi baru saja kami bersiap untuk makan, tiba-tiba gerimis disertai angin kencang yang disusul oleh badai menerjang. Kami semua langsung buru-buru masuk tenda. Rasa lapar sudah tak terpikirkan lagi.

Hujan besar dan angin kencang seakan berniat ingin merubuhkan tenda kami. Frame tenda terdengar bergemeretak menahan tekanan badai. Kain tenda yang lepas dari pasaknya berkibar-kibar menghasilkan suara yang menciutkan nyali. Aku melihat satu persatu wajah pucat pasi teman-temanku. Ini adalah pengalaman pertama kami dihantam badai dahsyat di atas gunung. Nyaliku turun hingga titik terendah, apalagi tidak ada orang lain di gunung ini selain kami.

Yang paling kutakutkan adalah jika tenda kami diterbangkan badai, karena kurasakan semakin lama tiupan angin malah semakin kencang.

Aku lalu berinisiatif keluar untuk mengecek dan mengencangkan pasak-pasak tenda. Bang Amran ikut keluar bersamaku. Masing-masing kami memegang sebuah senter karena gelap sudah mulai turun. Baru saja menyembulkan kepalaku keluar tenda, hujan dan angin langsung menampar wajahku. Aku gelagapan mencoba bernafas. Angin yang terlalu kencang membuatku kesulitan menghirup udara.

Tapi selain badai angin ini ada suara lain yang menarik perhatianku dan Bang Amran. Suara itu hilang timbul diantara desingan suara angin badai, namun yang jelas intensitasnya semakin meningkat. Suara itu bagaikan berasal dari dalam tanah, rasanya aku juga bisa merasakan getaran di bawah kakiku.

Lalu mataku melihat sesuatu yang paling mengerikan yang pernah kulihat. Bang Amran juga tampak membelalak seakan tak mempercayai penglihatannya. Sekian detik, kaki kami berdua seakan tertancap ke tanah tak mampu digerakkan.

Lalu saat kesadaranku pulih, sekuat tenaga aku berteriak pada teman-teman di dalam tenda.

“AIR BAH!! KABUR! KABUR!! LARI!!!” Aku berteriak-teriak dengan panik.

Baca Rekomendasi :   Part 2 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Mendengar teriakanku, teman-temanku langsung berhamburan keluar tenda dan dengan mata kepala sendiri melihat pemandangan paling mencekam yang pernah kami lihat.

Dengan ngeri kami melihat dari atas Puncak Merapi air bah turun bergulung-gulung ke arah kami. Tanpa berpikir lagi kami langsung lari tunggang-langgang ke arah yang lebih tinggi. Waktu seakan bergerak lambat bagi kami, sementara dibelakang suara air bah terdengar semakin mendekat dengan cepat. Yuni berlari sambil terjatuh-jatuh karena panik.

Kami tiba ditempat yang aman tepat waktu. Dengan mata kepala sendiri, kami menyaksikan air bah menerjang tenda kami, mengoyaknya dan hilang terbawa aliran banjir. Kulihat Yuni terjatuh lalu menangis. Teman-teman yang lain juga terlihat shock. Aku memandangi kedua tanganku yang gemetar hebat. Kami hampir saja mati barusan.

Malam Semakin Gelap, Badai Sudah Kehilangan Kekuatannya Tapi Ketakutan Masih Tersimpan Dihati Kami Masing-Masing.

Aku tak menyangka air di kawah Puncak Merapi bisa naik dan menimbulkan air bah. Terlambat sedikit saja, kami akan ikut terseret seperti nasib tenda kami. Untunglah tidak ada orang lain selain kami di Pelataran.

Malam semakin gelap. Badai sudah kehilangan kekuatannya, tapi hujan rintik masih belum berhenti. Kami berkumpul berdesak-desakan, bingung harus berbuat apa. Tenda dan seluruh peralatan kami sudah hilang tak berbekas. Yang tersisa hanya senter yang aku dan Bang Amran pegang.

Malam semakin pekat. Tak dapat lagi kami bedakan mana tanah dan mana langit. Puncak Merapi hanya terlihat sekilas ketika petir menyambar. Setelahnya kembali hanya kegelapan.

Bang Idan akhirnya mengambil keputusan untuk turun. Semakin lama kami diam ditempat tanpa tenda akan semakin berbahaya. Apa lagi kami masih harus melewati Puncak dempo untuk turun. Belum lagi suhu dingin ditambah hujan rintik, hypothermia bisa menerkam kami kapan saja.

Kami berjalan pelan. Jalanan berbatu kearah puncak Dempo menjadi licin akibat hujan. Kami harus berhati-hati. Bang Amran berjalan di depan sambil mengarahkan senternya memperhatikan jalur yang kian menanjak. Di belakangnya mengekor adalah aku, Yuni, Ale dan Anes. Senter satu lagi kuserahkan pada Bang Idan yang berjalan paling belakang.

Petir yang Menyambar Cantigi Manggangu Konsentrasiku dan Jantungku Pun Hampir Copot Rasanya.

Aku sedang konsentrasi pada nafasku ketika tiba-tiba petir menyambar pucuk pohon cantigi di belakang kami. Jantungku hampir copot karena kaget. Sebuah titik api terlihat di bekas sambaran petir tadi sebelum akhirnya hilang tersiram hujan. Kami semua saling berpandangan tanpa berkata apa-apa. Belum juga hilang rasa kaget kami, sebuah petir yang lain menyambar pohon cantigi yang lebih dekat.

Lalu petir yang lain menyambar sebuah batu besar yang jaraknya lebih dekat lagi. Batu itu langsung terbelah dan terbakar api. Jantungku berderap kencang. Firasat ku mengatakan ada sesuatu yang salah. Instingku berteriak-teriak agar aku cepat lari dari situ. Petir-petir ini mengejar kami!!

Dan tanpa komando lagi, kami semua berlarian dengan panik semampu yang kami bisa. Petir- petir terus menyambar di belakang kami, semakin mendekat. Tiap kali suaranya menggelegar jantungku seakan berhenti berdetak. Dalam kepanikan itu sesekali kudengar isak tangis Yuni yang ketakutan.

Lalu sebuah tiang cahaya putih raksasa menghunjam beberapa meter di depan kami. Aku pasrah. Petir sedekat ini, aku tak mungkin selamat.

Tapi itu bukan petir.

Di depan kami, hanya beberapa meter jauhnya, adalah seorang perempuan cantik bergaun putih. Matanya menatap kami penuh kebencian. Mimik wajahnya terlihat sangat marah.

Seluruh tubuhku gemetar, tapi aku tak mampu bergerak walau hanya untuk menunduk. Yang bisa kami lakukan hanya terpaku menatap senyum sinisnya. Kedua tangannya terlihat sedang memainkan sesuatu. Dan jantungku berdesir, menyadari yang ada ditangannya adalah kartu remi bergambar p0rn* milik Bang Idan.

Seiring senyumnya yang menghilang, tangannya terangkat pelan dan terlihat mengancam. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah Yuni. Lalu sebuah suara terdengar, lembut tapi mengerikan.

“…..Kamu punya saya…. “

Sebuah petir menyambar lagi, seketika perempuan bergaun putih itu hilang tak berbekas diiringi suara cekikikan yang menggema diantara pohon-pohon cantigi Puncak Dempo. Aku ketakutan setengah mati. Kakiku mendadak lemas dan mataku mulai panas. Yuni lebih parah. Kulihat tubuhnya gemetar tak terkendali.

Bang Idan yang paling duluan menguasai diri segera menggamit tanganku dan Yuni dan meminta kami segera bergerak.

“Ayo gerak. Ini udah ngga beres. Penghuni sini marah sama kita.” Kata Bang Idan.

Setengah berlari kami bergerak menuruni jalur setapak Puncak Dempo. Tapi segera kami mulai melambat lagi. Walau hati ingin secepatnya meninggalkan tempat itu, tapi keadaan tidak mendukung. Keadaan malam yang gelap gulita ditambah jalur berbatu yang licin karena basah dan sumber cahaya yang hanya ada didepan dan belakang malah membuat kami lebih lambat dari sebelumnya.

Tiap kali kudengar gema suara cekikikan dibalik kegelapan rimbunan pohon cantigi, kakiku secara refleks ingin segera kabur tapi berpisah dari rombongan bukan pilihan. Dari sudut mata bisa kulihat kelebatan-kelebatan sosok putih, dan aku sungguh tak ingin memastikan sosok apa itu sebenarnya.

Gerimis sudah berhenti dan bulan mengintip sedikit di balik awan. Tapi hembusan angin masih setajam silet. Aku sudah tak mampu membedakan apakah menggigil karena ketakutan atau kedinginan. Teman-teman yang lain keadaannya hampir sama denganku: Yuni, Ale dan Anes. Kami masih mampu bergerak karena kami merasa dijaga oleh Bang Idan di depan dan Bang Amran di belakang. Berkali-kali mereka selalu mengingatkan untuk bergerak dan terus berdoa.

Kudengar suara Anes di belakangku bertanya pada Bang Amran.

“Bang, tadi itu siapa bang?” Walau suaranya pelan tapi masih cukup terdengar olehku.

Bang Amran tidak langsung menjawab, ada jeda sebentar sebelum akhirnya dijawab dengan suara yang terdengar ragu.

“Putri Dempo.” … 

Lanjut nex episode..

Baca Rekomendasi :   Part 1 : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain
1 Comment
  1. […] Teror gunung dempo part 1 kamu bisa baca di : Teror Gunung Dempo […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page