Part 2 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Aku masih belum mampu menggerakkan tubuhku. Leherku kaku. Bahkan untuk mengeluarkan suara pun aku tak bisa.

Teror Gunung Dempo Part 2 via kapanlagi.com
1 966

Teror gunung dempo part 1 kamu bisa baca di : Teror Gunung Dempo

Kami melanjutkan melangkah turun dengan pelan dan beriringan. Aku terus menerus merasa was-was seakan ada banyak mata yang sedang mengawasi kami. Kadang aku tersentak kaget melihat cahaya senter yang disorot ke tanah dari belakangku, padahal hanya cahaya senter Bang Amran. Nafas-nafas kami terdengar berat.

Otot betis dan pahaku mulai terasa kaku. Tapi tiap kali ingin minta istirahat, gema cekikikan kembali terdengar dari dalam kegelapan hutan. Suara itu seakan menertawakan kami yang dicekam ketakutan. Dan Bang Idan juga terus menerus meminta kami lebih cepat.

Aku mengerti kekhawatiran Bang Idan. Gunung Dempo ini bukan gunung sembarangan. Secara berkala di gunung ini terus menerus terjadi insiden yang serius. Orang hilang dan meninggal sudah umum terdengar. Ingatan akan hal ini yang membuatku terus memaksakan diri untuk berjalan walau sudah luar biasa letih.

Disini posisi jalan kami berubah. Bang Amran dan Bang Idan berganti posisi. Yuni dibelakang Bang Amran dan aku di tengah.

Dari belakang kudengar suara Bang Idan mengingatkan untuk jalan dan jangan putus berdoa.

“Nes, doa menurut keyakinan kamu, Yuni juga.” Suara Bang Idan mengingatkan Anes berdoa.

“Iya bang.” Jawab Anes.

Aku lega karena kami sudah melewati hutan cantigi. Pohon-pohon cantigi dengan cabangnya yang kurus seperti jari-jari mayat membuatku tak nyaman. Kami mulai masuk hutan yang disepanjang jalur berisi pohon-pohon besar dan mulai rapat. Dibelakang pohon-pohon itu kabut putih bergerak pelan. Bayangan samar pohon-pohon kurus dibalik kabut bagiku seakan hidup dan mengawasi langkah kami.

“Pin, fokus ke depan. Jangan tengok kiri kanan.” Suara Bang Idan terdengar dari belakang.

“Iya bang.” Aku menjawab.

Tanpa diminta sebenarnya aku pun mulai jengah dengan suasana sekitar. Kabut-kabut yang bergerak pelan diantara pohon dan rimbunan semak mengajakku berpikir yang aneh-aneh. Lagi pula jalanan yang kian menurun curam menuntut perhatian lebih, apa lagi ditambah minim penerangan. Sering aku ragu untuk melangkah dan harus meminta di senter lebih dulu.

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 5): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Lalu kurasakan bulu kudukku meremang. Dari sudut mata seringkali terlihat melintas sesuatu, tapi ku paksa pandanganku terus fokus kedepan.

Hingga tiba-tiba diluar keinginanku sendiri wajahku pelan-pelan menoleh ke samping kanan. Mataku langsung menatap dua buah kunang-kunang yang terbang kira-kita satu meter dariku. Pandanganku bagai terpaku ke arah dua cahaya kecil itu. Semakin lama kutatap, cahaya kecil itu pelan-pelan semakin membesar. Tubuhku langsung kaku ketika menyadari itu bukanlah kunang-kunang, melainkan sepasang mata berwarna merah menyala.

Mata itu menatap lekat padaku tanpa berkedip. Sorot matanya terlihat sadis dan menampakkan ketidak-sukaan. Pelan-pelan wajahnya terlihat, lalu rambutnya, hingga akhirnya terlihat seluruh tubuhnya. Laki-laki itu memakai pakaian serba hitam. Rambutnya panjang dan berantakan.

Aku masih belum mampu menggerakkan tubuhku. Leherku kaku. Bahkan untuk mengeluarkan suara pun aku tak bisa.

Tiba-tiba jantungku seakan lepas ketika wajah makhluk tadi dalam sekejap sudah berada sejengkal dari wajahku. Tapi wajah itu kini berubah menjadi busuk, dengan belatung-belatung yang menggeliat dan keluar masuk di mata, hidung dan kulit pipinya. Bau bangkai yang sangat busuk terhirup dan membuatku mual. Mataku membelalak ngeri dan reflek berteriak sekuat tenaga. Dan wajah busuk itu terus mendekat. Jeritanku makin menjadi ketika kulihat kulit dan daging yang busuk di pipinya berjatuhan ke tanah.

Sebuah tamparan keras menyadarkanku. Itu adalah Bang Idan yang tiba-tiba sudah ada didepanku. Ketika kesadaranku mulai pulih, aku mendapati diriku sedang duduk dengan posisi tangan menutupi wajahku. Teman-teman yang lain ada di sekelilingku.

Baca Rekomendasi :   Part 2 : Pendakian Gunung Gede, Penampakan Nenek Tua di Surya Kencana

Bibirku gemetar, begitu juga seluruh tubuhku. Mataku nanar mencari-cari keberadaan makhluk tadi. Lalu Bang Idan memegangi wajahku dengan dua tangannya dan memaksaku melihat lurus ke matanya.

“Dek, sadar dek.” kudengar lembut suaranya.

Tapi aku masih saja menjerit ketakutan, hingga tamparan kedua mendarat di pipiku barulah aku sadar sepenuhnya.

Dengan bibir gemetar aku berusaha menjelaskan pada Bang Idan tentang penampakan tadi, tapi yang keluar dari bibirku hanya gumaman-gumaman yang tak jelas.

“Istighfar dek.” Ucap Bang Idan lagi.

Aku menurut. Aku mulai beristighfar tanpa suara. Pelan-pelan aku kembali tenang. Nafasku tidak lagi berpacu. Disampingku, Bang Amran berjongkok sambil mengusap-usap punggungku untuk menenangkanku.

“Istirahat sebentar Dan, kasian adek-adek ini pasti lelah.” Kudengar Bang Amran berbicara pada Bang Idan.

Perutku yang masih mual karena mencium bau busuk tadi berkontraksi dan akhirnya aku muntah-muntah. Bang Amran mengurut-urut leher belakangku sambil aku terus muntah.

Melihat keadaanku dan mungkin juga keadaan teman-teman yang lain, akhirnya Bang Idan setuju kami istirahat sebentar. Lalu Bang Idan berbicara padaku.

“Kan abang sudah bilang dek, jangan tengok-tengok, fokus saja ke depan.” Katanya.

“Aku tidak noleh bang,” Bela ku, “kepalaku muter sendiri.”

Kulihat Bang Idan agak terkejut dengan jawabanku.

“Ya udah. Istighfar aja, nyebut dek.” Kata Bang Idan lagi, “apa yang dilihat jangan diceritain ya dek.”

Aku mengangguk mengerti. Karena selain Bang Idan dan Bang Amran, kulihat mimik ketakutan di wajah Yuni, Ale dan Anes.

Belum tuntas hilang rasa takutku, Bang Idan memberi aba-aba supaya kami mulai bergerak lagi. Aku yang masih lemas, dipapah oleh Ale dibantu Anes. Bang Idan kembali memposisikan diri di belakang.

“Ingat ya. Pandangan lurus aja kedepan. Kalo ada melihat sesuatu, diam aja. Jangan diceritain.” Suara Bang Idan berbicara pada kami semua.

Baca Rekomendasi :   Part 5 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Belum sempat salah satu diantara kami menjawab, kulihat sesuatu terbang melintas di depan kami. Rasa penasaran rupanya lebih besar dari pada rasa takutku.

Sebuah sifat yang membuatku menyesal. Kulihat diatas kami, beberapa sosok Kuntilanak terbang dari pohon ke pohon. Kuntilanak itu menyeringai, suara tawanya saja sudah cukup untuk mendirikan bulu kudukku. Buru-buru ku paksa wajahku menatap tanah, berharap mereka tidak melihatku.

Lalu kurasakan tangan Ale yang sedang memapahku tersentak. Kuikuti pandangan mata Ale yang sedang melihat ke samping. Dibalik pepohonan kulihat sosok besar bermata merah. Seluruh badannya nampak dipenuhi bulu. Tapi Ale tetap diam tak bersuara, walau wajahnya pucat pasi dan keringat banjir di wajahnya.

Penampakan demi penampakan terus bermunculan di sana sini. Di atas, di dahan-dahan pohon, dibalik semak. Sesekali kami saling bertabrakan karena Bang Amran yang paling depan mendadak berhenti. Sekali karena Kuntilanak yang tiba-tiba melintas. Lain waktu ada pocong yang menghalangi jalur.

Bau-bauan timbul dan menghilang. Bau bangkai digantikan bau bunga melati yang amat pekat, juga wangi bunga kamboja. Jantungku bergemuruh. Doa-doa tak putus ku bisikkan hingga mulutku terasa kering pun tak peduli. Aku tak ingin menjadi salah satu korban Gunung dempo.

Lalu telingaku menangkap bunyi-bunyian ganjil. Awalnya hanya suara bisik-bisik dari balik Kabut. Semakin lama suara-suara lain tumpang tindih ditelingaku. Asalnya dari berbagai arah. Ada suara orang bercakap-cakap, suara musik, suara orang menyapu, suara geram harimau dan banyak lagi. Dan ada satu suara yang membuatku bergidik ngeri. Suaranya terdengar teredam dan jauh, namun suara itu tak pernah berhenti. Itu adalah suara yang memanggil-manggil namaku.

“….. Alpin…… Alpin…… Alpin….. “

1 Comment
  1. […] Setelah perjuangan yang menegangkan di Part 2 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page