Part 5 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

"Nenek Buyut maafkan kami Nenek. Tolonglah kami Nenek Setue, " Kudengar suara Bang Idan mengiba memohon maaf.

Teror Gunung Dempo via facebook.com/Aras Anggoro
1 761

Untuk part kamu bisa baca disini ya Part 4 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan 

Dalam kekalutan itu, aku bingung harus bagaimana? Bagaimana caraku menolong jika aku tak melihat apapun? Sementara Anes terus nampak bergulat dengan sesuatu yang tak kasat mata sambil mulutnya terus menerus meminta pertolongan pada Tuhannya.

Yuni menangis sambil berdoa, sementara Bang Amran yang masih kemasukan terus saja berteriak: TINGGALIN AJA! TINGGALIN AJA! BAWA!! HAHAHA!!! Bang Idan sambil memegangi Bang Amran yang berusaha berontak, berteriak pada kami, “jangan diam aja! Bantu doa!”

Yuni kembali menangis dan berteriak-teriak dengan histeris. Sementara Ale tiba-tiba saja menjatuhkan dirinya dan meringkuk dengan tubuh gemetar. Dengan menyeret Bang Amran bersamanya, Bang Idan mendekati Ale.

“Le, kenapa Le?” Bang Idan bertanya sambil mengguncang-guncangkan bahunya. Ale tak bereaksi apa-apa, tubuhnya malah semakin meringkuk, tangannya ditangkupkan menutup telinganya dengan erat.

Kali ini Bang Idan bertanya lagi sambil sedikit menepuk pipinya, “Le, ada apa Le??”

Ale yang tiba-tiba menyadari Bang Idan ada didekatnya, menjawab dengan suara yang gemetar karena takut, “Bang, tolong aku Bang.”

“Ada apa, Dek. Bilang sama Abang.” Balas Bang Idan dengan lembut.

Tubuhnya semakin gemetar, tangannya mengibas-ibaskan telinganya, “Makhluk hitam berbulu itu, Bang. Dia terus-terusan bisik di telingaku. Aku takut Bang.” Suara Ale kian bergetar.

“Bilang apa dia??” Tanya Bang Idan, suaranya terdengar tegang.

“Dia suruh aku dorong Alpin, bang.” Jawab Ale sambil tangannya menunjukku. Tangisnya langsung pecah. Mendengar jawaban Ale, tubuhku mendadak gemetar hebat. Bang Idan menatapku dan memintaku Istighfar.

Bang Idan memeluk Ale dan berbicara di telinganya, “Ngucap Dek, istighfar. Kuasai dirimu. Jangan lihat makhluk itu, anggap dia ngga ada, anggap suaranya ngga ada.”

“Dia marah bang, ” Kata Ale diantara tangisnya, “dia mau makan aku, Bang. Aku takut, Bang.”

Bang Idan memegang wajah Ale dan menatapnya langsung ke mata, “Kendalikan dirimu, Dek. Jangan dengarkan perintah siapa pun kecuali Abang!”

Lalu kudengar Anes yang masih terus bergulat dengan sesuatu yang tak terlihat berteriak dengan kencang. Seketika angin seperti berhenti. Kekacauan itu hilang begitu saja. Kulihat Anes duduk bersimpuh, tangannya tertangkup di dada dan terdengar mengucap syukur.

“Terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan… ”

Bersamaan juga, Ale tampak mulai menguasai dirinya lagi. Dia bangkit dengan lemah. Kami mendekati Anes, lalu berpelukan dan saling bertangisan. Hanya Bang Idan yang tetap duduk sambil masih memegangi Bang Amran yang sepertinya tertidur.

“Kenapa tadi, Nes?” Tanya Bang Idan.

“Kunti dan pocong Bang, mereka mau bawa aku, ” Jawab Anes. Nafasnya masih naik turun. Keringat dingin menetes di dahinya, ”mereka bilang juga mau ambil Alpin, Ale, Yuni dan Abang.”

Kami saling berpandangan mendengar ucapan Anes. Bang Idan kulihat sedang memperhatikan kami satu persatu. Mungkin dia menilai kondisi kami. Kemudian dia melihat ke sekeliling kami, ke hutan di kanan dan jurang di kiri kami.

“Masih kuat kalian jalan?” tanyanya lagi.

Kami menjawab serempak, ” Kuat bang.”

“Pin, kamu pakai kaos dalam kan? Coba kamu buka pin.” Kali ini dia berbicara padaku.

Aku tak mengerti tapi tidak juga bertanya. Kubuka jaket dan kaosku, lalu kaos dalamku dan kuserahkan pada Bang Idan. Kaos dalam ku itu lalu disangkutkan pada sebuah akar yang mencuat dari gundukan tanah.

“Ayo, gerak lagi.” Kata Bang Idan setelahnya, “Dengar ya, Abang tegaskan lagi. Fokus aja ke depan, apapun yang kalian lihat, dengar, rasakan, jangan diceritakan.”

Kami semua mengangguk.

“Kita semua lihat, ngga usah diceritakan lagi. Abang pun lihat, ngga cuma kalian.” Sambung Bang Idan lagi.

Aku lega karena ternyata Bang Idan pun melihat yang kulihat. Ada ketakutanku jika selama ini aku hanya berhalusinasi. Nampaknya itu juga yang dirasakan Yuni, Anes dan Ale. Tanpa ada yang menyuruh kami semua langsung berpelukan. Dadaku bergemuruh, dan tanpa bisa ditahan mataku basah oleh airmata. Begitu juga dengan teman yang lain. Bang Idan memeluk kami semua dan menepuk-nepuk bahu untuk menguatkan.

“Sudah. Sudah. Pokoknya mulai sekarang saling jaga aja ya. Ingat, disebelah kiri kita jurang menganga. Jaga temanmu.”

Kami semua mengangguk. Setelah berpelukan rasanya ada energi baru di tubuhku.

”Dek, kamu liatin Anes. Jangan lengah. Kamu juga Nes, doa terus menurut keyakinanmu. Fokus jalan, jangan toleh-toleh.”

Aku dan Anes mengiyakan.

Kami mulai bergerak lagi. Bang Idas berjalan paling depan sambil terus memegangi Bang Amran. Lalu Yuni, Aku, Ale dan Anes tetap di belakang.

Mulai dari sini gangguan-gangguan semakin meningkat. Tangan-tangan kurus menggapai-gapai dari semak, kepala yang menggelinding, kuntilanak berkali-kali melintas di depan, kadang di atas kepala kami. Di suatu waktu Yuni berteriak meminta tolong, rupanya rambutnya ditarik oleh kuntilanak yang terbang di atas kepalanya.

Lalu kudengar suara Bang Idan berdoa, “Nenek Buyut, maafkan kami Nenek Buyut. Tolong jangan ganggu kami Nek. Jika kami ada kesalahan kami minta maaf, Nenek Buyut…. “

Hampir satu jam berjalan kami sampai ditempat yang tidak asing buatku. Kakiku langsung lemas saat melihat kaos dalam putih tergantung di akar. Itu adalah kaos yang kami tinggalkan satu jam lalu! Sejak tadi aku sudah curiga kalau kami hanya jalan berputar-putar, tapi saat akhirnya terbukti, seluruh tubuhku langsung lunglai.

Bang Idan dan yang lain juga melihat kaos itu. Reaksi mereka persis denganku. Kami langsung duduk dan menundukkan kepala ke tanah. Aku rasanya sudah tak sanggup lagi berjalan.

Dari sudut mata, kulihat Yuni yang duduk di sebelahku tiba-tiba bertingkah aneh. Dia menjatuhkan diri dan mulai merangkak. Tangannya terlihat mencakar-cakar tanah. Sebelum kami sadar apa yang terjadi, Yuni mengeluarkan suara auman yang menciutkan nyali.

Bulu kuduk ku menegak. Tapi menyadari didepan kami adalah jurang yang menganga, dengan cepat aku menangkap Yuni yang sedang mencakar-cakar dahan pohon sambil meraung. Aku khawatir Yuni yang sedang kerasukan akan melompat ke jurang. Tapi usahaku dipatahkan dengan mudah. Aku hampir tak percaya, Yuni yang bertubuh kecil bisa melemparku begitu saja. Kedua temanku yang lain, Ale dan Anes membantu, tapi kembali mereka dibanting begitu saja. Kemudian secara bersamaan kami bergerak dan menangkap Yuni.

Bang Idan tak ikut membantu karena Bang Amran juga memberontak berusaha melepaskan diri sambil marah-marah. Nafasku memburu, irama jantungku berderap kencang tak beraturan. Aku dan Ale yang memegangi tangan kanan dan kiri Yuni dibanting kesana-sini dengan mudah, tapi kami masih terus menolak melepaskan. Anes yang memegangi Yuni dari belakang juga tak luput dari amukan Yuni.

“Nenek Buyut maafkan kami Nenek. Tolonglah kami Nenek Setue, ” Kudengar suara Bang Idan mengiba memohon maaf.

Yuni menatap mata Bang Idan lekat, lalu perlahan menjadi tenang. Dia tak lagi mengamuk dan bergerak liar, tapi geraman-geraman mirip harimau masih terus terdengar dari mulutnya. Begitupun yang terjadi pada Bang Amran, dia pun mendadak menjadi tenang, matanya tertutup. Aku mengucap syukur dalam hati. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Kulihat Bang Idan menarik nafas panjang beberapa kali. Dia tampak sudah sangat kelelahan. Aku berdoa semoga Allah melindungi kami, terutama Bang Idan. Jika Bang Idan ikut kesurupan, kami semua tamat.

“Dek, Le, Nes, masih kuat kalian?” Tanya Bang Idan.

“Kuat bang.” Jawab kami nyaris serempak.

“Aku jaga Amran, bisa kalian jaga Yuni? Jangan sampai dia berontak dan lari ke jurang.” Tanya Bang Idan lagi.

“Bisa Bang. Kami akan jaga.” jawabku.

Bang Idan mengangguk. Lalu dia berdiri dengan lemah sambil memapah Bang Amran.

” Dek, kalian jalan duluan.” Kata Bang Idan.

Kami menurut. Anes dan Ale memegangi Yuni, dan aku berjalan paling depan sambil memegangi senter.

Saat cahaya senter ku arahkan ke jalur aku langsung gugup. Sebelumnya jalur itu sudah kami lewati, tapi sekarang aku tak mengenali jalur di depanku ini.

“Ada apa, dek?” Tanya Bang Idan.

Wajahku menoleh kearah Bang Idan, mimik gugup dan takut terlihat jelas di wajahku.

“Bang, kek mana ini Bang? Jalurnya jadi ada dua bang?”

Bang Idan seakan tak mempercayai ku hingga akhirnya dia melihat sendiri. Jalur itu kini ada dua, dan kedua jalur itu tak ada yang kami kenali sama sekali.

“Insting kau pilih yang mana, Dek?” Tanya Bang Idan.

Aku menjawab tanpa ragu, “logikanya yang kiri pasti ke jurang, Bang. Yang benar yang kanan kalo instingku.

Bang Idan tampak berpikir dengan keras. Kami semua diam menunggu keputusan Bang Idan. Lalu Bang Amran membuka matanya, dia menatap kami satu persatu sambil nyengir disusul tawa terbahak-bahak

“Hi hi hi kamu ngga bisa pulang… ” Bang Amran yang masih terus kesurupan berbicara diantara tawanya. Kalimat itu dia ucapkan terus menerus dengan nada mengejek.

Wajah Bang Idan langsung mengeras, lalu berteriak kencang, “SEMUA PASTI PULANG! TIDAK ADA YANG DITINGGAL!!”

Aku terpaku menghadapi situasi yang mendadak kembali tegang. Sementara Ale dan Anes juga panik karena Yuni tiba-tiba mulai menggeliat lagi dan mulai mengaum dengan buas.

“Kamu ngga bisa pulang!! Hahahaha” Bang Amran membentak ku disusul tawanya yang seakan menertawakan ketidak berdayaan kami.

Ale dan Anes berteriak-teriak saat Yuni memberontak. Mereka terbanting-banting ke kanan dan kiri. Lalu diantara geraman-geramannya, Yuni berbicara, “Lompat ke jurang. Lompat ke jurang.”

Kami berpandangan dengan ngeri mendengar ucapan Yuni, terutama karena posisi kami yang memang tepat di bibir jurang. Kakiku gemetar. Kabut yang menutupi jurang mengaburkan pandangan tentang seberapa dalam jurang itu sebenarnya. Pelan aku mundur menghindari tepian.

Lalu sesuatu terjadi dengan begitu cepat, aku dan Bang Idan hanya mampu mematung dengan wajah ketakutan ketika Yuni menggeram dengan kencang sambil melempar Ale dan Anes ke dalam jurang. Tubuh kedua temanku itu langsung hilang ditelan kabut, sementara suara teriakannya bergema diantara dinding-dinding jurang.

Baik aku atau Bang Idan benar-benar shock hingga kami kami hanya bisa mematung tak mampu bergerak. Yuni mengalihkan perhatiannya pada Bang Amran yang berteriak dan marah-marah tak karuan. Lagi-lagi kami hanya bisa melihat dengan ketakutan ketika Yuni menendang Bang Amran yang langsung terbalik ke jurang diiringi suara tawa yang mengerikan.

Belum sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi, Yuni tiba-tiba merangsek ke arah ku dan Bang Idas dengan gerakan seperti harimau dan mendorong kami semua termasuk Yuni sendiri masuk ke jurang, sambil berteriak kencang, “SEMUA MASUK JURAAANG!!!” 

Baca Rekomendasi :   Part 10 (End) : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan
1 Comment
  1. […] Part 5 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan, setelah kejadian-kejadian yang menegangkan. Masih berlanjut dan membuat kami semakin putus […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page