Part 7 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Mataku menyisir batas hutan mencari-cari, berharap mereka segera tiba dan mengajakku pergi dari tempat menyeramkan ini.

Teror Gunung Dempo Part 4
0 628

Kejadian-kejadian yang mencekam di Part 6 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan, ternyata masih belum selesai. Kami masih harus mengalami teror-teror yang lebih menegangkan dan membuatku berfikir. Disinikah akhir dari petalangan kami.

Dengan pandangan mata tak senang, Kakek itu pelan-pelan menutup pintu. Kudengar suara Kakek Nenek itu berbisik, tapi aku sama sekali tak mampu menerka apa yang mereka bicarakan. Bisik-bisik itu hilang setelah beberapa menit, digantikan suara dengkuran.

Tapi itu bukan suara dengkuran manusia….

Aku bergidik ngeri, tubuhku gemetar tak terkendali. Jantungku berdegup-degup semakin kencang. Pelan-pelan aku beringsut mundur berusaha tak bersuara. Tubuhku sudah sedemikian lemas, rasanya aku tak mampu lagi berlari jika sesuatu terjadi. Pandanganku lekat menatap pintu, berharap pintu itu jangan sampai terbuka. Tiap kali dengkuran itu terdengar, jantungku serasa mencelos.

Awan tersibak memunculkan bulan yang sedari tadi hanya mengintip. Dengan penuh harap aku memandangi batas hutan, berharap melihat teman-teman yang lain. Ingin rasanya aku berlari ke sana, namun bayangan-bayangan penghuni hutan kabut itu langsung membatalkan niatku.

Tapi berdiam disini pun rasanya aku tak mampu. Kengerian tempat ini sangat-sangat menekan. Mataku mulai panas, pandanganku buram, tanpa diminta airmataku tumpah. Dadaku terasa sesak dan aku mulai sesenggukan teringat orangtuaku.

Membayangkan kekhawatiran mereka, aku semakin tersedu-sedu, “Maafkan aku, Pak.” Sambil ku usap airmataku dengan ujung baju.

Dadaku semakin sesak saat terbayang wajah Ibu. Disaat-saat seperti ini rasa bersalahku pada mereka semakin menjadi. Aku tak hanya melanggar larangan mereka, tapi juga berbohong. Lalu sesuatu nampak bergerak di antara tanaman kubis, dengan panik aku menoleh. Tapi semua diam. Apakah hanya angin?

Ku pandangi gundukan tanah memanjang yang dipenuhi tanaman kubis dan terong itu. Daun-daun kubis yang berwarna putih terhampar sejauh mata memandang. Kubis-kubis sebesar kepala manusia tergeletak begitu saja di gundukan tanah itu, siap untuk di panen. Mataku nanar mencari-cari dari mana sumber gerakan tadi, tidak ada. Satu-satunya yang bergerak hanya kabut tipis yang mengular sejengkal di tanah.

Aku menelan ludah, apa yang bergerak barusan tadi?

Dengkuran kembali terdengar dari dalam pondokan, aku semakin ketakutan.

Ya Allah, cepatlah datang teman-teman. Aku memohon dalam hati. Mataku menyisir batas hutan mencari-cari, berharap mereka segera tiba dan mengajakku pergi dari tempat menyeramkan ini.

Aku mengutukki kebodohanku yang tiba-tiba saja berlari dan terpisah dari mereka. Bang Idan pasti sekarang sedang panik mencariku. Ya Allah, maafkan aku Bang Idan, maafkan aku teman-teman.

Lagi-lagi sudut mataku menangkap sesuatu yang bergerak, tapi teringat kalimat Bang Idan untuk mengabaikan saja, aku pun berusaha tak mempedulikan. Mataku was-was mengawasi pintu. Rasanya ada sesuatu yang mengintai di balik pintu kayu itu.

Tapi gerakan-gerakan di sudut mataku tak juga hilang. Aku berteriak histeris ketika menyaksikan kengerian yang terhampar di depanku.

Buah-buah kubis sebesar kepala itu nyatanya memang kepala. Gundukan-gundukan tanah disekitar pondokan itu kini dipenuhi kepala-kepala manusia yang bergerak-gerak ganjil. Beberapa nampak sedang berusaha mengeluarkan badannya dari dalam tanah. Tangan-tangan kurus dan pucat menggapai-gapai di semua tempat. Ladang itu kini dipenuhi suara erangan-erangan.

Mataku terbelalak, tenggorokanku tercekat. Tubuhku kaku tak mampu digerakkan. Yang bisa kulakukan hanya menatap ngeri melihat orang-orang itu satu persatu keluar dari dalam tanah. Setiap otot di tubuhku mengejang.

Perlahan bulan kembali tertutup awan ketika tubuh-tubuh pucat itu mulai bergerak ke arahku sambil terus menerus mengerang. Yang kuharapkan saat ini hanya pingsan atau mati saja, aku sudah tak mampu lagi. Dengkuran-dengkuran dari dalam pondokan juga semakin menjadi.

Ketika kudapatkan kembali suaraku, yang bisa kulakukan hanya menangis sejadi-jadinya sambil berteriak-teriak histeris.

“BAPAKKKKK…. IBUUU… TOLOOOOONG….. “

Ratusan tubuh itu terus bergerak semakin mendekat sambil mengeluarkan suara erangan. Beberapa mengeluarkan suara tangisan menyayat hati, suara lain memohon-mohon minta tolong. Kepalaku bergerak ke kiri dan kanan dengan panik mencari jalan keluar, tapi tubuhku tetap tak mau digerakkan seakan tertancap di bale-bale ini.

“ASTAGHFIRULLAH!! YA ALLAH!! TOLOOONG…!! TOLOOONG…!!!”

Aku terus berteriak dengan putus asa. Tubuh-tubuh itu semakin dekat. Suara-suara juga semakin riuh.

“………Alpiiin, tolong Alpiiin………”

“TIDAK!! TIDAK!! PERGIII!!!”

“……..Alpiiin, jangan lari Alpin. Ikut kami Alpiiin.. …..”

“TIDAAKKK!! TOLOOOOONG…..!!!!”

Semakin dekat, wajah tubuh-tubuh pucat itu semakin jelas. Ada perempuan, ada laki-laki. Ada yang berpakaian seperti pendaki gunung, ada yang berpakaian seperti orang-orang desa, dan banyak lainnya. Kesamaannya, mata mereka kosong dan wajahnya pucat tanpa ekspresi, dan mereka terus bergerak semakin dekat.

“… Alpiiiin, Alpiiin…… “

“ASTAGHFIRULLAH!! YA ALLAH!! TOLONG AKU BANG IDAAAN….!!!”

“…….Alpiin tolong alpiiiiiiin……. “

“BAPAAAAAAKKKK!!! TOLOOOOONG!!!!”

Diantara erangan-erangan makhluk itu , aku mendengar dengan jelas suara Bapakku yang memerintahkanku untuk lari.

“PERGI NAK! PERGI!! SELAMATKAN DIRIMU!!LARI!!!”

Tubuh-tubuh itu dengan tangannya yang mencakar-cakar udara kini sudah mencapai tangga kayu. Dengan panik aku menggeser pantatku yang tiba-tiba saja bisa digerakkan sambil dengan panik kaki ku menendang-nendang mereka.

“PERGIII!! PERGIII!! TOLOOOOONG!!!”

Tapi bagaimana pun aku berusaha, tubuh-tubuh itu terus merangsek naik. Tangan-tangan dingin dan pucat itu menarik-narik kakiku. Aku kian histeris.

Lalu dari kejauhan kudengar pelan suara teriakan Bang Idan dan Anes yang memanggil-manggil namaku.

“BANG IDAAAAAANNNN!! TOLOOONGGG!!!”

Itu adalah teriakan histerisku yang terakhir sebelum tenggorokanku kembali tercekat kengerian.

Sebuah suara lain muncul dibelakangku. Jantungku serasa lepas, mataku membelalak ngeri. Pintu pondokan itu telah terbuka!! 

Baca Rekomendasi :   Part 10 (End) : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page