Part 8 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Telapak tanganku basah, jariku gemetar hebat. Suara-suara minta tolong dan menyayat hati itu terdengar semakin dekat.

Teror Gunung Dempo via facebook.com/Aras Anggoro
1 692

Sebuah suara muncul di belakangku pada Part 7 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan. Membuatku semakin yakin bahwa kami benar-benar tak akan selamat. Namun keyakinan kepada Sang Kuasa semakin kuat.

Suara teriakan Bang Idan dan Anes membangunkanku. Apakah aku pingsan? Kenapa aku pingsan? Tubuhku seketika mengejang teringat puluhan tangan-tangan pucat yang menggapaiku dan daun pintu pondokan yang terbuka. Aku panik dan histeris sambil menepis-nepis udara kosong.

Lalu kelegaan memelukku menyadari tubuh-tubuh itu sudah tak ada. Kelegaan berganti kengerian saat kesadaranku pulih. Aku bukan lagi duduk di bale-bale pondokan, melainkan sedang duduk di akar sebuah pohon besar di pinggir jurang. Akar yang ku duduki menjuntai di tebing yang menjorok diatas jurang yang menganga. Tubuhku gemetar saat memandang ke bawah. Kabut putih tebal menutupi dasar jurang ini.

Kulihat ke atas, Bang Idan dan Anes tampak sedang berhati-hati menuruni tebing untuk menolongku. Diatasnya lagi kulihat teman-teman yang lain: Bang Amran, Ale dan Yuni.

Aku kembali menangis karena ketakutan sambil memanggil-manggil Bang Idan.

“Baaang, kenapa aku disini, Bang??”

Bang Idan sambil masih bergerak turun menjawab untuk menenangkanku, “Tenang Dek. Jangan panik. Jangan bergerak-gerak.”

“Baang, tolong aku, Bang. Aku takut, Bang.” Aku menangis tersedu-sedu.

Tebing yang terlalu curam menghentikan gerak turun Bang Idan dan Anes. Sementara aku masih tak berani bergerak sama sekali.

“Dek, jangan panik. Sekarang tenangkan dirimu. Kau dengarkan suara Abang ini.” Bang Idan berteriak padaku. Ada jarak semeter vertikal yang memisahkan kami, tapi buatku rasanya jauh sekali.

Baca Rekomendasi :   Part 2 : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain

“Sekarang coba berdiri dan pegangan pada akar yang menggantung itu. ” Kembali Bang Idan memberikan perintah.

Dengan kaki gemetar ku beranikan diri untuk bergerak seperlahan mungkin. Aku menelan ludah kala melirik ke bawah, jurang itu seakan memanggil-manggilku. Salah sedikit tubuhku akan terlempar kesana.

“Terus, Dek. Kau tempatkan kakimu di akar yang itu, lalu pegangan pada akar yang ini.” Sambung Bang Idan lagi, tapi suaranya terdengar tegang.

“Terus, Pin. Pelan-pelan.” Kudengar suara Anes yang sama tegangnya dengan Bang Idan.

Aku tak bisa melihat ekspresi mereka berdua karena fokus mencari pegangan akar di tebing ini. Nafasku mulai habis dan ototku lelah karena takut dan tegang.

Angin dingin bertiup dari jurang tadi membuat tubuhku gemetar kedinginan. Lalu lamat-lamat kudengar suara-suara dari kedalaman jurang. Tubuhku kembali kaku, berharap aku hanya salah dengar. Ku pandangi jurang itu, tak ada apa-apa, hanya kabut tebal yang bergerak-gerak tertiup angin.

“De, jangan berhenti. Jalan terus!” Suara Bang Idan menyadarkanku.

Tapi baru saja akan bergerak, suara-suara itu muncul lagi.

“….. Alpiiiiiin, tolooooong….. ”

“…… Alpin, jangan tinggalkan kami, Alpiiiin… ”

Telapak tanganku basah, jariku gemetar hebat. Suara-suara minta tolong dan menyayat hati itu terdengar semakin dekat.

“Bang Idan, tolong bang. Aku takut. Ada suara-suara panggil aku, Bang.” Aku mulai terisak lagi.

Baca Rekomendasi :   Part 6 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

“Naik terus, Dek. Jangan kau dengarkan itu, ayo cepat!” Suara Bang Idan kian tegang. Anes dan teman-teman lain juga berteriak-teriak memintaku cepat naik.

Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan tenaga ku sambil berusaha tak mendengarkan suara-suara yang semakin mendekat. Sekali lagi ku lirik kabut tebal dibawahku.

“Jangan lagi kau toleh-toleh itu! Ayo cepat, dek!!” Bang Idan terus meneriaki ku.

Sekali lagi kuhirup nafas panjang lalu mulai berpegangan akar seperti yang Bang Idan perintahkan. Dari atas, tangan Bang Idan dan Anes juga berusaha menggapaiku.

“Terus, Dek. Sedikit lagi.” Bang Idan memberiku semangat.

Tanganku berpegangan kuat pada akar yang mencuat di tebing, kaki kiriku bertumpu pada akar kecil sementara kaki kananku bergerak-gerak mencari pijakan. Di bawah, suara-suara minta tolong itu terdengar semakin mendekat.

Satu gerakan, lalu tangan Bang Idan mengenggam tangan kananku. Anes dengan cekatan membantu menarik tangan kiriku ketika tiba-tiba ku rasakan tangan-tangan dingin menyentuh betisku. Aku membelalak ngeri melihat puluhan tangan muncul dari kabut dan menggapai-gapai serta menarikku.

“…. Alpiiiin, ikut kami, Alpiiiiin…. ”
“…. Alpiiiin, alpiiiiiin…… ”

“BAAANG IDAAAN, TOLONG BAAANG.” Aku kembali histeris. Tangan-tangan itu semakin kuat menarikku ke bawah.

“NES, TOLONG, NES!! AKU TAK MAU MATI, NES!! BAPAAAAK TOLOOOONG!!!!”

Tangan-tangan dingin itu naik terus dan menarik paha dan bajuku.

“Pegang terus tangan Abang, Dek! Jangan kau lepaskan! Jangan lihat ke bawah!!!” Bang Idan kali ini berteriak-teriak dengan panik.

Baca Rekomendasi :   Part 1 : Bertemu Dengan Dewi, Pendaki Wanita Serba Pucat di Gunung Arjuno

Tangan-tangan dingin itu semakin kuat menarik kakiku. Aku menangis sejadi-jadinya sambil berteriak minta tolong. Sekuat tenaga kukibas-kibaskan kakiku, menendang kesana-sini dengan liar berusaha membebaskan diri. Tapi tangan-tangan dingin itu seakan lengket dan tak mampu kulepaskan.

“BANNNG, TOLONG AKU, BAAAANG!!!”

“JANGAN LEPASKAN TANGAN ABANG, DEK! NAIK TERUS! JANGAN LIHAT KE BAWAH!!!” Teriak Bang Idan.

Lalu muncul suara yang kukenal dari bawah. Itu adalah suara Bang Idan juga.

“JANGAN PERCAYA, DEK! LEPASKAN TANGANMU! CEPAT, DEK!!

Mataku membelalak ketika ku tengok ke bawah, tangan-tangan yang menarik tanganku adalah tangan Bang Idan, Anes, Ale dan teman-teman lain. Aku kaget, mana yang benar?

Dari atas kembali terdengar teriakan Bang Idan.

“JANGAN KAU DENGARKAN, DEK! DENGARKAN SAJA SUARA ABANG! JANGAN DENGAR YANG LAIN!”

Aku hampir mati ketakutan ketika melihat asal suara barusan. Yang semula diatas adalah Bang Idan dan Anes, kini berubah. Yang memegang tangan kananku adalah Kakek dari pondokan itu, sedang tangan kiriku dipegangi oleh si Nenek berwajah hitam dengan rambut awut-awutan.

Dengan panik dan histeris aku memberontak ketakutan, berusaha melepaskan tanganku dari pegangan dua makhluk itu. Aku semakin ketakutan ketika dari atas mereka, muncul lagi sesosok makhluk hitam besar berbulu, datang dan ikut menarik tanganku. Aku berteriak-teriak semakin histeris.

“LEPASKAAAAAAN!!! LEPASKAAAAAAN!! TOLOOOONGGGGG!!!”

Ketiga makhluk itu tertawa mengerikan, sambil menarik tubuhku keatas

1 Comment
  1. […] kejadian demi kejadian yang mulai merenggut nyawa di Part 8 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan. Ternyata kami masih harus bertarung melawan alam ghaib. Akankah kami […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page