Part 9 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Aku tertegun tak bereaksi apa-apa. Benarkah ini Bang Idan asli yang memelukku? Wajahnya tampak nyata, juga wajah Anes serta Ale.

Teror Gunung Dempo Part 2 via kapanlagi.com
1 780

Setelah kejadian demi kejadian yang mulai merenggut nyawa di Part 8 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan. Ternyata kami masih harus bertarung melawan alam ghaib. Akankah kami berhasil?

***

Aku histeris, tiga makhluk itu dengan kasar menarikku ke arahnya. Sementara dari bawah, suara-suara Bang Idan dan yang lainnya berteriak-teriak memintaku kabur. Aku berontak dengan liar, kakiku menyepak-nyepak, pandanganku buram oleh air mata. Usahaku sia-sia belaka menghadapi tiga mahkluk itu, aku ditarik semakin ke atas.

Aku kehabisan tenaga, tubuhku melemah, tapi aku tak mau berhenti memberontak. Menyadari usahaku yang kian lemah, nenek berwajah hitam itu tertawa cekikikan. Suara tawanya terdengar menggema menembus relung-relung hutan. Tubuhku menggelepar-gelepar melawan ngeri saat tangan besar berbulu merangkul tubuhku dari belakang dan menarikku ke atas dimana lebih banyak lagi sosok-sosok dengan bentuk yang mengerikan tampak menunggu.

Bibirku bergerak lemah mengeluarkan suara-suara minta tolong yang hanya mampu kudengar sendiri. Bayangan-bayangan berkelebat di pikiranku tentang sosok-sosok tubuh tanpa jiwa di ladang kubis. Aku tak ingin berakhir seperti mereka. Aku ingin pulang….

Lalu bagai mendapat tenaga baru, aku kembali berontak berusaha melepaskan diri sambil berteriak-teriak.

LEPASKAN! LEPASKAAAAAN!!!

Kakek itu tertawa melihat perlawananku. wajahnya menyeringai menakutkan. Dengan kasar dia memeluk tubuhku. Nenek berwajah hitam itu juga ikut memegangiku, tapi aku tak mengalah dan terus berontak.

“DIAM KAMU! DIAM!!” Makhluk hitam berbulu itu membentakku. Tangannya yang besar bergerak dan ikut memegangi tubuhku. Aku kian lemah, namun tetap melawan dengan sisa tenagaku.

Sementara suara teriakan Bang Idan dan teman-teman lain menggema di dinding-dinding jurang.

“LEPASKAN TEMAN KAMI!!” Suara Anes terdengar jelas, “LEPASKAN!!”

Saat wajahku menoleh ke bawah, kulihat Bang Idan dan Anes tengah memanjat dinding jurang. Mimik wajah Bang Idan terlihat takut. Aku memandangi mereka dengan tanpa harapan apapun. Aku sudah pasrah. Wajah Bang Idan adalah yang terakhir kulihat sebelum ku menutup mata.

“Dek, sadar, Dek. Buka matamu.”

Suara itu terdengar hangat dan menenangkan. Lalu tepukan lembut pada pipiku.

“Sadar, Dek. Buka matamu. Ini Bang Idan, Dek.”

Walau berat ku paksa mataku untuk membuka, kulihat Bang Idan tengah memelukku. Wajahnya terlihat panik. Airmata mengalir di kedua pipinya.

“Dek, istighfar. Nyebut, Dek. Ini Bang Idan, ” Kembali dia berkata, “coba kau tengok, ini teman-temanmu, ini Ale, ini Anes.”

Aku tertegun tak bereaksi apa-apa. Benarkah ini Bang Idan asli yang memelukku? Wajahnya tampak nyata, juga wajah Anes serta Ale.

Pelan-pelan ku palingkan wajahku dari mereka dan melihat ke arah jurang. Tak terlihat siapapun, yang ada hanya kabut yang bergulung-gulung. Tapi telingaku jelas menangkap suara teriakan Bang Idan dari sana memintaku kabur dan menyuruhku menjatuhkan diri ke jurang.

Yang mana yang benar? Yang mana yang harus kupercaya? Teriakan-teriakan dari bawah dan suara isak Bang Idan yang memelukku menyerbu telingaku. Lalu sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Dalam shock akibat rasa sakit dan pandangan yang berkunang-kunang, kudengar jelas suara teriakan Bang Amran.

Baca Rekomendasi :   Part 3 (End) : Pendakian Gunung Gede, Penampakan Nenek Tua di Surya Kencana

“DEK, SADAR, DEK!!”

Kesadaran perlahan menguasaiku. Bang Idan menangis tersedu-sedu dan nampak terus berusaha menyadarkanku.

“Ngucap, Dik. Sadar.” Suara Bang Idan kini terdengar jelas, “lihat, Dek. Ini Bang Idan. Lihat itu teman-temanmu. Ini Ale, Anes. Itu Bang Amran, itu Yuni.” Sambil berkata begitu, dia mengusap-usap lembut punggungku. Di momen itu kesadaranku kembali. Mataku mendadak panas lalu tangisku pecah. Kupeluk dia dengan erat.

“Ini bener Bang Idan??” Kataku di sela tangisku.

“Iya Dek, ini Abang. Lihat ini Abang.” Bang Idan meyakinkanku.

“Yang di tebing itu siapa, Bang? Aku lihat abang dan yang lain tarik-tarik aku dari bawah tebing.”

“Tidak ada itu, Dek. Itu cuma halusinasi.” Sambil Bang Idas terus mengusap-usap punggungku, “sekarang kau aman. Istighfar, Dek.”

Masih banyak yang ingin kutanyakan, tapi Bang Idan menghentikanku. Dia memintaku tenang dan mengatur nafas. Aku mengerti. Kulihat teman-teman yang lain dengan wajah paniknya. Yuni dan Bang Amran juga terlihat menangis, rupanya mereka juga sudah sadar. Lalu kami semua menangis dan berpelukan sambil mengucap syukur.

Tak menunggu lebih lama lagi, Bang Idan meminta kami segera bergerak. Aura negatif ditempat ini terlalu menekan.

“Am, kamu benar sudah sadar?” Tanya Bang Idan pada Bang Amran.

“Insya Allah, Dan.” Jawab Bang Amran mantap.

“Ya sudah, kamu pegang senter jalan duluan. Aku menjaga Alpin. Ale dan Anes, kalian bimbing Yuni.” Bang Idan membagi-bagikan tugas, lalu dia bertanya padaku, “kuat kamu jalan, Dek?”

Aku mengangguk dan coba berdiri. Tapi kakiku ternyata masih terlalu lemah menahan berat tubuhku. Aku kembali roboh. Tanpa bicara lagi, Bang Idan membantuku berdiri. Lalu memapahku berjalan.

Perjalanan kami semakin lambat. Fisik kami semakin melemah, ditambah cobaan-cobaan yang terus menghancurkan mental kami. Hanya dalam hitungan jam, keadaan kami sudah hancur luar dalam. Bang Amran dan Yuni yang kerasukan, Anes dan Ale yang terus menerus diteror dan aku yang paling parah. Penguat kami hanya Bang Idan.

Saat aku mulai kembali tenang. Ribuan pertanyaan melesat di benakku. Kejadian barusan bagaikan mimpi buruk yang masuk ke dunia nyata. Kenapa tiba-tiba aku ada dipinggir jurang? Kemana perginya pondok di tengah ladang itu? Siapa mayat-mayat hidup tadi? Kenapa mereka menangis dan meminta tolong? Siapa Kakek Nenek menyeramkan itu?

Tak sanggup lagi kupendam sendiri, aku bertanya pada Bang Idan, “Bang, kenapa aku tiba-tiba ada di pinggir jurang tadi? Siapa yang di dalam jurang, menjerit-jerit dan meminta tolong?”

Bang Idan menarik nafas dalam sambil menatap mataku, “Tadi kamu tiba-tiba teriak ‘Selamat! Selamat!’ sambil berlari ke arah jalur turun. Abang dan Anes ngejar kamu, tapi kami kehilangan jejak. Kamu hilang.”

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 1): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Bang Idan sejenak diam, tapi aku masih tetap menunggu.

“Abang sudah putus asa, Dek. Kami pikir kamu ngga akan selamat. Abang sempat berpikir cepat turun untuk cari bantuan, ” Bang Idan menyambung lagi, “kamu tadi itu kenapa?”

Aku lalu menceritakan ladang kubis yang kulihat, pondokan dan lain-lain. Bang Idan dan yang lain mendengarkan ceritaku sambil kami tetap berjalan. Nafas-nafas berat, tarikan nafas dalam dan istighfar bergantian terucap dari yang lain.

“Sudah, sudah. Bergerak lebih cepat. Kita masih belum aman.” Bang Idan memotong ceritaku.

Bang Idan benar. Walau tidak ada gangguan apapun, tapi aku merasa banyak mata yang sedang mengawasi kami dari kegelapan hutan. Kami masih jauh dari aman dan keadaan kami kian memprihatinkan. Anes, Ale dan Yuni berjalan pelan dengan terpincang-pincang. Kami saling berpandangan dengan wajah ketakutan, mencoba saling menguatkan tanpa bersuara.

Turunan demi turunan terus menghadang langkah kami. Beberapa turunan membutuhkan konsentrasi lebih dibanding yang lain. Batu-batu lepas, juga akar ditambah cahaya senter yang kami gunakan bergantian. Setiap saat rasanya kami justru semakin bertambah lambat.

Tiba-tiba kudengar Ale dibelakangku berteriak kencang.

“AWAS PIIIN!!’

Belum sempat menoleh, kurasakan tangannya mendorongku dengan keras. Aku tersentak ke depan bersama Bang Idan yang sedang memapahku dan menabrak Bang Amran yang berjalan paling depan. Bertiga kami terguling ke dalam sebuah turunan yang curam. Sebuah bayangan hitam melintas cepat diatas kepalaku.

Kami begitu kaget hingga tak sempat berteriak. Darah terlihat mengucur dari pelipis Bang Amran. Dia berdiri sambil mengaduh kesakitan, begitupun Bang Idan. Aku meraba kepalaku yang sempat terantuk batu, darah merembes dari sela-sela rambutkurambutku, tanganku juga rasanya terkilir.

Aku hampir patah semangat lagi. Kenapa cobaan ini belum juga berakhir? Ingin rasanya ku berteriak sejadi-jadinya pada penghuni Dempo untuk mohon ampun, tapi kerongkongan ku kering. Aku tak mampu bersuara.

Di atas tanjakan kulihat Ale, Anes dan Yuni gemetar ketakutan. Bang Idan memeriksa lukaku dan menenangkanku. Bang Amran berdiri dan berteriak dengan marah pada Ale, “Kenapa kamu main dorong aja, Le??”

Ale menjawab terpatah-patah, dia juga masih shock dan ketakutan.

“Ta.. tadi makhluk hitam mau menerkam Alpin, Bang. Aku spontan dorong Alpin, maafin aku, Bang.”

Aku langsung lemas mendengar jawaban Ale. Bibirku kembali beristighfar. Bang Idan memandangiku, nampak ada sesuatu yang tengah dia pikirkan. Tak lama, dia kembali memberi aba-aba agar kami kembali bergerak.

Setelah kejadian terakhir kami jadi lebih berhati-hati. Tiap kali turun atau melompat, sebelumnya kami akan menoleh terlebih dahulu, memastikan tak ada mahluk apapun yang menerkam.

Saat lelah sudah tak tertahankan, Bang Amran yang berjalan paling depan memberi aba-aba untuk istirahat. Disaat beristirahat itu, Bang Idan bertanya padaku.

“Pin, ini ada yang ngga beres. Abang perhatikan, kau yang paling banyak di incar. Ada yang kau tutupi, Pin?” Tanyanya.

Baca Rekomendasi :   Part 7 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Aku tergagap ditodong pertanyaan mendadak. Mulutku gelagapan, bingung harus bagaimana menjawabnya.

“Abang ngga marah, Pin. Ada apa ini sebenarnya? Mungkin dengan jujur dan mengakui kesalahan, kita semua akan selamat.” Sambung Bang Idan lagi.

Lepas menatapku dia menatap semua orang dan menanyakan hal yang sama, “Ayo, semua. Kalau ada yang mau diakui. Jangan tutupi apapun. Kita harus saling jujur.”

Kami semua menunduk mendengar suara tegas Bang Idan. Tapi dia terus menatap kami, menuntut sebuah jawaban.

Dadaku berguncang, dan aku mulai menangis. Semua mata memandangku saat aku mulai bicara.

“Bang Idan, teman semua, aku minta maaf. Bukan maksud aku berbohong.” Aku mulai berbicara pelan sambil sesekali mengusap air mata.

Bang Idan menatapku, “bohong apa, Pin?”

“Aku dilarang naik Dempo oleh Bapak Ibuku, Bang. Tapi aku nekat. Aku bohong ke mereka kalau aku cuma mau ke Prabumulih, ke tempat om ku.”

“Astaghfirullahaladzim… ” Bang Amran terdengar gusar oleh penjelasanku.

“Tapi kau bilang pada kami, kau sudah dapat ijin, Pin?” Bang Idan bertanya dengan tenang, tak terpancing oleh Bang Amran yang mulai nampak emosi.

Tangisku makin tak terkendali, “Aku juga bohong pada kalian, Bang. Maafkan aku, Bang. Aku menyesal, Bang.” Aku menjawab sambil sesenggukan.

Bang Idan menghela nafas panjang namun dia tetap tenang. Sementara Bang Amran semakin emosi. Suaranya makin meninggi.

“Benar kataku, Dan. Ada yang tak beres! Ayo siapa lagi yang mau jujur?!” Bang Amran bertanya pada semua orang.

Bang Idan berdiri dan menenangkan Bang Amran, “Sudah, sudah, Am. Semua sudah terjadi. Jangan marah.” Katanya, lalu dia memandangi kami semua dan menyambung, “Sudah, jangan menyalahkan.Jadikan ini pelajaran, lain kali jangan pernah berbohong pada Orang tua. Bahaya.”

Kami semua mengangguk takzim.

“Apa lagi hendak naik gunung. Wajib hukumnya ijin orang tua. Tak diijinkan, ya sudah. Jangan berbohong. Dempo tak akan ke mana-mana. Dia akan menunggu sampai kita siap. Ingat itu.”

Aku menunduk makin dalam. Rasa bersalahku sedemikian besar. Bang Idan tampak mengerti, dia mengusap punggungku dan mengajak kami semua berjalan lagi.

Tiba-tiba Yuni menjerit histeris dan meronta-ronta. Kulihat Ale dan Anes dengan sigap memegangi Yuni yang kian kalap. Ale berteriak-teriak minta tolong, tubuh Yuni terangkat ke udara, jeritannya kian kencang. Bang Amran dan Bang Idan melompat dan memegangi kaki Yuni. Sementara aku berdiri mematung, tak mampu bergerak.

Mataku membelalak lebar. Sesuatu yang menarik Yuni yang membuat mataku seakan keluar dan jantungku seakan berhenti berdetak. Aku mendongak ketakutan menatap penampakan perempuan itu. Pakaian putih panjangnya berkibar-kibar tertiup angin. Seringai dingin tersungging di mulutnya.

……………… Putri Dempo…………..

Cerita ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh para pendaki dan merupakan tulisan dari Bang Aras Anggoro yang sudah di izinkan untuk tayang di sini.

1 Comment
  1. […] berkutat dengan berbagai makhluk halus di Part 9 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan. Pada akhirnya kamu masih harus berjuang hingga titik darah […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page