Part 10 (End) : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Yuni menenggelamkan wajahnya diantara dua lututnya dan menjawab, "Ada bayangan hitam mau masuk ke badanku, Bang. Aku takut."

Teror Gunung Dempo Part 4
0 1.079

Masih berkutat dengan berbagai makhluk halus di Part 9 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan. Pada akhirnya kamu masih harus berjuang hingga titik darah penghabisan.

***

Aku panik dan tak mengerti. Mengapa yang lain seakan tak melihat Putri itu. Mata Putri itu terus menatapku dingin, tangannya menarik kerah baju Yuni yang terus memberontak dan menjerit-jerit. Semua saling berteriak dengan panik. Keadaan makin mencekam kala kelima temanku seakan kalah dan mulai terangkat.

Ku kumpulkan keberanian, lalu mengambil sebatang kayu dan berteriak sambil mengayunkan kayu itu ke tangannya. Aku benar-benar kalap.

“LEPASKAN! LEPASKAN BANGSATTT!!”

Bang Amran tiba-tiba menerkamku dan memegangi tanganku sambil berteriak, “JANGAN! JANGAN!!”

Bang Idan juga berteriak-teriak padaku, “ALPIN, JANGAN! KENAPA KAU PUKUL KEPALA YUNI! ALPIN, JANGAN!”

Bang Amran akhirnya menjatuhkan kayu yang kugenggam dan menjatuhkanku. Kutatap keatas, pandangan putri itu melekat padaku dengan tatapan murka. Kemudian entah dari mana terdengar suara raungan harimau membahana. Aku menjerit histeris sambil menutup telingaku. Auman harimau itu seakan merontokkan setiap sendi di tubuhku. Kulihat Putri itu pun melepaskan Yuni dan terbang menjauh. Aku semakin histeris ketika melihat sepasang Harimau sebesar sapi dewasa diatas tanjakan.

Kedua harimau itu menatap Putri yang terbang semakin jauh. Raungannya sudah berhenti, hanya menyisakan geraman-geraman yang tak kalah mengerikannya. Ketika Putri itu hilang, kedua harimau itu berbalik menatap kami.

Tubuhku panas dingin, aku gelagapan tapi tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun untuk memperingatkan yang lain. Tubuhku terasa lumpuh. Kedua harimau itu tepat berada tanjakan di atas teman-temanku.

Aku panik bercampur bingung. Bagaimana mungkin mereka tidak melihat Harimau sebesar itu. Tatapanku berpindah-pindah antara kedua Harimau itu dan teman-teman yang sedang sibuk menenangkan Yuni yang menangis.

Bang Amran tiba-tiba membentakku, ” TADI KENAPA MAU KAU PUKUL KEPALA YUNI!!?”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan menjawab bentakan Bang Amran, “Aku bukan pukul Yuni, Bang. Aku pukul Putri yang muncul didepan kita di Puncak! Yuni mau dibawanya!”

Mendengar jawabanku, wajah Bang Amran dan yang lain langsung pucat. Keheningan mengambil alih, yang terdengar hanya isak tangis Yuni. Bang Idan berpaling pada Yuni dan bertanya, “Tenang, Dik. Tenang. Kamu kenapa tadi?”

Yuni menenggelamkan wajahnya diantara dua lututnya dan menjawab, “Ada bayangan hitam mau masuk ke badanku, Bang. Aku takut.”

Bang Idan membiarkan Yuni menangis hingga tenang sendiri, sambil terus mengingatkan agar kuat. Bang Amran menatapku seakan mengucapkan terima kasih dan minta maaf karena telah menolong Yuni, juga karena salah duga.

“Bukan aku, Bang. Putri itu pergi karena ada sepasang Harimau yang muncul dan meraung.” Kataku sambil menunjuk dua Harimau itu dengan jariku.

Mereka serempak kaget dan waspada dan mencari-cari keberadaan kedua Harimau tersebut. Anes yang sebelumnya telah melihat Harimau itu langsung pucat pasi.

“Sudah hilang, Bang. Yang tinggal hanya si Putri itu, dia masih mengawasi kita dari atas pohon.” Aku berbisik ketakutan.

Mereka makin panik mendengar kalimat terakhirku. Bang Idan langsung berdiri dan mengajak jalan lagi. Yuni dipapah oleh Anes dan Ale.

“Cepat, cepat. Tinggalkan tempat ini.” Kata Bang Idan.

Kami terus berjalan dalam diam tanpa ada yang berbicara. Hanya sesekali Bang idan memanggil nama-nama kami hanya untuk memastikan kami masih ada. Aku berjalan dengan tangan ku diapit Bang Idan dengan ketat. Mengetahui aku yang lebih sering dijadikan sasaran, membuat fokusnya lebih kepadaku.

“Ada apa, Dek?” Tanyanya saat merasakan tanganku gemetar.

Aku menatap matanya, tak yakin untuk bercerita. Tapi dia terus mendesakku.

“Putri itu masih mengikuti kita, Bang.” Bisikku.

Bang Idan menarik nafas dalam, dia tampak sudah sedemikian lelah dengan berbagai kejadian malam ini. Dia mengingatkanku untuk jangan kosong, berdoa terus. Mungkin Putri itu menunggu saat pikiran kosong agar dapat kembali mengganggu, Bang Idan berpendapat.

Aku diam tak berani berpendapat. Yang tak diketahui Bang Idan, sejak tadi aku mendengar langkah dan geraman-geraman harimau di balik pepohonan, seakan mengikuti langkah kami. Beberapa kali kulihat kelebatan-kelebatan berwarna loreng emas diantara semak pepohonan. Aku semakin gemetar.

Di belakangku, Yuni terlihat sudah hampir mencapai batas kekuatannya. Matanya sudah sedemikian sayu. Keadaan yang hampir sama kulihat juga di wajah Anes dan Ale. Begitupun keadaanku. Cukup satu kejadian lagi, mungkin kami berempat akan colaps. Tapi yang paling ku khawatirkan justru keadaan Bang Idan. Sepanjang perjalanan turun yang penuh teror ini, tak sekalipun kulihat tanda menyerah dimatanya. Namun semenjak kejadian terakhir, tanda itu tak lagi terlihat di matanya, dan dia lebih banyak diam.

Tapi mungkin hanya perasaanku. Karena secara berkala dia selalu menengok ke belakang untuk melihat keadaan Yuni, Anes dan Ale. Juga berulangkali menanyakan keadaan Bang Amran di depan.

Lalu cobaan itu datang lagi.

Tiba-tiba saja Bang Amran menghentikan langkahnya dalam posisi yang ganjil. Kami semua langsung tahu apa yang sedang terjadi, dan menunggu apa lagi yang akan kami alami kali ini. Bang Idan langsung waspada dan menengok Yuni. Di saat itu, Bang Amran tiba-tiba saja berlari ke depan dan melompati sebuah turunan terjal dengan sekali gerakan. Aku terpana tak bergerak melihat lompatan Bang Amran. Sementara Bang Idan yang merasa kecolongan langsung berlari mengejar Bang Amran sambil berteriak-teriak memanggil.

“AM! AAM! HATI-HATI AM, JANGAN LARI, BAHAYA! AMMM!!!”

Bang Amran dan Bang Idan berlari terus hingga hilang dari pandangan kami yang sudah nyaris tak mampu bergerak. Yuni bahkan langsung pingsan.

Kami yang tersisa, dalam diam mengangkat Yuni dan bergerak pelan dalam diam. Kelelahan fisik dan mental yang kami alami sudah diambang batas, bahkan untuk panik pun kami tak mampu.

Lalu kulihat punggung Bang Amran. Dia tengah berdiri dengan sikap congkak. Tarikan-tarikan Bang Idan seakan tak dirasanya. Kemudian kusadari apa yang sedang di hadapi oleh Bang Amran yang sedang kerasukan.

Didepannya nampak olehku sekitar sepuluh orang pendaki gunung. Aku lega dan tanpa diminta air mataku mengalir. Kami selamat! Terima kasih Ya Allah, kami selamat!
Tapi aku sudah terlalu lemah untuk bersuara. Dan kaki kami mendadak lemas ketika suara Bang Amran menggelegar.

“TIDAK ADA YANG BOLEH NAIK KE GUNUNG MALAM INI! PERGI KALIAN SEMUA!!

Para pendaki itu diam sambil terus memperhatikan gerak-gerik Bang Amran yang petantang-petenteng kesana kemari.

” KALAU MASIH ADA YANG NEKAT, KALIAN TERIMA AKIBATNYA NANTI!!”

Lalu dengan sebuah gerakan tangan, Bang Idan terjatuh. Tahulah pendaki-pendaki itu apa yang sedang mereka hadapi. Yang terdepan diantara mereka, meminta teman-temannya untuk duduk bersila, sementara dia tetap berdiri dengan membungkuk sopan pada Bang Arman. Kulihat dibelakang orang itu, teman-temannya dengan tidak terburu-buru melepaskan carriernya dan digeletakkan begitu saja. Mereka lalu duduk bersila sambil berkomat-kamit. Dari jarak ini, telingaku kesulitan mendengar apa yang mereka dengungkan. Tak lama barulah kusadari, mereka tengah berzikir.

“PERGI KALIAN! TAK ADA SATU PUN MANUSIA YANG KU IJINKAN NAIK MALAM INI!”

Pendaki-pendaki itu, yang tampaknya adalah mahasiswa tak terpancing, mereka tetap duduk dan berzikir. Sementara yang paling depan mulai menyadari kehadiranku dan teman yang lain di belakang Bang Amran yang sedang bertolak pinggang.

“Baik Nek, kami tidak naik. Kami akan segera turun, Nek.” Dia membuka suara dengan nada yang juga sopan.

“PERGI! PERGI KALIAN!!!”

“Kami akan pergi, Nek. Tapi ijinkan kami membawa adik-adik kami di belakang itu.”

TIDAK! MEREKA SEMUA AKAN KAMI BAWA!! PERGI SEKARANG JUGA ATAU KALIAN MENYESAL, PERGI!!

Pendaki yang paling depan itu tampak memberi aba-aba sesuatu pada temannya di belakang. Lalu tanpa bicara lagi, beberapa dari mereka merangsek ke arah Bang Amran dan segera menjatuhkannya. Beberapa yang lain menolong Bang Idan, lalu menolong kami semua.

Raungan harimau kembali terdengar. Aku menutup telingaku sambil berteriak-teriak, begitu juga dengan Bang Amran yang langsung lemas tak bertenaga. Kurasakan tangan-tangan penolong itu memapahku dan segera melarikanku turun. Aku tak merasakan lagi kehadiran sosok pasangan Harimau tadi setelahnya.

Dengan mata setengah terbuka dan pandangan yang buram, kulihat Yuni yang pingsan digendong dipunggung seseorang. Tubuhnya diikat, seakan orang itu sedang menggendong carrier, dan masing-masing kami di papah oleh dua orang.

Tidak ada pembicaraan apapun, mereka bergerak dengan sistematis seakan sudah terbiasa. Dengan cepat mereka membawa kami turun.

Adzan subuh berkumandang saat kami berhasil mencapai ladang penduduk. Kesadaranku timbul tenggelam. Diantara saat-saat sadarku, kulihat tanaman teh di mana-mana, lalu gelap lagi. Ingatanku berikutnya adalah jalanan beraspal. Tapi aku masih terlalu lemah, lalu gelap lagi. Ingatanku yang terakhir adalah kami tiba di sebuah rumah panggung, si pemilik rumah ditemani beberapa Jagawana menolong kami. Lalu gelap.

***

Baca Rekomendasi :   Part 1 : Melati Cantika Kuntilanak Berparas Menawan di Gunung Kerinci

Hari sudah terang ketika aku membuka mata. Disebelahku berbaring teman-temanku. Selain Bang Idan, yang lain masih belum membuka matanya. Tatapan mata Bang Idan tampak kosong, kelelahan terpancar jelas dari wajahnya. Rasa hormat ku padanya tumbuh berlipat-lipat. Tanpanya, mustahil kami semua bisa lolos dengan selamat dari cengkeraman penghuni Gunung Dempo.

Perhatianku teralih ketika tuan rumah terdengar menyambut tamu yang baru datang. Dari sedikit yang kudengar, rupanya beberapa pendaki gunung. Aku menduga, rumah ini mungkin berfungsi sebagai basecamp bagi yang ingin mendaki Gunung Dempo.

Dari suara-suara yang kutangkap, sepertinya ada beberapa orang juga yang sedang berkumpul di ruang depan.

Bang Idan melihatku yang sudah bangun, dia tersenyum.

“Alhamdulillah ya, Dek. Kamu sudah selamat. Abang bener-bener lega,” Katanya padaku, “abang ngga tau harus ngomong apa ke orang-tua kalian kalau terjadi apa-apa.”

Aku memegang tangannya dan benar-benar berterima kasih. Dia lalu mengajakku cuci muka dan menemui orang-orang di ruang depan.

Orang-orang langsung berhenti ngobrol ketika kami muncul. Rupanya ada lebih banyak orang dari pada yang kukira. Ku lihat wajah-wajah tak asing yang tadi malam menolong kami. Mereka tersenyum lalu mengajakku dan Bang Idan untuk duduk. Selain mereka ada seorang Bapak setengah baya, mungkin bapak ini pemilik rumah. Wajahnya terlihat teduh dan bijaksana. Didekat pintu ada beberapa orang lagi dengan wajah dan pakaian yang lusuh seperti baru saja turun dari gunung. Beberapa carrier tersandar di dinding.

Aku dan Bang Idan dengan khidmat berterima kasih pada kakak-kakak mahasiswa itu. Kami juga menyalami mereka yang ada diruangan itu satu persatu. Lalu si Bapak pemilik rumah meminta kami duduk dan meminta kami menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.

Mereka mendengarkan dengan seksama saat Bang Idan menjelaskan kejadian per kejadian dengan runut. Asap rokok mengebul di ruang depan itu. Orang-orang berpakaian lusuh tadi terlihat beberapa kali mengernyitkan matanya saat mendengar cerita Bang Idan.

Lalu si Bapak pemilik rumah mengambil alih ketika Bang Idan selesai.

“Adik-adik semua harus bersyukur masih bisa pulang dengan selamat. Kejadian yang kalian alami itu sudah termasuk gawat. Sejujurnya, Bapak disini pun sudah pasrah, kemungkinan kalian selamat itu kecil. Ini benar-benar keajaiban.” Katanya sambil menatap padaku dan Bang Idan dengan serius.

Kami berdua mengangguk, semua mata tengah menatap kami.

“Jadikan ini pelajaran. Besok-besok kalau mau naik lagi ke gunung mana pun harus ijin. Baik pada orang rumah juga pada kami selaku juru kunci. Dan berlaku yang sopan dengan tidak berkata kotor, berbuat kotor atau membawa sesuatu yang tidak pantas,” Sambung bapak itu lagi, “selain manusia, Allah juga menciptakan Jin untuk hidup berdampingan. Gunung juga rumah dari banyak golongan mereka.”

“Saya yang salah, Pak. Bukan adik-adik ini. Saya tidak sengaja bawa sesuatu yang kurang pantas,” Bang Idan menjawab dengan serius, wajahnya tertunduk, “saya yang akan bertanggung jawab.”

Bapak setengah baya itu lalu mempersilahkan orang-orang berpakaian kumal tadi untuk berbicara. Rupanya benar, mereka memang baru turun gunung, dan ucapannya kemudian membuatku ternganga.

“Tidak ada air bah di Pelataran.” Katanya.

Aku dan Bang Idan saling bertatapan heran. Belum sempat kami bicara, dia meneruskan lagi ucapannya.

“Kalian tidak sendiri di Pelataran kemarin. Ada tenda kami dan satu tenda rombongan anak Muhammadiyah tidak jauh dari tenda kalian.” Dia berkata sambil menatap kami satu persatu.

“Betul, sore itu hujan gerimis. Tapi tidak ada badai sama sekali. Menjelang gelap itu, kami lihat kalian berteriak-teriak sambil berlarian meninggalkan tenda.”

Tenggorokanku tercekat mendengar ceritanya, teringat badai dahsyat dan air bah yang menghancurkan tenda kami.

“Tenda kalian masih ada ditempatnya. Juga makanan di piring yang belum sempat kalian makan. Juga kartu-kartu bergambar porno milik kalian,” Katanya lagi, “melihat kartu-kartu itu, kami yakin pasti ada yang tak beres. Beberapa dari kami mengejar kalian, tapi kalian sudah tidak ada di manapun.”

“Petir bang?” Tanyaku.

Orang itu menatap mataku dan menjawab dingin, “Tidak ada petir.”

****

Siang itu kami diperbolehkan pulang ke rumah. Aku sangat bersyukur akhirnya kami semua selamat. Kutatap ruangan tempat bapak berwajah teduh itu sekali lagi. Ruangan ini, Gunung Dempo dan semua pengalaman tadi malam tak akan mungkin pernah bisa ku lupakan. Sebelum ku melangkah pergi, yang terakhir kulihat dirumah itu adalah kalender bertahun 1992 yang tergantung di dinding.

Kami pulang.

***

Baca Rekomendasi :   Ngeri! Seorang Anak Menyimpan Mayat Ibunya Selama 14 Tahun Demi Cintanya

NB: Penghuni Gunung Dempo ternyata tak melepaskan kami dengan mudah. Satu hari setelah pulang kembali ke rumah, ku dengar Bang Idan dilarikan ke rumah sakit. Esoknya kami dikabari bahwa Bang Idan sudah tak bersama kami lagi. Abang yang selalu menjaga kami disaat susah dan terus menenangkan kami disaat panik, telah meninggal dunia.

Aku kembali menangis saat pemakaman Bang Idan. Tapi alasan tangisku berbeda dengan tangis orang lain. Aku tahu yang sebenarnya terjadi. (Selesai)

Terima kasih untuk supportnya selama ini.
Aras Anggoro

Cerita ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh para pendaki dan merupakan tulisan dari Bang Aras Anggoro yang sudah di izinkan untuk tayang di sini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page