Part 1 : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain

Gila banget itu kaki gedhe dan tinggi aku tak sampai ngeliat ke kepalanya, mending kita tinggalin aja". dia ngomel sambil ngos-ngosan. aku mulai merinding

Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru
1 412

Dibalik keindahan dan kegagahan Gunung Semeru, ternyata banyak juga makhluk lainnya yang menghuni gunung ini. Kadang jika niat kita tidak benar, bisa jadi mengalami hal-hal yang mistis atau jika takdir sedang tidak memihak. Pengalaman di ganggu makhluk beda dunia juga bisa menghampiri.

Seperti kisah pendaki yang bernama Dody Tengger Idhox yang menceritakan kisahnya di Facebook, dengan judul Perjalanan Mistis Semeru, Tabah Sampai Akhir. Simak yuk cerita selengkapnya.

***

Awalnya hanya mengantar papan nama Masjid ke Ranu Pane dan langsung balik pulang. Namun ternyata nyampai juga di atap pulau Jawa. Berangkat berdua aja, aku dan Mail. Diawali dengan smack down melawan petinju mabuk dan diakhiri dengan langkah seribu gegara lawan mengangkat celurit.

Esok hari kami berdua dijemput Samsul dengan Jeep yang sudah terisi oleh rombongan pendaki. Ada dua orang bule cewek disana. Dengan modal bahasa Inggris amat cekak campur bahasa Tarzan iseng aku tanya dari mana asalnya. Ternyata dari Swiss. Mail ikutan nimbrung dengan bahasa Indonesia, si bule diam dan celinguk an akhirnya kami pada diam. Aku tahu si bule tidak paham bahasa Indonesia dan kami nol besar dalam bahasa asing. Sementara para penumpang yang lain nampaknya tidak tertarik ngajak si bule ngobrol. Atau mungkin mereka 11 – 12 dengan kami.

Sampai di Ranu Pane sudah tengah hari, langsung menemui pak Tumari selaku tetua adat dan pemilik lahan yang yang dipakai mendirikan Masjid. Setelah ngobrol penuh canda dan diakhiri santap siang kami bermaksud pamit pulang. Karena Samsul sudah datang menjemput kami untuk turun ke Tumpang jeep sudah berpenumpang penuh.

Pak Tumari berdiri berkacak pinggang langsung menceramahi kami berdua “ra isin babar blas, wis nyampe Ranu ra mentas nang Mbah Semeru” (gak punya malu sama sekali, uda nyampe Ranu tidak sekalian naik ke mbah Semeru).

ribet nih dialog beliau pake bahasa tengger jawa langsung aku terjemah aja ya….

“Itu gunungnya uda kelihatan memanggil-manggil kalian”

“watduh…. kami tak bawa perlengkapan apapun”

“gak pake ribet, nih bawa”

Sambil menyodorkan nesting berisi karon (makanan khas tengger), kentang dan kubis, tak lupa kopi hitam ala tengger Ranu Pane. Aku dan Mail saling berpandangan.

“sudah sana berangkat, keburu maghrib”

Pak Tumari ngomong sambil pergi, itu berarti perintah. Tak seorangpun masyarakat tengger Ranu Pane berani menentang perintah beliau.

Kami berdua menuju pos perijinan, sudah sepi tinggal dua orang bule tadi. Pos dikawal mas Agus saat itu.

“Knapa mas, diomeli bapak barusan disuruh muncak ya….”

“iya mas Agus, kami tidak ada niatan muncak kok malah diomeli suruh muncak”

“ya udah bawah sekalian ini bule, klo ada sampean berdua saya ijinkan berangkat perjalanan malem”

“Kami lewat jalur Ayek-ayek mas”

Spontan Mail menjawab dengan cepat, seolah tidak mau memandu kedua bule itu. Mas Agus lantas menjelaskan ke si bule itu klo kami berdua akan mengambil rute jalur evakuasi yang tentu jalurnya lebih berat, namun lebih cepat. Si kedua bule goyah akhirnya disarankan petugas untuk bermalam dulu di Ranu Pane.

****

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 6-End): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Pukul 5 sore waktu setempat kami berdua pamit ke mas Agus untuk berangkat, beliau juga menginformasikan klo di Ranu Kumbolo uda banyak pendaki. Do’a kami panjatkan kehadirat Illahi untuk mengawali angkat kaki. Kebun Bawang, kentang dan kubis nampak tumbuh subur. Baru beberapa meter kami melangkah ditegur petani setempat.

“mau kemana mas…..?”

“ke Ranu pak”

“kok tidak besok pagi aja, ini uda nenjelang magrib”

“kami mengejar waktu pak”

klo begitu hati-hati mas”.

Teguran serupa terjadi sampai 5 kali aku hitung tadi. Barulah aku ingat klo menurut kepercayaan setempat jangan masuk hutan jalur gunung Ayek-ayek menjelang maghrib. namun aku tidak sampaikan ke Mail, khawatirnya dia nanti minta balik. Kepalang tanggung depan sudah batas hutan dan nampak langit masih terang. Ternyata si Mail mempunyai perasaan yang sama dengan aku disaat ada teguran orang terakhir tadi.

Kebun penduduk telah kami tinggalkan dan memasuki hutan, hanya kami berdua berjalan dalam sepi. Binatang hutan mulai bernyanyi. Ada persimpangan aku berhenti senjenak untuk orientasi. Mail langsung ambil jalan sebelah kiri. Aku ragu karena aku hafal jalur ini, tidak ada persimpangan. Aku tebas salah satu cabang pohon yang agak besar sebagai tanda. Cabang itu sedikit terkulai tapi tidak putus. Kuikuti Mail, tak seberapa jauh ada padang Savana yang amat indah nampak di depan mata kami.

“Mail kita salah jalur, selama kita lewat sini tak pernah kita ketemu pemandangan itu, lagian klo kita turun jurang sebelah kiri logikanya klo berangkat jurang harusnya sebelah kanan, tapi ini kita naik kok jurang sebelah kiri”.

****

Baca Rekomendasi :   Part 1 : Pendakian Gunung Gede, Ditemani "Pendaki Lain" Dari Beda Dunia

“tapi itu di depan bagus banget Dhox, dan jalur ini kan lintasannya hanya satu”.

Belum selesai kami berdebat terlihat didepan ada seorang bapak yang lagi merumput dengan memakai caping jadi tidak nampak wajahnya. Dalam hati aku mau bertanya, tapi kedahuluan beliau

“mau ke mana sampeyan” tanya beliau tanpa menoleh pada kami berdua

“ke Ranu pak”

“kembali saja”

“di depan itu apa pak namanya kok bagus banget”

“wono (hutan) sudah balik saja”

“kami mau ke wono pak”

Mail ngeyel

“sudah sana kembali saja”

dengan setengah membentak beliau menegaskan.

Aku semakin was-was ku paksa Mail untuk kembali.

Sebelum balik badan aku mau sampaikan terimakasih. Si bapak sudah tidak ada ditempat, masih pake logika saja oh sudah pindah tempat beliau

“terimakasih pak”

aku berteriak sambil balik kanan maju jalan.

Tak ada sahutan hutan kembali sepi.

Sampai pada tempat yang aku tandai di depan ada seekor sapi. Logikaku masih aku pakai, sapinya bapak tadi. Tiba-tiba Mail beraksi dipeganginya si sapi, diam aja tak bergerak.

“Dhox, kamu jalan duluan aku pegangi sapi ini”

Aku menurut ku lewati Mail dan sapi. Keraguanku mulai muncul, aneh kalo orang tadi mau merumput ngapain sampai masuk ke dalam hutan. Ditepiannya aja rumput sudah melimpah, lagian kok sapinya dibawah ke sini. Satu lagi di tengger tidak ada sapi, selain babi. Otakku mulai kacau antara logika dan kejanggalan berperang. Orientasi medan jalur sudah benar.

***

Hati masih berkecamuk saat dikagetkan Mail, dengan berkacak pinggang menghadap kebelakang, ia menunjuk-nunjuk rerimbunan sambil berteriak lantang.

“jangan hanya menggoda ikut aja sekalian dengan kami”

“watduh, temanmu nampaknya mulai berulah il”

“masak dari tadi mengganggu aja dari belakang, diajak aja sekalian Dhox”

Memang setelah melewati sapi tadi ada suara jejak kaki yang mengikuti dibelakang kami. Setiap kami toleh kebelakang kembali sepi hanya nampak semak yang bergoyang seperti barusan tersentuh orang lewat.

Langkah kami lanjutkan, kali ini Mail di depan. Tepat disebelah kanan kami jurang. Aku berteriak kencang

“Maiiiiiil jurang”

karena Mail tiba-tiba hendak melintas ke jurang.

“jurang sebelah kiri Dhox”

Dia menjawabku dengan menatap bingung.

Nalarku masih bekerja dengan sempurna, ini sudah jalur yang benar dan jelas jurang di sisi kanan kenapa kok Mail ngotot jurang di sisi sebelah kiri. Padahal mata kepalaku melihat sisi sebelah kiri hutan belantara.

Aku pegang Mail dan ku lalui dia, ganti aku di depan. Karena aku yakin pandangan mataku yang benar. Aku jalan duluan.

“Awaaaassss”

Mail berteriak dengan keras. Aku spontan berhenti dan menoleh kepadanya.

Dia menatapku dengan terbelalak sesekali mengusap matanya. Dalam pandangan matanya aku berdiri melayang di atas jurang. Padahal aku aman-aman saja berpijak di atas jalan setapak.

Aku mulai yakin Mail dihajar oleh makhluk yang diajaknya tadi. Akhirnya dia merelakan dirinya pasrah penuh padaku. Hutan serasa milik kami berdua, tak berpapasan dengan manusia satupun.

Tiba-tiba Mail menunjuk ke depan

“itu puncak uda nampak Dhox”

aku semakin bingung, puncak apa yang dimaksud, karena di depan kami hanyalah belantara liar.

“puncak apa il”

“itu pohon besar, puncak Ayek-ayek”

Mail menjawab sambil menunjuk ke arah seberang jurang.

Gila Mail diteror habis-habisan, belum terbersit rasa takut dibenakku, hanya perasaan aneh saja. Ini mungkin yang penduduk kampung percayai kalo tidak boleh melintas dijalur ini menjelang maghrib. Hal ini yang bakalan terjadi. Aku merekah-rekah sendiri dalam hati. Mail menunjuk puncak lagi dan berulang kali itu terjadi. Padahal aku tak melihat pohon besar yang dia maksud.

Akhirnya puncak Ayek-ayek telah kami capai, anehnya Mail masih menunjuk ke depan dan berucap
“Dhox, puncak sudah sedikit lagi” aku duduk selonjor, Mail mengikuti.

****

Baca Rekomendasi :   Part 2 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

“Mail coba kamu pejam mata sejenak trus orientasi medan, posisi kita sekarang di mana….?”

Mail menurut dan segera orientasi.

“Lho……kita uda di puncak Ayek-ayek Dhox, ini prasasti dan Trianggulasinya”.

Aku siapkan kamera legendku Yasicha FX-7, bersiap mengabadikan Mail dipohon besar yang disebut-sebut tadi.

“Ayo kamu mendekat ke pohon besar yang selalu kamu tunjuk tadi”.

Mail mendelik dan segera mengajak aku beranjak pergi melanjutkan perjalanan kami. Aku penasaran, ada apa ini. Saat dijurang klosot dia baru bercerita.

“pohon besar yang selalu aku tunjuk tadi ternyata sepasang kaki yang teramat besar dan berbulu hitam nampak kasar, gedhenya kaki melebihi gedhenya pohon di puncak tadi”.

“gila banget itu kaki gedhe dan tinggi aku tak sampai ngeliat ke kepalanya, mending kita tinggalin aja”. dia ngomel sambil ngos-ngosan. aku mulai merinding..

1 Comment
  1. […] ketakutan yang menggebu di Part 1 : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain. Kami pun melanjutkan […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page