Part 3 (End) : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain

Perbincangan kami belum selesai, mentari telah berubah warna. Semakin terang namun anehnya danau yang kami perbincangan telah menghilang dari pandangan mata.

Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru
0 294

Akhirnya si Manis yang menatapku di Part 2 : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain, sungguh membuatku ketakutan tiada tara.

****

Rekan Rofik kami persilahkan berangkat duluan dengan para tamunya kami bertiga menyusul di belakang. Mendekati batas vegetasi Mail berhenti. Di depan kami ada onggokan bayangan hitam yang menyerupai orang sedang duduk. ” hai, minggir jangan ditengah jalan, nanti kalau tertabrak teman-teman kami yang disalahkan” Mail ngomel sambil menunjuk onggokan hitam itu.

“Mail gendheng….. Avos gendheng kabeh”

Rofik nampak puncat ketakutan sambil ngomel

“Syal mu bagus, sini buat aku”

Mail berucap sambil menadahkan tangannya.

Subhanallah, saat itu juga ada selembar syal hijau yang indah ditangan Mail.

“terimakasih ya, aku mau naik dulu. tolong teman-temanku jangan diganggu”
Mail berucap sambil ngeloyor pergi.

****

Rofiq sudah melesat duluan, rasa takutku sudah hilang sama sekali sejak jumpa si manis kemarin.

Ciri khas lereng Semeru mulai terasa, pasir dingin sampai kedalam tulang. Hempasan angin nakal menambah dinginnya malam. Langkah kakiku ku kayuh maksimal, satu per satu rombongan aku lewati. JP dan Caren posisi terdepan tak lama tersusul juga. Caren menghampiriku dengan senyumnya yang teramat manis. Disodorkan sebatang coklat buatku. Batang coklat kunikmati di ketinggian.

Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Pada akhirnya ada gigitan yang tak dapat aku patahkan. MasyaAllah ternyata jari tangan ku yang aku gigit, tidak terasa sakit akibat dihajar dingin yang kelewatan. Caren tahu nampaknya disodorkan lagi coklat sebatang. Mail lari naik menyusul minta jatah coklat, lagi-lagi senyum manis Caren mengembang.

Baca Rekomendasi :   Part 1 : Pendakian Gunung Gede, Ditemani "Pendaki Lain" Dari Beda Dunia

Atap 3676 masih gelap saat kami mencapainya. Belakangan baru kami ketahui kalau ke dua Bule Belgia itu ilmuwan yang sedang mengadakan penelitian tentang gunung berapi di Pulau Jawa. Caren ahli Nuklir dan JP ahli Vulkanologi. Aku tinggalkan mereka, berdua dengan Mail kunikmati sudut lain Mahameru.

Mentari pagi terbangun dari tidurnya, semburat warna kuning dan jingga di horison langit timur.

“Dhox…… itu apa….? kok nampak seperti danau”

“Lho…. sejak kapan ya ada danau berwarna kuning ke emasan gitu il”

“Klo kita lihat kok posisinya di arah oro-oro ombo ya”

Perbincangan kami belum selesai, mentari telah berubah warna. Semakin terang namun anehnya danau yang kami perbincangan telah menghilang dari pandangan mata.

Suasana semakin terang kami segera persiapan turun. JP dan Bush termangu melihat ke bawah. Ternyata berpikir bagaimana caranya turun. Mail turun duluan memberikan contoh pada mereka berdua. Aku pilih modus aja, gandeng Caren dengan mesrah. Sesaat setelah Caren mulai terbiasa menuruni pasir aku lepaskan gandengan tangan kami dan aku pantau dari belakang.

Terlihat ada beberapa pendaki merayap ke atas. Bush tiba-tiba jatuh tergelincir menabrak pendaki yang di bawahnya, terpental ke atas dan melorot ke bawah sejauh 10 meter. Kasihan banget, seketika hancur mentalnya. Tidak jadi lanjut puncak balik kanan Arcopodho pilihannya.

Baca Rekomendasi :   Part 2 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Rombongan telah lengkap di Arcopodho, kami berdua pamit turun duluan karena harus secepatnya sampai di Malang. Kalimati telah terlewati, saat posisi kami tepat antara Jambangan dan gunung Kepolo terdengar auman, dibalas oleh Mail dengan auman juga.

“Di Puncak Kepolo ada yang ngecamp Dhox”

“Lho emangnya ngapain camp di situ”

****

Blum selesai perbincangan kami, tiba-tiba semak dan pohon perdu bergoyang-goyang dan terdengar suara herrrrr…………. herrrr……… tanpa dikomando kami berdua angkat kaki seribu gas poooollll. Didepan banyak pendaki tanpa permisi kami lewati. Mereka ikut berlari sambil menghunus parang

“mas macan ya…….????” tanpa jawaban kami terus berlari. Ternyata mereka juga mendengar auman tadi. Keren lomba lari di belantara gunung Semeru.

Ranu Kumbolo hanya mampir tuk seruput kopi, tengok markas si manis, sepi.

“il, jalur Ayek-ayek lagi ya”

“ok, siapa takut”

Puncak Ayek-ayek telah kami capai

“il, kakinya masih ada gak…..?”

“uda gak ada, ilang”

Mail mendekati pohon besar di puncak dan mengukurnya dengan tangan

“segini Dhox kakinya kemarin”

“wihhhh gedhe banget”

Ukuran yang ditunjukkan Mail gedenya melebihi pohon gede yang ada di puncak itu. Lanjut tancap turun, sampai pada pohon yang kemarin ku tandai aku berhenti “il, ini pohon yang aku tandai kemarin, trus mana persimpangannya” simpangan tang kami lewati kemarin, dimana kami temui lelaki bercaping tidak ada lagi. Hanya satu jalan lurus tanpa ada cabang. Mail berhenti sebentar, memandang sekitar kembali tersenyum menjengkelkan.

Baca Rekomendasi :   Part 1 : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain

Ranu Pane telah di depan, langsung menuju rumah pak Tumari. Kami tanyakan langsung danau yang kami lihat di puncak. Pak Tumari menatap lekat ke arah kami berdua. Kami tunjukkan posisi tepat yang kami lihat.

“iku ranu lus, ranu kuning” (itu danau jadian, danau kuning).

“Jangan coba-coba kalian cari, tidak bisa kembali pulang kalian nanti”

“tidak semua orang bisa ngeliat danau itu, kalian uda diakui sebagai orang tengger”

kami berdua tercengang dalam diam.

Lantas kami ceritakan awal perjalanan kami sejak berangkat yang penuh dengan teror. Dengan tertawa lepas beliau menjawab singkat

“kapok, biar kalian pernah merasakan”

hadewww……

Selanjutnya pak Tumari bercerita banyak tentang mistis dan makhluk ghaib di Ranu Pane dan Gunung Semeru. sejak saat itu nama tengger aku abadikan jadi lebel produkku, disamping tengger menyimpan rekam jejak memori yang amat dalam buatku.

Perlu diketahui Syal hijau Mail masih tersimpan rapi sampai saat ini. Dan sampai tulisan ini tersaji aku masih bingung dengan kecepatan tempuh kami Ranu Pane – Ranu Kumbolo tidak ada satu jam kami lalui, aneh tapi nyata.

Nesting kami kembalikan dan pamit pulang. Sekali lagi pak Tumari berpesan

“Jangan sekali-kali kalian cari Ranu Kuning, awas”

“siaaap pak bos”

dalam hati siapa yang edan mau mencari-cari danau misteri, memangnya cari mati.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page