Part 1 : Pendakian Gunung Gede, Ditemani “Pendaki Lain” Dari Beda Dunia

Langsung terdengar suara seperti anak ayam...."ciat....ciak...ciat....kurang lebih seperti itu suara nya tidak begitu jelas.

Pendakian Gunung Gede
1 439

Gunung Gede merupakan salah satu gunung yang paling digemari oleh para pendaki di Jabodetabek. Selain karena dekat, Gunung Gede juga menawarkan pemandangan yang sangat apik. Jika sedang beruntung, kamu akan melihat indahnya bunga edelweis yang menjadi daya tarik utama Gunung Gede. Karena memang gunung ini tak menawarkan lauatan awan yang sangat menawan.

Namun tahukah kah kamu bahwa di banyak cerita pendaki gunung gede yang mempunyai pengalaman mistis. Seperti kisah dari pendaki Vie Sugiyanto yang menuturkan pengalamannya ketika mendaki. Simak yuk selengkapnya.

****

Nama saya Novi nurcahyani Sugiyanto yang biasa di panggil ovie. Setelah berbagai pertimbangan dan saran dari teman komunitas, akhirnya saya memutuskan mendaki Gunung Gede. Singkat cerita,tibalah saatnya kami berangkat ke kota Bogor tgl 29 November 2019. Kami berangkat menggunakan kereta api dari stasiun Cakung menuju stasiun Bogor.

Tak lupa persiapan logistik sudah siap semua. Dan saya berpamitan kepada suami saya untuk pergi. Setelah perjalanan panjang hingga sempat tertidur di dalam gerbong kereta, akhirnya tibalah kami di stasiun Bogor.dan sudah ada dua teman laki-laki saya saat itu.

Mereka satu komunitas dengan saya hanya berbeda wilayah saja. Mereka rupanya sudah menunggu kami, menggunakan motor tak jauh dari JPO di depan stasiun Bogor. Kami pun berangkat ke kontrakan teman kami, Yang letak nya lumayan jauh dari stasiun Bogor. Sebut saja namanya keling dan gondrong.

Sesampainya di kontrakan,kami pun packing ulang tas carier kami,dan langsung menuju basecamp kang Aloy di Cibodas mengurus simaksi dan semua nya.

Hari sudah menunjukan pukul 14.23 ketika sampai di bescamp kang Aloy. Keling bertanya kepada saya….”teh apa yakin mau nanjak sore ini..??.. mendung takut hujan mulai kabut..(cuaca saat itu memang sedikit mendung). Gondrong pun melanjutkan omongan keling..”apa mau besok pagi aja kita tidur di basecamp dulu malam ini.

Saat itu saya sedang halangan (haid) tapi sudah memasuki hari-hari terakhir kalau tidak salah 4/5 hari saya sudah hai. Saya menjawab…”iya kang naik aja sekarang gapapa.

Evi pun melanjutkan…”kita harus naik malam ini,karna malam Minggu saya harus sudah sampai di Jakarta,agar dapat beristirahat hari Minggu nya karna hari Senin pagi saya kerja..

Saya pun bertanya lagi apa…”apa beresiko tinggi kang bila naik sore..??

Keling pun menjawab…”tidak teh cuman takut hujan saja,kalo soal haid tergantung kita, sugesti kita,kalo sudah niat insyaallah gapapa..

Asal jangan jorok,jangan bicara sompral,kalau mau kencing usahakan di saring pakai tisu agar tidak ada darah yang netes ke tanah. Sedikit lega aku mendengar nya,,dan dalam hati ku yakin. aku pasti baik-baik saja. Lalu kami pun makan dulu di warung sekitaran bescamp Cibodas, sebelum melanjutkan perjalanan menuju bescamp via putri. Sampailah kami di basecamp via putri. Tapi saya kurang tahu kami parkir motor di tempat siapa?

Kami sudah siap dan akan memulai pendakian, Saya sempat bersih-bersih dulu mengganti pembalut di WC basecamp.. Dan saya liat darah sudah tidak keluar banyak, hanya plek plek saja sedikit.

****

Baca Rekomendasi :   Part 7 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Akhirnya kami pun memulai pendakian dengan di awali bismillah dan berdoa bersama. Jalan menanjak di jalan aspal. Dan mulai memasuki ladang warga. Kami bercerita tertawa. saya dan teman saya Evi banyak berhenti, mungkin karena sudah bertahun-tahun saya tidak naik gunung jadi serasa baru lagi dan Evi teman saya pun sama terengah-engah ketika beberapa kali berjalan,ini adalah pendakian pertama Evi.

Kami berjalan terus meski lambat, ketika sampai di pos 1 leugok leunca,kami bertemu beberapa pendaki yang hendak turun. Teman saya keling sempat tertidur lama..karna dia mengantuk habis bergadang katanya semalam ada pekerjaan. Kami pun bersantai berpoto dan memakan cemilan sambil menunggu keling bangun.

Saat itu ada 4 grup yang naik. Grup saya 4 orang ada juga dari tambun 2 orang dari Garut 2 orang dan Tangerang seperti anak kuliah berjumlah 11 orang. Kami melakukan pendakian pada hari Jumat malam Sabtu. Akhirnya kami membangunkan Keling karena hari semakin sore,, setelah siap kami berpamitan kepada rekan-rekan pendaki lain untuk jalan duluan.

****

Baca Rekomendasi :   Part 2 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Kami berjalan lagi,lambat laun sambil bercerita dan tiba di tanjakan yang ada pohon tumbang di pinggir track,dari kejauhan saya melihat ada kakek-kakek menggunakan baju hitam sedang duduk memegang tongkat kayu dengan wajah pucat. Saya perhatikan terus,saya tak merasa heran atau takut karena saya pikir itu adalah penduduk lokal yang mau berjualan di area pos pendakian atau pun di puncak gunung.

Karena beberapa kali kami pun sempat bertemu dengan bapak-bapak yang memanggul dagangan nya..tapi aneh nya semakin dekat sosok aneh itu pun menghilang,,?? Saya langsung kaget dan menoleh ke arah gondrong & Keling,, sempat saya mau menanyakan kepada gondrong dia melihat apa tidak tentang kakek itu.

Keling langsung memotong pembicaraan saya…”udah teh jalan aja terus pokus ke jalan jangan liat ke kiri dan kanan.

“aku berpikir dia seperti melihat juga apa yang saya lihat..

Kami pun terus berjalan dan akhirnya sampai lah di pos 3 buntut lutung, Karena hari mulai gelap, waktu menunjukan pukul 17.53. Kami memutuskan untuk istirahat,,membuat kopi dan gorengan tempe untuk kami makan sambil menunggu adzan magrib selesai. Cukup lama kami beristirahat di pos 3.

Waktu menunjukkan pukul 19.17 saat itu, Kami bersiap-siap merapihkan tas dan membersihkan bekas sampah masak kami. Saat mau bersiap-siap untuk berangkat. Tiba-tiba saya merasa ingin buang air kecil.Lagi-lagi keling mengingatkan saya untuk menyaring Pakai tisu di tangan saat buang air kecil,,agar darah tidak jatuh ke tanah. Saya pun mengangguk dan meminta antar ke Evi untuk menunggu saya ketika buang air kecil.

disini mulai lah keanehan terjadi. Saat itu Evi meminta duluan buang air kecil dan saya yang menunggu. Setelah itu baru saya yang buang air kecil. Tak henti-henti saya membaca doa. Tapi saya harus tetap tenang agar semua baik-baik saja. Saat selesai buang air kecil,, tisu yang untuk menyaring pun saya masukan ke pelastik,dan lalu saya cuci tangan, plastik itu saya masukan ke kantong jaket saya..(untuk nantinya saya taruh di kantong plastik sampah).

Saya liat darah sudah tidak ada lagi yang keluar, hanya sedikit saja plek. Ketika mulai berdiri ada yang mengikuti gerakan saya. Saya menoleh ke belakang. Tidak ada orang di belakang saya,tapi terdengar seperti suara daun terinjak-injak…..”… kresek…. kresek… kresek….!!!

Sontak bulu kuduk saya merinding, Dan pas saya mau balik ke arah Evi ada yang mendesah tepat di pinggir telinga saya, sampai terasa angin-angin nya di telinga saya. Dia mendesah kecil seperti….”hhhhhhhaaaaaahhhh….!!! Saya pun berjalan cepat dengan Evi menuju ke arah gondrong dan keling.

****

Baca Rekomendasi :   Part 5 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Di situ saya coba untuk tenang,saya paham apa pun yang kita lihat..apa pun yang kita alami tidak boleh menceritakan nya. Saya evi Keling dan gondrong pun kembali melanjutkan pendakian dari pos 3 menuju pos 4… gondrong bilang…”teteh sama Evi mulai dari pos 3 ini… track aga berat Medan nya. Apalagi kita jalan malam..kalo capek jangan malu bilang capek ya landai nya sedikit

Saya pun mengangguk dengan Evi, Saya jalan di urutan kedua dan Evi yang memimpin perjalanan. Gondrong dan keling di belakang. Saat baru berjalan gondrong bilang.

“kok tas berat banget ya… seperti memikul beban yang banyak dan jalan nya pun jadi lambat..

Langsung terdengar suara seperti anak ayam….”ciat….ciak…ciat….kurang lebih seperti itu suara nya tidak begitu jelas.

*****

Di sini lah saya jelaskan (gondrong dan keling ini orang Bogor, mereka hampir setiap dua Minggu sekali nanjak ke gunung gede pangrango untuk membawa tamu open trip. Itu sebabnya saya merasa aman nanjak bareng mereka,,selain karena mereka teman saya, mereka pun penduduk lokal yang sudah terbiasa naik turun gunung gede pangrango.

1 Comment
  1. […] kejadian suara anak ayan yang menandakan bahwa ada penghuni lain yang mulai mendekat di Part 1 : Pendakian Gunung Gede, Ditemani “Pendaki Lain” Dari Beda Dunia. Kami tetap berjalan seperti biasa seolah-olah tak ada yang […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page