Part 1 : Melati Cantika Kuntilanak Berparas Menawan di Gunung Kerinci

" tadi ada yang nyolek leher ku.sumpah deh"(meli)

Gunung Kerunci
0 224

Mendaki gunung kini menjadi sesuatu yang menyenangkan, karena keindahan lautan awan dan sunrisenya selalu mampu menghipnotis mata memandang. Tapi di dalam pendakian, kadang pendaki sering mengalami hal-hal yang mistis. Apalagi bagi seorang indigo, begitu juga dengan Dhriana Madani yang menceritakan pengalaman mistisnya ketika mendaki Gunung Kerinci di Jambi.

Dia menuturkan sebenarnya Ini kisah keduanya mendaki Gunung Kerinci. Yang pertama via khersik tuo sedangkan yang kedua via Bangun Rejo Kecamatan Sangir Kabupaten Solok Selatan. Sebenarnya aku sudah tak memiliki keinginan lagi bahkan angan-angan untuk mendaki, apalagi sampai ke Puncak Kerinci yang memiliki julukan sebagai “atap sumatra”. Hal ini tak terlepas dari pengalamanku sebelumnya, pada tahun 2018 silam. Aku dan temanku yang mendaki melalui jakur khersik Tuo, yang mempunyai pengalaman yang mengerikan dan membuatku susah tidur setiap mengingatnya.

Pada awal Februari, tepatnya di sabtu sore. Teman-temanku yang memiliki hobby mendaki sebanyak 12 orang datang kerumahku dengan maksud tertentu. Ya mungkin kalian sudah bisa menebak, mereka datang untuk mengajakku mendaki gunung lagi.

Mendengar Kata Kerinci , Sebenarnya Aku Sangat Kaget Namun Berusaha Untuk Tetap Tenang.

Setelah perundingan antara gunung sibayak dan gunung kerinci, akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi gunung kerinci. Meski ada beberapa teman yang menggerutu karena keputusanku untuk mendaki gunung sibayak tak banyak yang mendukung. Hingga akhirnya Fahmi berujar, begini saja ya, untuk sekarang kita mendaki gunung kerinci terlebih dahulu setelah itu baru kita ke Sibayak di lain waktu?

Entah setan apa yang merasuki teman-temanku sehingga dengan tanpa pikir panjang merekea pun menyetujui ide tersebut. Sedangkan aku hanya diam, lalu mereka mengajakku bahkan lebih condong memaksa. Karena mereka membutuhkanku hanya karena kemampuanku, sehingga mereka merasa aman jika bersamaku. Sebenarnya aku belum mengiyakan mereka, sehingga angga pun berbicara.

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 6-End): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

“aku tau kok pengalaman ko sebelumnya,aku juga paham.tapi emg ko gak penasaran sama puncak nya…ayo dong…kita juga lewat via bangun rejo yg trecknya gk terlalu menantang,.”(angga)

Mendengar perkataannya, nyaliku serasa di tantang, akhirnya dengan segala sesuatu yang akan terjadi aku menyetujui ajakan teman-temanku.

“Ok deh,aku ikut,tapi aku gak mau bawa carrier sendiri,aku nebeng aja gimana???”(me)

Semua menyetujui,dan yg akan ku tumpangi adalah edo,salah satu temanku yg berbadan kekar…

Akhirnya kami memutuskan minggu depan kami berangkat.

*****

Singkat cerita hari yang di tunggu telah tiba, dan sesuia kesepakatan di awal aku berangkat sama edo. Jadi aku hanya membawa peralatan pribadi yang penting dan tas sebuah tas kecil untuk menyimpan ponsel dan barang lainnya.

Satu per satu teman pendakian pun sudah berkumpul di rumah karena memang kami mengguna kan mobil ayahku dan lainnya menggunakan mobil teman-temanku sehingga kamu tidak perlu menyewa mobil lagi. Tepat jam 9 pagi, setelah berpamitan dengan ayah dan ibuku, akhirnya kami pun pergi. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 17-19 jam perjalanan. Kamu juga tak lupa mampir ke supermarket untuk membeli perbekalan selama perjalanan.

Setelah perjalanan yang melelahkan dan panjang, akhirnya kami sampai di kerinci sekitar jam 02.35 pagi. Sebagian dari temanku masih lelap dengan tidurnya sedangkan aku sudah terbangun karena sebelumnya memang aku sudah tidur siang. Kemudian kamu langsung menuju basecamp.

Saat sampai dan mobil kami parkir, kamu melihat penjaga basecamp sebanyak 4 orang. Sebelumnya aku membangunkan teman-temanku, lalu kemudian menyusul edo dan angga yang sudah turun terlebih dahulu.

Baca Rekomendasi :   Part 9 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Pendakian Ini Kamu Berjumlah 12 Orang, 6 Orang Cewek dan 6 Orang Cowok.

Edo dan angga mengurus simaksi sambil berbincang-bincang dengan penjaga basecamp. Sekitar 20 menita akhirnya selesai. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mulai mendaki sekitar jam 7 pagi via bangun rejo.

Tanpa sarapan, kami memutuskan untuk mendaki langsung namun sebelumnya kami membaca doa terlebih dahulu yang dipimpin Faris. Setelah berdoa kami pun mulai mendaki. Tentang indra pengelihatanku, aku sudah terbiasa melihat mereka, hanya saja aku masih sering takut. Di track awal tak terlalu menantang. Kamu juga masih santai melewatinya tapi sesekali suara dari semak di kiri kami terdengar. Dan kami hanya berfikir bahwa itu hanya hewan.

Dinginnya hutan di pagi cukup membuat kamu merasa dingin. Kondisi perjalanan juga masih lancar menjuju pos 1. Meski tak ada gangguan, tak terasa kamu sudah berjalan selama 1 jam lebih hingga akhirnya tiba di pos 1.

Di pos 1 kami istirahat dan makan. dan tak lupa juga untuk mengisi persediaan air. Yang bertugas untuk mengisi air adalah Aku, Rizky dan Meli. Posisiku berada di tengah sedangkan meli ada di belakangku.

Ketika kamu sedang mengisi air,  meli tiba-tiba mengatakan “astaga”. Aku langsung melihat ke arahnya dan risky juga. Lalu Risky bertanya ke meli

” ngapa sih???sabar kalee…ngantri”(risky)

“Eh sembarangan deh,.ya aku tau harus ngantri.”(meli)

“Terus,tadi ngomong astaga kenapa??”(risky)

” tadi ada yang nyolek leher ku.sumpah deh”(meli)

Mendengar penjelasan meli, aku cuma senyum tapi malah risky ngejek dengan ngomong “hahah kau ngehalu apa gimana sih? eh denger ya, mustahil ada yang nyolek kau. Jangan geer lah”(risky)

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 3): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Mendengar ucapan risky, meli cuma cemeberut sambil mendengus kesal. aku yang melihat mereka cuma bisa ketawa kecil sambil menengahin mereka.

Aku menengahi mereka “huuuusss, sudah ah kok malah debat sih, mending cepet deh diisi takutnya yang lain nungguin”(aku)

Meli dan risky mengangguk, selesai mengisi kami kembali ke rombongan.

Selesai makan dan beristirahat. Kami langsung berkemas, Bang juno dan Jupen yang kami jadikan senior sekaligus penunjuk jalan memberi isyarat untuk bersiap melanjutkan perjalanan.

Pukul 09:00 pagi, dari pos 1 kami pun berjalan meninggalkan pos. seperti sebelumnya,p erjalanan kami masih lancar tapi ketika sampai di pertengahan track. salah seorang temanku yang bernam Jul mengeluh sakit di bagian perut. Alhasil kami terpaksa berhenti dan memeriksanya..

“Kau kenapa??”(farida)

“Keknya maag ku kambuh karna makan mie tadi, sumpah sakit bangat. aku gak kuat kalau nerus kepuncak juga”(jul)

Beberapa saat, kami terdiam. Lalu bang Juno angkat bicara “jadi bagaimana??? kita gak bisa nih maksain jul untuk terus ke puncak. Kasian, takutnya malah parah”(bang juno)

Mungkin karna segan jadi jul menyuruh kami meninggalkannya “yaudah bang, kalian lanjut aja, aku nunggu di sini, ntar kalau aku udah mendingan,aku turun ke bc”(jul)

Kebingungan mendatangi kami, sampai jupen ngomong “gini aja deh, disini siapa yang merasa atau kira kira gak kuat lanjut? soalnya perjalanan masih jauh”??(jupen)

Mendengar ucapan jupen, beberapa temanku mengangkat tangan tanda tak kuat dan ingin turun. dan di dapati sekitar 6 orang turun termasuk meli diantaranya. “Ok deh, berarti 6 orang turun dan sisanya lanjut”(jupen). Setelah memberi obat dan saling mengingatkan berhati-hati. kami pun membelah rombongan menjadi dua.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page