Part 2 : Pendakian Gunung Gede, Penampakan Nenek Tua di Surya Kencana

Ada nenek-nenek tua berambut putih menggunakan baju jaman dulu berwarna pink tua dan kain sarung batik-batik jalan ke arah tenda saya

Surya Kencana Gunung Gede via instagram.com @herwinlab.com
1 247

Setelah kejadian suara anak ayan yang menandakan bahwa ada penghuni lain yang mulai mendekat di Part 1 : Pendakian Gunung Gede, Ditemani “Pendaki Lain” Dari Beda Dunia. Kami tetap berjalan seperti biasa seolah-olah tak ada yang terjadi.

****

Saat gondrong mengeluhkan tas carier nya yang begitu berat dan langsung di sambut suara anak ayam “….ciat..ciak..ciat. Langsung dari jauh ada sepasang mata berwarna merah dia atas track yang mulai menanjak. Saya pikir hanya saya yang melihat, ternyata Evi Keling dan gondrong pun melihat nya. Sontak kami terdiam saat itu…”udah jalan terus mungkin itu Bagas (sebutan babi ketika di hutan)..ujar Keling.

Saya dan Evi mulai merasa gelisah saat itu. saat beristirahat, kami melihat lampu lampu pendaki yang bertemu saat di pos 1 leugok leunca sore tadi..dan benar saja itu rombongan dari Garut dan tambun. Saya sempat bertanya ke mereka..”bang yang dari Tangerang ga nanjak.. “..engga teh mereka buka tenda di pos 3 karna ada pendaki cewek yang udah gak kuat ngelanjutin perjalanan.

Kami pun berjalan perlahan, banyak istirahat karena track nya yang sangat mengocok dengkul. Singkat cerita kami sampai lah d warung pos bayangan..kami sempat makan gorengan semangka di warung itu. Keling bernyanyi-nyanyi lagu India dan dia bergoyang-goyang di pohon kecil yang ada di tengah track sambil berkata bahwa dirinya mirip Kajol.

Kami tak henti-henti nya tertawa melihat tingkah nya itu. Gondrong yang saat itu istirahat di tanah sedikit lebih atas dari warung, dan saya menghampiri nya menawari dia apa mau kopi atau rokok. Saat saya duduk di dekatnya tiba-tiba, ada hewan kecil seperti musang tapi aneh nya ini berwarna putih loncat di hadapan kami entah dari mana datangnya.

Di situ saya langsung menjerit kaget…”astagfirullah apaan itu kang..

Dengan tenang dia menjawab musang itu musang sambil mengedip ngedip matanya. Bapak yang menjaga warung pun sampai ke luar melihat kami. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Lawang saketeng. Lagi dan lagi aku dan Evi banyak berhenti padahal jalan baru beberapa langkah.
Saya lihat Keling nampak kesal mungkin karena kami lama jalan nya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.04. perjalanan kami ini benar-benar lama. Sampai saya merasa ingin menyudahi pendakian dan bermalam di pos bayangan saja, tapi gondrong dan keling mengingatkan saya di sini akan lebih bahaya di banding surken apalagi dekat dengan Lawang saketeng, tidak ada mata air juga di pos bayangan.

Saat kami terus berjalan tiba-tiba ada suara gamelan pelan sekali tapi suara nya seperti tidak jauh di belakang saya. Gondrong dan keling begitu menjaga saya saat mendengar suara itu. mereka hanya bilang..”..jalan terus teh pokus aja.. Setelah beberapa menit jalan,aku dan Evi minta untuk istirahat. Aku bersender ke tanah didekat gondrong duduk.. tiba-tiba tepat di atas kepala kami berdua, baju putih menyentuh kepala kami lewat begitu saja ke atas. Saya dan gondrong tatap tatapan saat itu, susah untuk bicara rasanya..(kita tidak melihat wujud apa pun itu hanya kain putih seperti baju saja besar panjang).

Di sini hanya Evi yang terlihat biasa saja seperti tidak merasakan apa-apa sepanjang perjalanan.
Gondrong langsung menyuruh saya bangun dan melanjutkan perjalanan. Karena menurut nya sudah tidak aman di situ.

Keling bilang..”udah tenang jangan panik jalan aja sebentar lagi surken tinggal beberapa langkah lagi. Kami pun terus berjalan dan bertemu rombongan yang dari tambun & Garut..mereka begitu cepat menyusul kami.. Waktu menunjukan pukul 23.28 saat saya melihat jam..dan sampai lah di surken (alun-alun Suryakencana).

Saat itu saya jalan paling belakang,,,saya merasa kagum melihat surken yang begitu luas dan indah walau tertutup kabut tipis. Di tengah perjalanan menuju area camp. Keling berpisah karna dia mau mengambil air ke arah sumber mata air, jarak nya sangat jauh. Saat di surken saya tau ada yang mengikuti di belakang. Ada suara gesekan seperti sendal ke tanah, tapi saya tidak berani menengok. saya coba mengejar teman-teman saya berlari karena jujur saya sangat merasa takut saat itu.

*****

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 4): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Saat saya mencoba mengejar teman saya ke arah area camp,ternyata saya baru menyadari bahwa teman saya Evi dan gondrong sudah sangat jauh. Untung nya saya langsung bisa bergabung dengan grup anak tambun dan Garut. Di situ kami sempat duduk di jalanan surken. Kami berkenalan namanya Noval & Tito mereka dari tambun. kami sempat mengobrol tentang di mana mau mendirikan camp dan Noval bilang dia membawa tenda singel layer tanpa playset. Yang dari Garut namanya Dila & pacar nya..saya tidak sempat bertanya nama pacar nya saat itu.

Kami melanjutkan perjalanan lagi menuju camp yang di targetkan Keling di area bawah pohon..kami berjalan cukup jauh. Ketika berjalan saya sempat bertanya pada Noval pendaki dari tambun..

“…kang apa tadi di Deket pos 5 mendengar suara gamelan…

Noval pun menjawab…”engga teh…tapi saya mendengar seperti ada suara riuh rame-rame. seperti sedang ada orang hajatan. Saya mendengar suara musik-musik tapi kurang jelas musik apa..(saat terjadi itu, posisi kami di track dan tidak ada tenda pendaki di area track..jadi tidak mungkin suara itu dari para pendaki).

Akhirnya sampai lah kita di area camp. Saat sampai gondrong dan Evi sudah bersiap membongkar tas dan memasang tenda. Tak lama Keling pun datang membawa air di jerigen.. Saat sampai area camp kurang lebih jam 00.18 waktu itu…total perjalanan dari basecamp sampai surken camp terakhir 10 jam jarak yang kami tempuh.

Setelah siap semua, kami mengganti baju dan merapikan tenda di dalam. Kita masak donkk. Udah lapar banget setelah jalan menegangkan yang di ikuti Raisa. Menu kami saat itu cumi asin d tumis cabe ijo, nugget nasi dan mie goreng. Selesai makan gondrong dan keling membuat kopi dan mereka menyuruh kami secepat nya istrahat. Lagi lagi sangat menyebalkan. Saya dan Evi pengen buang air kecil. Gondrong dan keling tidak menganjurkan ke area pepohonan saat itu.

Dia bilang…” pipis nya di pinggir tenda aja teh asal jangan terlalu Deket takut kena tenda..ujar Keling saat itu.. Aku pun dan Evi akhirnya buang air kecil di dekat tenda sambil menengok-nengok takut ada pendaki lain yang lewat atau melihat. Tak lupa saya menyaring nya dengan tisu.

Akhirnya saya dan Evi tidur. Saat itu badan Evi menggigil hebat, dia merasa dingin banget. Saya takut dia hipotermia. Tapi dia bilang …”engga ini cuman dingin biasa mungkin karena baru pertama naik gunung. Akhirnya Evi pun tertidur…saya sempat main hp sebentar, berharap ada signal agar bisa memberi kabar ke suami..tapi ternyata ga ada signal sama sekali.

*****

Baca Rekomendasi :   Part 2 : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain

Saat tertidur ada perempuan yang datang ke tenda kami meminta air. Dan aku pun terbangun saat itu untuk memberikan nya. Aku pun langsung menutup tenda saat itu dan mencoba tidur lagi. Tiba-tiba banyak suara kaki seperti memutari tenda saya dan Evi. Saya dan Evi pun langsung terbangun. Kami dekat dekatan dan langsung ada seperti bayangan tangan di luar tenda kami. Evi langsung menutup sleeping bag nya saat itu.

Mengingat saya yang sedang haid..saya takut ada darah yang menetes ke tanah. Saya menangis pelan-pelan merasa takut dan terancam. Anehnya rasa penasaran dalam pikiran saya itu terus muncul. Padahal jelas-jelas saya takut. Saat tangan-tangan itu seperti mencakar-cakar tenda kami. Saya malah membuka tenda dan saya langsung kaget bukan main.

Mulut saya tidak bisa bicara untuk meminta tolong kepada Keling dan gondrong. Tepat dari arah sebelah kanan bekas saya & Evi kencing. Ada nenek-nenek tua berambut putih menggunakan baju jaman dulu berwarna pink tua dan kain sarung batik-batik jalan ke arah tenda saya. Saya langsung menutup tenda dan masuk ke dalam sleeping bag.

1 Comment
  1. […] melihat nenek tua yang sangat menakutkan di Part 2 : Pendakian Gunung Gede, Penampakan Nenek Tua di Surya Kencana. Dan aku langsung menutup […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page