Part 3 (End) : Pendakian Gunung Gede, Penampakan Nenek Tua di Surya Kencana

Dari belakang aku merasa ada yang memegang kuat pinggang ku seperti tangan yang begitu besar. Badan ku gemetar, dingin mulai menusuk-nusuk kaki dan jantung ku

Surya Kencana Gunung Gede via instagram.com @herwinlab.com
0 286

Setelah melihat nenek tua yang sangat menakutkan di Part 2 : Pendakian Gunung Gede, Penampakan Nenek Tua di Surya Kencana. Dan aku langsung menutup tenda.

****

Pas saya mencoba untuk tidur karna rasa takut saya yang semakin besar. Saya tau ada sesuatu di samping saya merayap ke kaki saya bergerak-gerak. Ingin rasanya membangunkan Keling Evi dan gondrong, tapi saya kasihan melihat mereka begitu lelap tidur nya. Saat itu saya terus membaca sholawat nabi terus menerus dan tiba-tiba tidur saja.

Malam itu pun berlalu. Aku dan Evi terbangun, waktu menunjukan pukul 07.43. Karena banyak yang teriak-teriak jualan nasi uduk…”….uduk uduk uduk teh…

Kami langsung masak untuk makan dan keperluan naik ke puncak gunung gede. Kami siap-siap, merapihkan tenda dan melipat sleeping bag. Gondrong dan Keling tidak ikut ke puncak saat itu dan memilih untuk menunggu di tenda.

Jam 09.11 kami bersiap dan poto-poto di alun-alun Suryakencana (surken). Lanjut kami berjalan lagi ke arah track menuju puncak. Aku dan Evi begitu bahagia, meski malam begitu banyak hal-hal aneh yang terjadi. Kita berjalan istirahat berpoto dan selalu sibuk mencari signal.

Beberapa kali kami bertemu dengan pendaki yang hendak turun maupun naik. Kami saling bertegur sapa. Singkat cerita sampai lah kami ke puncak gunung gede. aku dan Evi langsung membeli air minum dan semangka. Kami pun bertemu lagi di puncak dengan pendaki dari tambun dan Garut.
Kami berpoto bersama dan akhirnya setelah puas di atas aku dan Evi memutuskan untuk turun lagi ke Surya kencana.

Kami d puncak tak lama,hanya sekitar 30 menit saja..pas baru beberapa langkah turun. yesss signal pun bagus. Aku langsung menelpon suami ku memberi kabar padanya bahwa aku dan teman-teman baik-baik saja. Aku juga mengatakan bahwa ini udah mau arah turun agar dia tidak khawatir.

Di perjalanan menuju turun kami hanya beberapa kali bertemu pendaki. Tapi Aneh nya saya beberapa kali melihat ada tenda dan pendaki dari jauh. tapi ketika sudah dekat dengan track yang kita lalui. tenda itu dan pendaki itu hilang ga ada. Saya mempercepat jalan saya dengan Evi karna hari mulai mendung. Beberapa kali saya melihat kelebatan-kelebatan hitam di antara rimbun nya pohon Cantigi.

Saat tiba di camp. Kami langsung bersiap-siap untuk pulang. Saat membereskan tenda Keling dan gondrong bercerita.

“….Semalam saat saya dan Evi tidur sesudah makan. Keling dan gondrong ngopi di depan tenda. mereka langsung masuk dan tidur karena melihat dari jauh ada nenek-nenek jalan menuju arah ke tenda saya dan Evi. Saya tak kaget lagi, karna semalam saya sudah melihat nenek tua itu

Akhirnya kita pulang. hatiku senang bukan main saat perjalanan pulang. Waktu menunjukkan pukul 11.27. Kami berpamitan pada teman-teman yang tenda nya tak jauh dari kami. Baru kami berjalan tak lama hampir pertengahan surken. Tiba tiba mendung, kabut sangat tebal. Kami berlari terus menuju area pepohonan. Kami pun menggunakan jas hujan dan badai hujan pun terjadi di iringi kabut tipis-tipis.

Kami pun berjalan terus hingga akhirnya sampai di pos Lawang seketeng. Kami ikut berteduh di warung. Saya sempat jatuh beberapa kali di track saat itu karna licin..mata saya pun sempat terkena cipratan tanah. Hari semakin sore, hujan belum berhenti..tapi mulai agak kecil. Aku Evi Keling dan gondrong melanjutkan lagi perjalanan.

Kami berjalan terus tanpa sadar kami terpecah jadi dua kelompok. Aku, Evi, Keling dan gondrong. Aku tau Keling dan gondrong menyusuri track lama, mereka seperti memperhatikan kami dari jauh. Kami Terus berjalan dan lagi-lagi,tepat di posisi yang saat gondrong merasa tas carier nya berat pada waktu malam itu. lokasi nya sebenarnya sudah dekat dengan pos 3. Aku dan Evi terpisah. Evi di depan aku di belakang. Tiba-tiba kabut hitam seperti menggulung tubuh ku, menutupi pandangan ku. Saat itu aku hanya diam. aku ingat bila ada kabut jangan sesekali mencoba untuk melangkah berjalan.

Dari belakang aku merasa ada yang memegang kuat pinggang ku seperti tangan yang begitu besar. Badan ku gemetar, dingin mulai menusuk-nusuk kaki dan jantung ku. Aku takut terkena hipotermia karena aku hanya berdiri di guyur hujan. Tak lama ada suara suara ketawa kecil. aku benar-benar pasrah saat itu.

Tiba-tiba dari belakang Evi datang dengan keadan yang sangat capek Karena kaki nya sakit. saya benar-benar kaget karena seblum kabut tadi, jelas-jelas saya melihat Evi sudah jalan duluan. Saya berpikir terus menerus ini Evi beneran apa bukan. Kabut pun mulai menipis. Evi mengajak untuk melanjutkan perjalanan.

Saya mempersilahkan Evi untuk jalan duluan, tak lama kemudian ada dua orang pendaki laki-laki yang hendak turun, mereka seperti masih anak sekolah. Kami pun minta untuk bareng. Tapi aneh nya lagi mereka berjalan terus tidak menghiraukan kami. Lalu saya teriak memanggil nama Keling dan gondrong. mereka menyaut, ternyata mereka sudah dari lama menunggu kami di bawah.

*****

Baca Rekomendasi :   Part 10 (End) : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Saya mempercepat jalan saya dan Evi menuju gondrong dan keling yang sudah menunggu kami di bawah. Kami terus berjalan menuju pos 3, Di perjalanan kami bertemu beberapa kelompok pendaki yang membuka tenda dadakan…saya lihat ada seorang gadis sedang di peluk bersama-sama oleh teman-temannya. Mungkin gadis tersebut mengalami gejala hipotermia.

Akhirnya sampai lah kami di pos 3. Kami sempat istirahat sebentar di pos 3, hanya sekedar duduk -duduk saja. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami lagi. Dari pos 3 ke pos 1 semua nya normal tidak ada gangguan apa pun. Kami sempat minum kopi di warung yang ada di pos 1. Belum beberapa lama badan ku menggigil hebat benar-benar susah bernapas.

Jantung rasanya seperti di tusuk-tusuk sakit nya bukan main..aku tau ini pasti karna aku diam saja duduk dalam posisi yang masih hujan..aku langsung bilang k Evi Keling dan gondrong untuk melanjutkan perjalanan. aku takut terkena hipotermia (apabila dalam keadaan hujan kita berhenti dalam keadaan basah bisa menyebabkan hipotermia, jadi usahakan jalan saja terus agar suhu di dalam tubuh kita tetap panas meski dalam keadaan hujan).

Kami pun meneruskan perjalanan kami menuju basecamp. Terus berjalan dan sampai lah di warung pos bayangan yang sudah dekat dengan ladang warga. Di sini Keling dan gondrong pergi untuk jalan duluan. Saya dan Evi istrhat dulu duduk-duduk di dekat pos bayangan. Di situ juga ada beberapa pendaki yang hendak naik.

Setelah selesai istirahat, kami berjalan lagi. Di ladang kami bertemu beberapa ibu-ibu yang baru pulang dari ladang.

“….ti kebon Bu ya Allah mani karuatan nya nanjak turun..canda ku kepada ibu-ibu itu.

Lalau si ibu menjawab…”nya neng da Tos biasa…Bade tarurun iyeu apa Bade naek…

Saya pun menjawab …”Bade turun Bu…

Terus kami sempat bercakap-cakap dengan s ibu itu dengan menggunakan bahasa Sunda.
Ibu itu pun jalan duluan. Dari belakang ada suara-suara yang memanggil….””balikkkk….balikkk…
Saya menengok ke arah tanjakan yang di belakang. saya melihat ada nenek-nenek tua yang saya liat di surken pada malam itu.

Wajah nya sangat pucat dia melambaikan tangannya. Saya sudah tidak mau menghiraukan lagi semua itu saya jalan secepat mungkin agar bisa cepat sampai ke pos perhutani. Tibalah kami di pos perhutani. Kami istirahat lagi lalu menaruh sampah yang di kumpulkan di situ untuk di olah kembali oleh warga.

Kami melanjutkan perjalanan menuju ke parkiran, setelah sampai kami langsung bersih-bersih badan. Saya mandi mengganti baju dan pembalut. sempat saya lihat. Alhamdulillah sudah tidak menstruasi.

Kami pun pulang..dan sial nya ban motor Keling bocor🥺. Kami menunggu keling menambal ban dulu..saya gelisah karna sudah jam 19.03. Saya takut tidak terkejar kereta terakhir menuju Bekasi. Di perjalanan lagi lagi ban motor Keling bocor dan akhirnya untuk mempersingkat waktu saya menyuruh Keling mengganti ban baru saja.

Di perjalanan saya sempat seperti orang linglung. di motor saya begitu ngantuk berat, anehnya jalanan yang saya lewati dengan Keling padahal jalan ramai. itu jalan raya besar saya lihat berubah menjadi hutan dan banyak tanah longsor. sontak saya teriak ketakutan, beberapa kali Keling hampir menbrak mobil maupun motor di jalan. Dan keling seperti yang kesal kepada saya karna saya seperti berhalusinasi tinggi. saya merasa kalau saya masih berada di tengah hutan.

Keling meminta saya untuk pindah ke motor gondrong dan Evi berpindah ke motor Keling.
Alhamdulillah Kami pun bisa mengejar kereta terakhir menuju Bekasi. Dan semua nya baik-baik saja.

****

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata : Misteri Pendaki Tanpa Kepala di Gunung Sumbing

Terimakasih teman-teman yang sudah menyimak cerita ini. mohon maaf apabila ada kurang-lebih nya. Cerita ini sesuai dengan alur yang terjadi ketika kami melakukan pendakian. Mungkin untuk sebagian teman-teman yang biasa membaca cerita horor merasa ceritanya kurang gereget atau penampakan nya biasa aja kurang gereget.

Saya tidak ingin mengarang cerita, kejadian begitu ada nya, hanya segitu lah penampakan yang kami jumpai dan kejadian-kejadian itu lah yang terjadi.

Ingin tau lebih lanjut, siapa pelakon asli cerita ini.

Vie Sugiyanto – ovi

Ari Rizaldi – gondrong

Syahrul Ramadan – Keling

Nurul Hidayat Khoerull – bocor

Noval ARya – Noval (pendaki dari tambun)

Evhi mimengeyes settokill – evi

Saya sudah mendapatkan ijin dari mereka untuk mengakat cerita pendakian kita ketika ke gunung gede 29 November 2019. Mungkin kakak-kakak ingin mengenal mereka atau mendengar persi mereka.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page