Menengok Kehidupan Suku Kajang di Kawasan Adat Ammatoa

Bagi mereka, warna hitam mengandung makna kesederhanaan dan kesetaraan, prinsip yang mereka anut

Suku Kajang
0 126

Bulukumba, Sulawesi Selatan memiliki kampung adat yang terkenal dengan aturan yang masih dijaga ketat hingga saat ini yaitu Kawasan Adat Ammatoa. Di sini, kamu bisa merasakan suasana berbeda yang jauh dari modernitas, mengenal alam lebih dekat, dan belajar tentang kearifan lokal dari masyarakat setempat.

Rumah Adat Ammatoa

Wilayah Kajang terbagi menjadi Kajang Dalam dan Kajang Luar. Masuk ke Kajang Dalam, mungkin kamu akan merasakan suasana yang sedikit berbeda dibandingkan di bagian Kajang Luar. Di kawasan ini hanya terdapat kebun-kebun yang dipagari tumpukan batu, rumah panggung, dan kompleks pemakaman dengan batu-batu nisan berukuran besar. Untuk memenuhi kebutuhan sumber air bersih, terdapat sebuah sumur yang airnya tidak pernah kering meskipun sedang musim kemarau.

Di sini, rumah-rumah terbuat dari kayu dengan model panggung dengan tangga batu yang tertata rapi dan semuanya menghadap ke barat. Rumah adat Ammatoa memiliki sebuah ruangan besar dengan sejumlah kamar dan dapur di bagian depan.

Suku Kajang
Suku Kajang

Konstruksi rumah hanya menggunakan bahan-bahan alam seperti daun nipah dan alang-alang untuk atap, ijuk dan rotan sebagai pengikat, serta bambu untuk dinding dan lantai. Sedangkan kayu hanya digunakan sebagai balok pasak yang melintang dari sisi kiri ke kanan rumah. Rumah-rumah tersebut juga dilengkapi aksesori seperti anjungan berbentuk tanduk kerbau atau ukiran kayu.

Baca Rekomendasi :   Rumah Kurcaci D’Sawah, Tempat Wisata Baru di Malino yang Bikin Nyaman

Rumah tetua adat atau kepala Suku Ammatoa Kajang ini juga tidak berbeda dengan rumah warga kebanyakan. Rumahnya terbuat dari kayu dengan konstruksi sederhana dan perabotan tradisional di dalamnya. Perlengkapan makan minum pun terbuat dari tempurung kelapa. Rumah memiliki loteng yang berfungsi untuk menyimpan tikar dan peralatan yang tidak sedang digunakan.

Keunikan Kampung Adat Ammatoa

Kawasan adat ini memiliki luas 314 hektare meliputi empat desa di dalamnya yaitu Desa Bonto Aji, Tana Toa, Pattiroang, dan Malleleng. Jumlah penduduknya sekitar 5.000 jiwa yang merupakan Suku Kajang. Dari pusat Kabupaten Bulukumba, kampung ini dapat dijangkau dalam waktu sekitar 2 jam atau 6 jam dari Makassar.

Baca Rekomendasi :   Asyiknya Rekreasi Sambil Belajar Arkeologi di Taman Purbakala Sumpang Bita

Dalam keseharian, masyarakat di Ammatoa berkomunikasi dengan bahasa suku setempat yaitu bahasa Konjo. Kawasan adat ini dipimpin oleh kepala suku yang dipanggil Amma dan dibantu oleh 26 orang Galla atau pemangku adat yang memiliki tugas dan tanggung jawab berbeda.

Tempat ini memiliki banyak keunikan dari segi peraturan yang ada di dalamnya. Ketika masuk ke dalam, pengunjung tidak boleh menghidupkan kamera dan ponsel apalagi menggunakannya. Untuk membuat dokumentasi, pengunjung hanya diperkenankan membawa buku catatan.

Selain itu, pengunjung harus memakai pakaian serba hitam dan melepas alas kaki. Selanjutnya, dari pintu gerbang kampung adat sampai ke perumahan penduduk, kamu harus berjalan sejauh dua kilometer melalui jalan setapak berbatu.

Tak hanya pendatang, masyarakat setempat pun hanya mengenakan pakaian berwarna hitam yang ditenun sendiri. Bagi mereka, warna hitam mengandung makna kesederhanaan dan kesetaraan, prinsip yang mereka anut.

Baca Rekomendasi :   5 Tempat di Toraja yang Wajib Kamu Datangi Untuk Pecinta Alam Terbuka

Masyarakat Suku Kajang sangat menghormati hutan dan isi di dalamnya. Bagi mereka, hutan merupakan tangga penghubung langit dan bumi yang akan dilalui oleh arwah manusia. Maka, siapa saja yang merusak hutan berarti melakukan kesalahan besar yang sanksinya berupa pengusiran dari wilayah adat beserta keluarganya dan tak boleh kembali. Selain itu, ada denda berupa uang sebesar Rp4 juta hingga Rp12 juta tergantung beratnya pelanggaran.

Di sini juga terdapat larangan menebang pohon selain untuk membangun rumah. Cara menebangnya pun tidak boleh menggunakan gergaji mesin. Di samping aturan tersebut, ada juga larangan meretas rotan, mengambil sarang lebah, serta menangkap ikan dan udang.

Kehidupan masyarakat yang sederhana dan sangat dekat dengan alam pastinya akan memberikan kamu pengajaran hidup yang sangat berharga. Jadi, jika ke Bulukumba, luangkanlah waktu ke Kawasan Adat Ammatoa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page