Kisah Nyata (Part 4): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Entah kenapa, kami baru bertemu dengan mereka selepas dari Pos tiga ini, sedangkan dari basecamp sampai Pos tiga tidak ada satupun pendaki lain yang kami temui

Kisah Mistis Gunung Slamet
1 333

Kuntilanak itu kini mengikuti sepanjang perjalanan kami, walau saya tidak melihatnya, tapi saya dapat merasakan bahwa kuntilanak tersebut mengamati kami sejak tadi yang di ada di Kisah Nyata (Part 3): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

****

“Emang lo ga bilang permisi?” tanya ku pada Panji pagi itu. Kini hari telah berganti, cahaya bulan yang redup semalam sudah berubah menjadi terangnya sinar matahari. Sosok jadi jadian pun entah kemana, mungkin kini mereka telah pergi. “Enggak sih Na, tapi gua udah bilang Asslamualaikum.” Mendengar jawaban itu saya pun bingung, harus berkomentar apa. Sejenak saya berpikir, ‘iya, apa salahnya, kan sudah mengucap salam’. Tapi mungkin memang tetap dianggap tidak sopan, ibaratnya kita main kerumah orang lain, hanya mengucap salam, lalu pergi ke kamar mandi tanpa bilang permisi, pastinya sangat tidak sopan. Tapi sudahlah, semoga hal ini tidak terulang lagi, dan bisa jadi pembelajaran kami kedepannya.

Setelah sarapan dan memastikan perbekalan air yang cukup, kami mulai berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Pendaki lain yang semalam bersama kami, sudah lebih dulu melanjutkan pendakian mereka.

“Okeghhh.. siap ya? ber doa dulu, semoga disehat selamatkan perjalanan kita dipendakian kali ini, kita bisa kembali kerumah masing-masing dalam keadaan sehat wal’afiat tanpa kekurangan suatu apapun, ber doa dimulai.” Ucap Fahmi memimpin doa pagi ini. “Aamiin!!” seru kami, seraya benar-benar memohon perlindungan Allah SWT.

Kami pun memulai kembali pendakian ini. Kali ini jalurnya sedikit berbeda kami tidak lagi melewati hutan belantara, dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi dan akar-akar yang saling berkait di ujungnya. Jalur yang kami lewati sekarang sedikit menurun, landai namun tidak lama menanjak kembali. Tidak ada yang aneh dalam perjalanan kami pagi ini, cuaca cerah, matahari bersinar dengan indahnya menembus celah-celah daun yang kini sudah tidak terlalu rapat. Ya, sepertinya kami telah lepas dari hutan rimba, kini jalur yang kami lewati sudah terlihat normal seperti jalur pendakian pada umumnya.

Pendakian dari Pos 3 ke Pos 4 berjalan lancar, begitu pun sampai Pos 5. Sesekali kami menjumpai kelompok pendaki lain, tidak banyak memang.

Pendakian dari Pos 3 ke Pos 4 berjalan lancar, begitu pun sampai Pos 5. Sesekali kami menjumpai kelompok pendaki lain, tidak banyak memang, tidak sesering seperti pendakian-pendakian kami sebelumnya, yang setiap saat pasti saja berpapasan dengan pendaki lain, bahkan bisa juga sampai terjadi kemacetan.

Baca Rekomendasi :   Part 5 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Entah kenapa, kami baru bertemu dengan mereka selepas dari Pos tiga ini, sedangkan dari basecamp sampai Pos tiga tidak ada satupun pendaki lain yang kami temui, kecuali di tempat kami bermalam. Singkat cerita, ternyata jalur dari Pos tiga sampai atas merupakan titik pertemuan dari beberapa jalur lain. Saya lupa pastinya jalur apa saja itu, yang pasti para pendaki lain itu, berasal dari sana.

Pak Sakri, yang semula dijadwalkan hanya akan menemani kami sampai Pos dua, tentu saja tidak kami ijinkan pulang. Mengingat kejadian-kejadian yang kami alami, kami sudah pasti membutuhkan beliau untuk menemani kami kembali sampai kami turun dari gunung ini.

****

Tibalah kami di Pos Bayangan. Sebuah tanah datar yang tidak terlalu luas, ada beberapa pohon yang dapat kita gunakan untuk bersandar. Pos bayangan ini adalah Pos sebelum kami benar-benar sampai di Pos terakhir jalur ini, yaitu Pos 5. Ketika kami sampai ada beberapa pendaki lain yang juga sedang istirahat disana.

Seperti sudah saling mengerti ketika kami datang dan memberi salam, mereka bergegas bersiap melanjutkan pendakian mereka. Mungkin mereka paham, bahwa tempat ini terlalu sempit jika dihuni kami semua secara bersamaan, jika dirasa cukup waktu mereka beristirahat, maka mereka akan memberikan kesempatan pada pendaki lain untuk bergantian.

Kami langsung mengambil posisi masing-masing, ada yang bersandar di pohon, ada yang bersandar di carriel tanpa melepasnya. “Aaaahhhhhh.” Seru kami hampir kompak, sambil meregangkan otot-otot punggung dan kaki yang pastinya sudah bekerja paling keras sejak awal pendakian ini.

Makanan-makanan kecil pun kami keluarkan. Madu berbentuk stik agar mudah dihisap, dan sedikit coklat dan roti untuk mengganjal perut kami yang mulai keroncongan. Ah seandainya kami punya cukup waktu, ingin rasa nya mengeluarkan nesting dan memasak Mie Instan. Tapi sudah lah, Pos 5 yang merupakan pos terakhir jalur ini, sepertinya sudah tidak jauh lagi. Lagi pula hari sudah mulai sore, langit terlihat agak mendung, sepertinya akan turun hujan, lebih baik bergegas agar kami segera sampai atas sebelum hujan benar-benar turun.

Setelah istirahat dirasa cukup, dan tak lupa meneguk sedikit air untuk melepas dahaga, kami melanjutkan perjalanan ini. Baru saja memulai perjalanan, Panji tiba-tiba saja tersungkur. Tapi kali ini bukan karena mahkluk ghaib atau sejenisnya, sepertinya Panji memang kelelahan. “Hayati lelah Bang!” ucapnya seraya bangkit dari jatuhnya. Gelak tawa pecah seketika, bukan karena kami tak simpati tapi memang jatuhnya lucu sekali. Fahmi dan Bang Epps membantunya berdiri, karena bobot tubuh Panji yang besar, membuat mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menariknya.

Baca Rekomendasi :   Part 3 (End) : Pendakian Gunung Gede, Penampakan Nenek Tua di Surya Kencana

Akhirnya, sekitar pukul tiga sore, kami sampai di Pos terakhir. Kami akan bermalam disini, untuk selanjutnya, menaiki puncak esok pagi. Sudah ada dua tenda disana, tenda pendaki lain yang pastinya sudah lebih dahulu sampai ditempat ini.

Tidak pakai istirahat, kami langsung berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, ada yang menyiapkan bahan makanan untuk kami makan sore ini. Setelah tenda terpasang, nesting dikeluarkan, bahan masakan disiapkan, kami pun mulai memasak. Sayur Sop yang sudah dibersihkan dari rumah dibungkus rapih dengan plastik pembungkus sehingga masih sangat segar ketika dimasak untuk kami makan, telor balado, ikan asin dan bakwan menjadi hidangan kami sore ini. Hhmmm..lezat, apalagi dinikmati diketinggian setelah aktivitas yang sangat menguras tenaga.

Kalau ada yang tanya, kenapa tidak ada Mie Instan?. Tentu saja ada, tapi itu pilihan terakhir jika kami kehabisan bahan makanan, dan hanya memiliki sedikit waktu untuk memasak. Kadang kami berprinsip, pemenuhan gizi saat pendakian itu jauh lebih penting, walaupun makan Mie Instan hangat diketinggian yang dingin ini tentu saja sangat nikmat.

Saya, Widi dan Bang Epps kebagian memasak sore ini. Yang lain menggunakan waktu istirahatnya sambil menikmati indahnya pemandangan dari atas sini. Fahmi dan Usep berfoto-foto di Goa yang berada tidak jauh dari tenda kami. Pak Sakri tentu saja sedang menikmati me-time nya dengan bersandar sambil ditemani rokok favoritenya.

Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 5 sore, makanan pun sudah terhidang dan siap disantap. Seperti biasa dalam hitungan menit makanan sudah raib tak tersisa, tangan-tangan lapar bagai anacconda bergerak cepat, siap memangsa musuh nya, langsung masuk ke dalam perut mereka.

“Alhamdulillaaahh.. kenyang!.” Kata yang pastinya terucap dari mulut kami semua. Momen makan bersama ini merupakan salah satu saat yang paling nikmat ketika kita melakukan pendakian. Sesi makan pun usai, kini waktunya kami bersiap untuk melaksanakan Sholat maghrib. Cuaca yang semula mendung, kini tampak kembali normal, langit mulai memerah, matahari hampir kembali ke peraduannya.

Sambil menunggu waktu maghrib tiba, Fahmi menunjukkan hasil foto-foto yang diambilnya bersama Usep tadi. Tidak ada yang tampak aneh diawal, sampai suatu foto yang sedikit mencuri perhatian kami. Dalam foto terlihat seperti wanita berambut panjang, namun samar-samar dan wajahnya nya pun tidak kelihatan. Padahal foto itu diambil fahmi di dalam goa yang tentu saja tidak ada siapa-siapa disana. Tidak mau memperpanjang situasi mengingat kami masih berada digunung ini, akhirnya kami memutuskan untuk mengabaikan foto itu.

Baca Rekomendasi :   Part 8 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Waktu maghrib pun tiba, kami masuk ke tenda bersiap-siap menunaikan sholat. Usai menunaikan sholat maghrib, sambil menunggu waktu isya kami membuat kopi dan teh untuk menghangatkan tubuh kami dari dinginnya malam yang mulai menusuk-nusuk sampai ke tulang.

Setelah menunaikan sholat isya, dan membersihkan diri dari sisa-sisa keringat hari ini, kami mencoba menikmati indahnya malam ini. Langit mulai gelap, bintang mulai menampakkan kecantikannya, namun keindahan itu tidak bisa lama kami nikmati. Angin dingin yang menembus jaket tebal kami, memaksa kami untuk segera mencari kehangatan di dalam tenda.

Widi tiba-tiba saja berbisik. “Mpok, kayaknya gua dapet dah.” Ucapnya. “Hah! Serius? Coba cek!” jawab ku. Kami bergegas ke dalam tenda.“Bener Mpok.” Deg hati ini mencelos seketika. Melihat wajah Widi, hati nya pasti kacau, karena artinya Ia tidak dapat ikut mendaki puncak besok pagi, padahal Ia sudah sejauh ini. “Yaudah ga apa-apa, bawa pembalut kan?” tanya ku. Widi meng angguk lesu, terlihat kecewa dan panik terpancar dari wajah nya.

Perbincangan kami sepertinya terdengar sampai tenda sebelah, terdengar riuh mereka berkata. “Hah, Widi dapet? Terus bagaimana?.” Entah lah, selain Widi tidak bisa ikut mendaki puncak, bagaimana yang mereka maksud pasti tentang bungkusan putih berisi kemenyan yang diberikan si Mbah sesaat sebelum kami mendaki gunung ini.

Dengan Widi mendapatkan haid hari pertamanya di atas sini, itu artinya kami harus melakukan ritual bakar kemenyan yang diperintahkan si Mbah sebelum kami kembali turun ke Bawah. Namun tentu saja hati kami tidak semudah itu menerimanya, karena kami semua tahu perbuatan itu bertentangan dengan tauhid. Kini kami dihadapkan pada pilihan, apakah kami harus membakarnya dan melakukan ritual tersebut atau ada cara lain agar kami tetap selamat saat kembali turun dari gunung ini. Untuk selanjutnya baca di Kisah Nyata (Part 5): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet
1 Comment
  1. […] Kini kami dihadapkan pada pilihan, apakah kami harus membakarnya dan melakukan ritual tersebut atau ada cara lain agar kami tetap selamat saat kembali turun dari gunung ini. Sebelumnya kami bisa baca di Kisah Nyata (Part 5): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page