Kisah Nyata : Misteri Pendaki Tanpa Kepala di Gunung Sumbing

Awalnya Semuanya Biasa Saja, Namun Dari Pos 2 Semuan Mulai Berubah. Rasa Dingin yang Menusuk Dada dan Suara Pendaki, Namun Pendakinya Ternyata Beda Dunia

Kisah mistis pendakian gunung sumbing via instagram.com @masmamas
0 1.358

Dibalik keindahan Gunung Sumbing yang gagah dan perkasa, ternyata menyimpan penghuni lainnya yang tak kasat mata. Pendakian gunung sumbing dengan ketinggian 3.371 Mdpl memang sangat menguras tenaga bahkan menguji kesabaran. Terkadang, jika sedang sial atau mungkin melanggar etika di gunung, sering sekali pendaki mengalami hal-hal yang berbau mistis.

Seperti yang dialami oleh pendaki yang bernama Bisri. Dia menuturkan ketika mendaki di Gunung Sumbing pada bulan Februari 2018 silam mengalami hal yang tak di inginkan dan mungkin bisa menjadi trauma. Berikut kisah lengkapnya.

*****

Ini adalah kisah pendakianku di gunung sumbing, lebih tepatnya 02.02.2018. Dalam pendakian gunung sumbing, saya memilih jalaur pendakian Pos Garung. Kenapa pos garung? Karena atas saran teman dan banyak juga teman sesama pendaki menyarankan pendakian lewat pos garung. Memiliki ketinggian 3.371 Mdpl gunung sumbing adalah gunung tertinggi ke 2 se Jawa Tenggah. Maka dari itulah aku dan temanku harus memiliki fisik dan perlengkapan lengkap. Seminggu sebelum melakukan pendakian gunung sumbing aku tak lupa lari-lari agar fisikku terjaga.

Gunung sumbing memiliki beberapa pos dan memakan waktu -+8 jam sampai kepuncak Sejati, tentunya dengan catatan tak ada rintangan yang berarti. Pendakianku sendiri hannya berjumpalah 2 anggota saja berangkat dari Grobogan. Tapi waktu sampai di pos pendakian Garung, tentunya banyak pendaki lain yang akan mengiringgi perjalana biar gak kesepian.

Sekitar jam 4 sore saya dan temanku beserta pendaki lainnya meninggalkan pos garung menunju Puncak Sejati Gunung Sumbing. Perjalanan yang sangat menyenangkan ditemani udara yang sejuk, selain itu sepanjang perjalanan juga banyak para petani mengelola lahannya, Sungguh Nikmat Mana Yang Kamu Dustai.

Sekitar jam 05:30 sampai juga di pos pertama atau pos 1, keadaan sudah mulai gelap dan hawa dinggin mulai merasuki tulang belulangku. Aku dan temanku beristirahat sejenak dan tak lupa mengerjakan kewajibanku sebagai seorang muslim Sholat Maghrib. Setelah selesai sholat dan memakan-makanan ringan akhirnya perjalan dimulai lagi. Tak lupa aku menyalakan penerang yang aku taruh dikepala agar menerangi perjalananku, jangket tebalpun aku pakai agar menguranggi rasa dinggin yang menyerang.

Sepanjang perjalana rasa dingginpun selalu mengikutiku, tapi semuanya tak terasa karena dari kejauhan pemandangan kota seperti Temagung terlihat begitu indah. Sesampainya di pos 2, sengaja aku dan temanku tak melakukan istirahat meski banyak pendaki lain yang mengajak untuk istirahat.

Awalnya Semuanya Biasa Saja, Namun Dari Pos 2 Semuan Mulai Berubah. Rasa Dingin yang Menusuk Dada dan Menusuk Tulang.

Dari pos 2 samapai pos 3 rasa dinggin mulai terasa hebat menyerang. Selain itu kabut mulai datang alhasil jarak pandang begitu terbatas. Sepanjag perjalanan menuju pos 3 tak ada pendaki lain yang aku jumpai. Alhasil aku dan 1 temanku mempercepat langkah kaki agar segera sampai di pos 3. Sepanjang perjalan suara-suara pendaki didepanku terdengar jelas tapi saat aku kejar tak ada pendaki yang aku jumpai.

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 2): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Dari belakang juga terdengar ramainya pendaki lain tapi setelah aku tunggu tak kunjung datang. Hawa mistis mulai terasa apalagi suara burung gagak yang membuat bulu kudukku berdiri. Entah karna kedinginan atau itu benar-benar nyata aku dan temanku melihat sosok bola api yang terbang melintas persis diatas saya, kalau ditempatku tinggal disebut Banas Pati. aku bersama temankupun bergegas melangkah, jatuh bangun ditengah kegelapan apalagi senter temanku mati. Alhasil cuma senterku saja yang berfungsi.

Sekitar jam 09.00 malam akhirnya aku dan temanku sampai juga di pos 3. Di pos 3 sududah ramai pendaki dan tenda-tenda berjejer rapi. Aku dan temanku lantas mencari tempat istirahat dan menengka fikiran. Setelah fikiran tenang dan tenga terkumpul aku mulai memasak air buat kopi dan mie instan. Setelah makan dan minum kopi aku dan temanku lantas menjalankan kewajiban Sholat Isya’. Aku tak mendirikan tenda di pos 3 melainkan mendirikan tenda di pos 4 sesuai rencana awal sebelum mendaki dimana pos 4 menjadi kesepakatan pendirian tenda. Sekitar 09:30 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan pos 3.

Dalam perjalanan menuju pos 4 tak ada halangan-halangan yang berarti karena banyak teman pendaki lain bersama kami menuju pos 4. Sekitar jam 10:45 malam akhirnya kami nyampai di pos 4. Sesampainya di pos 4 aku dan temanku segera mendirikan tenda dan memasak air.

Jam 11.00 wib, aku dan temanku masuk dalam tenda untuk tidur karena rencana 04:00 pagi menuju Puncak Sejati. Jam 03:00 pagi aku dan temanku bangun untuk masak agar stamina pulih lagi. Tepat pukul 04:00 pagi akhirnya aku dan temanku melanjutkan perjalanan menuju puncak sejati. Suasana ramai para pendaki menuju puncak, baru saja berjalan kira-kira 30 menitan kami diterjang badai dan kabut tebal. Aku dan temanku sempat diterjang badai hingga terbawa sekitar 50 meter dari jalur pendakian menuju puncak.

Dingin ! ! !

Dingin ! ! !

Kabut ! ! !

Badai ! ! !

Semua lengkap menemani perjalananku menuju puncak Sejati. Sempat temanku tak sadar diri akibat terbawa badai dan akhirnya tersadarkan diri setelah aku sadarkan. Setelah sadar aku dan temanku berjalan menuju puncak.

Aneh menurutku yang awalnya ramai pendaki menuju puncak tapi seketika hannya aku dan temanku saja yang ada dijalur menuju puncak. Hati mulai tak tenang fikiran membayangkan hal yang aneh-aneh. Jujur saat itu aku teramat takut karena cuma ada aku dan temanku saja menuju puncak gunung sumbing. Meski demikian kami tak turun ke pos 4 melainkan melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Dari kejauhan terlihat 2 pendaki lain yang berjalan, aku mencoba memangil dan menyenter tapi senter kami tak begitu jelas karena tebalnya kabut. Tiba-tiba hampir drkat dan aku melihatnya secara langsung 2 pendaki itu terjun bebas kejurang. Aku dan temanku sempat teriak teriak

Tolong ! ! !

Tolong ! ! !

Tolong ! ! !

Tapi tak ada sautan dari pendaki lain, aku sempat menyenter jurang itu dan amat dalam. Aku dan temanku dalam ketakutan yang luar biasa. Akhirnya kami lari secepat mungkin yang kami bisa dan kami terperosok dalam jurang yang gak begitu dalam. Aku dan temanku sulit bangun karena semak-semak yang begitu rimbun. Saat itulah kami melihat tak terlalu jauh kira-kira jarak 10 meter dan begitu jelas Ada seorang pendaki berpakain lengkap membawa rensel tapi tanpa kepala kebetulan senterku menuju persis kearah pendaki tanpa kepala itu.

Jujur aku dan temanku kerakutan, ayat-ayat suci kami lantunkan sebisanya dalam keadaan terperosok dalam jurang. Setelah kejadian itu kira-kira 20 menitan akhirnya kami melihat rombongan pendaki dari UGM dan kami meminta tolong. Aku dan temanku akhirnya berjalan didepan pendaki UGM menuju Puncak sejati.

Sekitar 05:30 pagi aku dan temanku beserta para pendaki UGM sampai ke Puncak Sejati Gunung Sumbing. Suasana ramai dan matahari mulai terbit sungguh pemandangan yang aku nanti-natikan. Sekitar 08:00 pagi aku dan temanku turun dari puncak sejati. Dalam perjalanan turun kami melihat jurang yang dimana 2 pendaki terjun bebas. Setelah kami lihat gak ada pendaki yang ada dalam jurang.

Sesampainya di pos 4 kira-kira jam 09:00 kami segera membongkar tenda, masak dan lain-lain. Perjalanan turun amat indah disekeliling terlihat pemandangan dan gunung Sindoro berdiri begitu gagahnya.

Tepat pukul 01.00 siang kami sampai di pos pendakian Garung. Kami istirahat disalah satu tempat makan penduduk. Aku sempat bercerita kepada pemilik warung atas kejadian yang aku dan temanku alami. Kata pemilik warung tak cuma aku saja yang mengalami itu melainkan banyak pendaki juga pernah mengalaminya. Selain itu pemilik warung juga berkat Dulu memang ada pendaki yang jasatnya ditemukan tanpa kepala karena dimangsa binatang buas dan ada pula pendaki yang terjatuh dari jurang. Mendengar penjelasan pemilik warung aku dan temanku hannya bisa mengucap Syukur Alhamdulillah bisa selamat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page