Part 2 (End) : Bertemu Dengan Dewi, Pendaki Wanita Serba Pucat di Gunung Arjuno

"Mas, mbak terima kasih sudah mau mengantarkan dompetnya Dewi", Tapi Dewi sudah meninggal akibat kecelakaan :(

Indahnya gunung arjuno vi backpackerjakarta.com
0 758

Gunung Arjuno memang terkenal dengan mistisnya dan keangkerannya, bahkan setiap nama posnya saja bisa membuat bulu kuduk merinding. Banyak kisah pengalaman mistis yang menimpa pendaki ketika mendaki di Gunung Arjuno. Setelah kejadian yang mengerikan di pos 3, Part 1 : Bertemu Dengan Dewi, Pendaki Wanita Serba Pucat di Gunung Arjuno

****

Singkat cerita sampailah kami di pos 5 Mahkutoromo, disitu kami istirahat di depan bangunan shelter, dan di shelter itu kami bertemu dengan bapak-bapak, sepertinya beliau seorang penambang belerang. Kami sempat mengobrol dengan bapak itu dan bapak itu bilang.

“Nek nang gunung arjuno sing ngati-ngati, nek iso ojo jumlah ganjil” (Kalau ke Gunung Arjuno hati-hati, kalau bisa jangan jumlah ganjil)

Lalu Fajar menjawab,

“Memang kenapa pak?”

“Nek ganjil, biasane bakal ono lelembut sing ngetutno, nek iso gowo kayu gawe nggenepi”
(Kalau ganjil biasanya bakal ada makhluk halus yang mengikuti, kalau bisa bawa kayu untuk menggenapkan), jawab bapak itu sambil menasehati kami.

“Iya pak terimakasih sarannya”. Jawab Fajar.

Tidak tau kenapa mendengar itu hatiku tiba-tiba berdetak hebat, aku merinding sekali. Dan ketika kami asyik mengobrol dengan bapak-bapak itu tiba-tiba Dewi agak menjauh, seakan tidak mau berkumpul bersama kami dan bapak-bapak itu. Setelah kurang lebih 20 menit kami disitu, kami pun berpamitan dengan bapak itu, kami semua bersalaman dengannya, kecuali Dewi.

Ketika kami akan meninggalkan pos 5 tiba-tiba bapak itu berpesan lagi.

“Ojo lali, nggowo kayu yo mas”. (Jangan lupa bawa kayu ya mas)

Mendengar itu aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, padahal waktu itu kan kami ber-6 dengan Dewi? Aku berfikir, apakah bapak itu tidak melihat Dewi? Dan aku semakin merasa ada yang tidak beres terhadap Dewi.

Singkat cerita, sampailah kami di pos 7 Jawa Dipa pada pukul setengah 10 malam. Kami berniat bermalam disitu dan melanjutkan perjalanan ke puncak besok pagi. Kami mendirikan tenda masing-masing, Dewi membawa tenda sendiri yang berkapasitas 2 orang dan ditempati sendiri.
Setelah tenda selesai didirikan kami semua berkumpul untuk memasak dan makan. Tapi waktu itu Dewi tidak mau makan dengan alasan tidak lapar.

Setelah selesai makan kami pun masuk tenda untuk tidur. Fajar, Herman dan Aldi tidur di satu tenda, sedangkan aku dan Maya tidur berdua.

Malam semakin larut, tiba-tiba aku terbangun dari tidurku karena kedinginan, ketika aku terbangun tiba-tiba aku mendengar suara berisik di depan tendaku, karena penasaran aku membuka sedikit pintu tendaku untuk melihat keluar. Aku benar-benar sangat terkejut ketika melihat keluar, ternyata disitu ada Dewi yang sedang duduk di depan tendanya seorang diri, sambil bermain ranting yang dicoret-coretkan ke tanah.

Aku ingin menyapanya tapi tidak jadi, karena takut. Aku terus mengintip Dewi dari sela-sela pintu tendaku, lalu tiba-tiba Dewi berdiri dari duduknya dan berjalan kearah sebuah pohon yang jaraknya sedikit jauh dari tendanya. Disitu aku melihat Dewi sedang berbicara entah dengan siapa ia berbicara.

Melihat itu aku semakin ketakutan, tapi disisi lain aku masih penasaran dengan apa yang dilakukan Dewi. Aku terus melihat Dewi dari sela-sela pintu tenda. Tidak lama kemudian Dewi terlihat berlari jauh kedalam hutan hingga aku tidak melihatnya lagi. Karena takut aku menutup pintu tendaku dan melanjutkan tidur dan bibirku terus melantunkan do’a, agar tidak terjadi apa-apa kepadaku dan teman-temanku hingga akhirnya aku tertidur.

Tepat pukul 4 pagi kami semua bangun. Ketika bangun aku melihat tenda Dewi belum terbuka, lalu aku menyuruh Fajar untuk membangunkan Dewi. Ketika Fajar mendekati tenda Dewi dan akan membangunkannya tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan Dewi yang tiba-tiba dari dibelakangku. Spontan aku kaget dengan keberadaan Dewi disitu. Lalu Fajar bilang,

“Oalah tak kira belum bangun mbak Dewi”

Dewi pun menjawab,

“Udah mas, tadi habis buang air kecil”.

Aku hanya terdiam, karena waktu itu aku melihat raut wajah Dewi tidak terlihat seperti orang bangun tidur dan kedatangan Dewi itu tepat dari arah hutan tempat ia semalam berlari.
Aku benar-benar ketakutan waktu itu terlebih ketika aku melihat Dewi. Kami pun memasak pagi itu, lalu ketika kami sedang sibuk memasak tiba-tiba Dewi berpamitan untuk jalan lebih dulu.

“Mas mbak, aku duluan ya, terima kasih udah mau bareng” kata Dewi.

“Loh mbak Dewi gak mau nunggu makan dulu”?, tanya Fajar.

“Enggak mas, aku buru-buru soalnya mau ketemu teman juga diatas” jawab Dewi.

“Yaudah mbak Dewi hati-hati ya” jawab Fajar.

Lalu Dewi mengemasi tendanya dan pergi meninggalkan kami. Tidak lama kemudian setelah selesai makan kami juga berkemas dan akan melanjutkan perjalanan menuju ke puncak. Ketika kami sedang beres-beres, tiba-tiba Fajar menemukan sebuah dompet berwarna ungu, melihat itu Fajar mengambilnya dan bertanya pada kami semua apakah ada yang kehilangan dompet, tapi tidak satupun dari kami yang kehilangan dompet.

Karena tidak ada yang kehilangan dompet Fajar membuka dompet itu, ternyata didalam dompet itu terselip kartu identitasnya Dewi.

Ternyata pemilik dompet itu adalah Dewi yang tertinggal. Melihat isi dompetnya berisi surat-surat penting Fajar pun membawanya dan berniat mencarinya di puncak untuk memberikannya. Singkat cerita, sampailah kami di puncak kurang lebih pukul setengah 10 pagi. Di puncak kami mencari Dewi dan menanyakan kepada pendaki lain apakah ada pendaki wanita yang mengenakan kemeja hitam putih dan memakai ransel warna hijau pupus.

Tapi tidak ada satupun pendaki lain yang melihatnya, hingga akhirnya kami berpencar tapi tetap saja tidak menemuinya. Karena tidak menemukan Dewi, Fajar membawa dompet itu turun dan berniat mengantarkannya kerumahnya, karena di kartu identitasnya tertulis alamat rumah Dewi yang kebetulan tidak jauh dari tempat kami akan turun nanti. Waktu sudah menunjukan pukul 11 siang, kami pun bergegas turun melalui jalur Lawang.

Singkat cerita, sampailah kami di padang sabana di jalur pos 3 menuju pos 2. Sabana disitu sangat luas dan sebelah kiri kami terdapat sebuah bukit yang dinamakan Gunung Lincing. Sesampai disitu tiba-tiba aku melihat Dewi sedang berjalan jauh di atas Gunung Lincing. Aku memberi tahu teman-temanku dan kemudian berteriak memanggilnya karena ingin mengembalikan dompetnya, tapi Dewi tidak mendengar teriakan kami karena jauh.

Fajar mengajak kami untuk mempercepat langkah kaki agar bisa bertemu Dewi di pos 2, karena di pos 2 itu satu jalur dengan Gunung Lincing. Sesampai di pos 2 kami menunggu kedatangan Dewi, tapi Dewi tidak kunjung datang. Kami menunggunya hingga kurang lebih 30 menit, tapi disisi lain kami juga ragu antara belum sampai atau Dewi sudah turun duluan.

Karena lama menunggu kami pun bergegas melanjutkan perjalanan agar segera sampai di basecamp. Sesampai di basecamp kami bertanya kepada petugas apakah ada seorang pendaki wanita yang mengenakan kemeja hitan putih memakai ransel hijau pupus turun lewat sini.
Tapi petugas basecamp menjawab tidak ada.

Kemudian aku menyarankan Fajar untuk membawa dompet itu dan mengantarkan kerumahnya.
Kami pun turun menggunakan ojek, setelah sampai di pasar Lawang Fajar berniat mengantarkan dompet itu seorang diri dan menyuruh kami menunggu di sebuah warung, karena menurut ojek yang akan ditumpanginya alamat itu berjarak tidak jauh dari pasar Lawang.

Karena penasaran dengan Dewi, aku ingin ikut mengantarkan dompet itu bersama Fajar dan Fajar tidak keberatan kalau aku ikut. Berangkatlah kami ke alamat Dewi, sesampai di alamat tersebut Fajar meminta tukang ojek untuk menunggunya.

Fajar mengetuk pintu rumahnya dan yang membukakan pintu adalah ibunya. Fajar bertanya pada ibunya Dewi,

“Maaf apa benar ini rumahnya mbak Dewi?”

“Benar, mas dan mbak ini temannya ya?” jawab Ibunya Dewi.

“Iya bu, tadi kita sempat bertemu mbak Dewi di gunung dan menemukan dompet ini tertinggal di gunung” jawab Fajar sambil menunjukan dompet yang ditemukannya tadi.

Mendengar itu ibunya Dewi menyuruh kami masuk dan mempersilahkan kami duduk di ruang tamu.
Ibunya Dewi menyuguhkan minuman dingin lalu kemudian berkata,

“Mas, mbak terima kasih sudah mau mengantarkan dompetnya Dewi”

“Iya bu sama-sama, memang mbak Dewi belum sampai rumah ya?” jawab Fajar.

Lalu sambil berlinang air mata ibunya Dewi bercerita kepada kami berdua,

“Minggu lalu Dewi pamit sama ibu untuk mendaki ke Gunung Arjuno dan ibu mengizinkan, setelah Dewi adalah anak sulung ibu. Setelah pulang dari gunung Dewi sempat bilang pada ibu kalau dia kehilangan dompet ini di gunung, karena teledor ibu sempat memarahinya, soalnya waktu itu surat-surat kendara’an ada di dompetnya Dewi semua.

Ke’esokan harinya Dewi kecelaka’an ketika akan pergi kerumah temannya untuk mengajaknya kembali ke gunung mencari dompetnya dan nyawanya Dewi tidak terselamatkan. Dewi sudah meninggal 2 hari yang lalu, dan ibu sangat menyesal sudah memarahi Dewi waktu itu”.

Mendengar ceritanya ibu itu kami berdua syok dan turut berduka cita. Ternyata Dewi yang kami temui di gunung itu buka Dewi yang sebenarnya. Kami berdua pun berpamitan dengan Ibunya Dewi untuk pulang, kami kembali ke pasar Lawang dan bersepakat untuk tidak menceritakan hal ini kepada teman-teman lainya dulu sebelum sampai di rumah.

Yang menjadi pertanya’an, kalau dilihat dari hari pendakiannya Dewi minggu lalu, harusnya dompet itu sudah ditemukan oleh rombongan pendaki lain, tapi kenapa waktu itu rombongan mereka yang menemukannya?

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page