Part 1 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Aku terbangun saat merasakan air segar di mulutku. Ternyata Ayu menuangkan air agar aku siuman.

Kisah Mistis Gunung Ciremai
0 1.227

Gunung Ciremai merupakan salah satu gunung yang tampak gagah dan perkasa di Jawa Barat. Gunung ini juga merupakan salah satu gunung yang paling sering menjadi tempat pendaki untuk sekadar menikmati lautan awan yang manis. Secangkir kopi hangat ditemani obrolan tanpa beban bersama sahabat memang membuat candu, sambil menunggu sang mentari malu-malu menyinari muka bumi ini.

Meski tracknya tergolong sulit dan membutuhkan tenaga ekstra, tak membuat nyali para pendaki untuk segera menikmati kemegahan gunung ciremai. Namun tahukah kamu bahwa dibalik keindahannya, banyak juga pengalaman mistis yang dialami oleh para pendaki. Seperti cerita dari Aras Anggoro di facebook yang sedang viral di kalangan penikmat cerita horor di gunung. Simak yuk selengkapnya.

*****

Tidak ada yang salah selama kita naik, sampai puncak juga ngecamp. Masalah baru muncul menjelang kita turun, di Pengasinan Ayu haids. Setelah memasang pembalut, kita langsung turun. Pamit sebentar dengan pendaki Wonosobo yang kemarin sempat ngobrol dipuncak. Mereka menyarankan ngecamp semalam lagi karena sudah mulai sore. Tapi karena besok kita berdua kerja, ngecamp semalam lagi jelas ngga mungkin.

Masuk hutan lagi. Ayu jalan duluan, aku dibelakangnya biar bisa mengawasi. Kita berjalan pelan. Jalur Linggarjati agak bahaya untuk dibawa lari. Sebentar-sebentar Ayu minta istirahat. Mungkin pengaruh haids. Keanehan mulai terasa ketika kita melewati pos Sanggabuana, kita tidak bertemu satu pendaki pun yang naik. Padahal ramainya pendaki inilah yang membuat saya berani turun walau kesorean.

Jam 5 sore kita sampai di pos Batu lingga. Ada sedikit tanah lapang buat kita istirahat. Disini kita masak mie dan nyeduh kopi. “Gimana di, udah sore banget. Ngecamp lagi apa gimana? ” Kata Ayu. Mukanya jelas cape dan khawatir.

“Lanjut aja Yu, sekalian cape.” Kataku.

Setelah dirumah barulah aku tahu, kesalahan fatal dibuat disini dan di Sanggabuana. Ayu cerita, waktu di Sanggabuana, dia sebel banget harus bentar-bentar berhenti karena kasih jalan pendaki yang mau naik. Dia sempet ngomel, “andai ngga ada yang naik lagi, enak nih turun, ngga keganggu”

Entah kebetulan atau tidak, memang betul kami tak pernah lagi berpapasan dengan pendaki lain.
Kesalahan kedua, dan yang paling fatal. Di Batu lingga Ayu membuang bekas pembalut nya ke kerimbunan semak.

Benar Adanya Niat Tulus dan Hati yang Bersih Ketika Mendaki, Akibat Kedongkolan Ayu Memabwa Malapetaka Bagi Dirinya dan Kelompoknya. Mulai dari sini sampai bawah adalah terror.

Beres-beres peralatan. Packing ulang. Kita langsung jalan. Hari sudah gelap karena menjelang magrib. Ayu didepan, aku dibelakang. Bulu kuduk mulai berdiri. Rasanya diantara semak, dibalik pohon, disetiap tempat yang gelap ada yang mengawasi. Kepalaku mulai nyeri. Berdasarkan pengalamanku, kepala yang nyeri biasanya ada aktifitas mistis.

Di belokan hutan, aku kaget melihat Ayu berhenti dan badannya menghadapku. Suaranya gemetar, dia bilang,

“Di, lu jalan duluan ya. Gw pegangan keril lu ya. ”

Aku mengangguk. Jadi sekarang aku jalan duluan, sementara Ayu pegangan carrierku dibelakang. Jalanan sudah gelap total. Penerangan cuma dari cahaya headlamp

Dari sudut mata aku melihat ada bayangan hitam yang berdiri di pohon, tapi waktu aku menoleh tidak ada siapapun. Lalu ada suara bisik-bisik yang jelas sekali, yang tadinya kupikir pendaki yang naik, nyatanya jalur didepan cuma kosong dan gelap tidak ada siapapun. Disini aku berdoa dalam hati mohon perlindungan.

Tiba-tiba Ayu menangis, dia jatuh terduduk, kepalanya disembunyikan di lututnya. Dalam sesenggukannya dia berulangkali menyebut pocong… Pocong .. Pocong

Mendengar itu bulu kudukku berdiri total. Kulihat segala arah dengan panik. Sosok itu tidak ada. Aku membujuk Ayu untuk berjalan lagi, sambil mengingatkan untuk berdoa. Akhirnya Ayu mau berjalan lagi setelah matanya kututup dengan buff. Dengan cara ini, Ayu tidak lagi histeris, tapi jalan kami jadi luar biasa lambat.

Sepanjang jalan aku masih terus melihat kelebatan-kelebatan hitam. Kadang semak-semak yang bergoyang sendiri. Suara-suara dalam bahasa sunda yang aku ngga ngerti artinya terdengar entah ditelinga entah suara pendaki yang terbawa angin.

Badanku gemetar ketika ada sebuah bayangan diujung jalur, dia jongkok dibawah pohon. Kali ini bayangan itu tidak hilang. Aku istighfar semakin kencang, Ayu memegang tanganku dengan erat. Semakin mendekat, kami akan terpaksa melewatinya karena sosok itu tepat di pinggir jalur.

Nyaliku habis. Aku diam ditempat. Gemetar dan keringetan. Kali ini Ayu sudah memelukku. Dia walau tidak melihat apa-apa tentu merasa ada yang ganjil. Lama aku berdiri berharap sosok itu hilang, sehingga kami bisa lewat. Tapi dia tetap disana.

Tiba-tiba punggungku ada yang menepuk. Seorang pendaki yang sedang turun. Alhamdulillah kami selamat, aku lega. Dia melambaikan tangan mengajakku jalan. Aku langsung bergerak. Sosok itu sudah hilang. Aku mengikuti pendaki ini hingga tiba-tiba dia hilang dikegelapan.

Sebuah suara pelan terdengar, “jalan lurus aja bang, jangan tengok kekiri. Aku dan Ayu masih terus merayap pelan. Teror nyata bercampur dengan halusinasi membuat mentalku semakin lemah. Sedetik yang lalu aku melihat tangan keluar dari tanah, ternyata hanya akar. Dalam keadaan ini akhirnya aku ambruk. Suara istighfar pelan masih terdengar dari mulut Ayu.

Aku terbangun saat merasakan air segar di mulutku. Ternyata Ayu menuangkan air agar aku siuman.

Kami mulai berjalan lagi. Keadaan sekarang berbalik. Aku yang hampir tidak punya tenaga tersisa dipapah oleh Ayu. Kelebatan-kelebatan bayangan masih terlihat diantara pohon. Disuatu tempat aku bahkan melihat kaki yang berayun-ayun. Tak berani memastikan kaki siapa, aku memejamkan mata.

Setelah melewati turunan yang agak tajam, aku melihat dikiri jalur ada tenda. Aku lega bukan main, akhirnya kami selamat. Tiga orang tampak sedang mengelilingi api unggun. Satu orang melihat kami, dia melambaikan tangan. Aku dengan gembira setengah berteriak ke Ayu. “Yu, kita mampir dulu kesitu. Ngopi, istirahat, besok aja jalan lagi. ” Sambil menunjuk ke arah tenda.

Tiba-tiba Ayu menamparku dengan keras sambil berteriak-teriak histeris, “di, sadar di! Istighfar!! Ngga ada apa-apa disitu!! ” Tiga orang itu sekarang semuanya melambai-lambai memanggil. “Itu ada orang Yu, ayo kesana. ngga enak, udah dipanggil-panggil. Ayo Yu… “

Ayu menamparku lebih keras sambil berteriak di kupingku menyuruh istighfar.

Kali ini ketika aku menengok ke kiri ketiga orang itu sudah berjarak satu meter didekatku, sambil nyengir aneh, tiba-tiba kepala ketiganya lepas dan jatuh ketanah. Sambil cekikikan kepala tadi menggelinding ke arahku. Aku histeris dan langsung lari. Beberapa lama baru aku sadar, aku meninggalkan Ayu dibelakang. Kakiku lemas, jantung berderap kencang. Mau balik menyusul Ayu, aku kelewat takut.

Tapi tak lama kulihat Ayu berjalan turun. Begitu dekat, dia cuma menepukku mengajak jalan lagi. Aku berjalan mengikutinya dibelakang. Tapi pelan-pelan aku memperlebar jarak dengan Ayu. Terus terang aku ngga yakin, Ayu yang jalan didekatku adalah Ayu temanku. Segala doa aku panjatkan. Ada rasa, menyesal kenapa aku tidak hapal ayat kursi.

Aku berjalan dengan mata menatap ke tanah. Karena di sekitarku penampakan ada di mana-mana. Bahkan sambil mata terpaku ke tanah, aku bisa melihat disebelahku ada kaki kaki yang kulewati. Ada yang kecil, besar. Ada yang hitam. Ada yang memakai kain putih.

Jantungku serasa mau copot ketika Ayu yang berjalan tiga meter didepanku tiba-tiba berlari dan langsung naik ke pohon sambil tertawa cekikikan. Aku langsung putar arah, lari keatas lagi. Tidak jauh aku lihat Ayu bersandar dipohon sambil menangis. Instingku mengatakan ini Ayu yang asli. Tapi begitu kusentuh dia berteriak-teriak histeris.

“PERGI!! PERGI!! “

Dia langsung jatuh lemas saat dia sadar aku yang menyentuhnya.

“Di, ini elu kan? “

Kami dengan badan gemetar dan doa-doa mulai berjalan lagi. Semua penampakan muncul. Ada yang bertengger dipohon, kepala yang menyembul di semak-semak. Bau-bau busuk dan wangi melati yang berganti-ganti. Aku dan Ayu berusaha tetap berjalan ditengah jalur. Kami sangat takut jika terlalu kiri atau kanan ada tangan yang akan menarik kami ke semak.

Belum lagi suara-suara. Ada suara yang terdengar marah tapi dalam bahasa Sunda, ada yang tertawa cekikikan, ada yang mengucapkan assalamu’alaikum berulang-ulang. Aku sempat berlindung dibalik pohon ketika melihat kuda lewat tanpa ada penunggangnya.

Kami akhirnya lepas dari hutan dengan susah payah. Tidak pernah terpikir untuk melihat jam berapa. Tapi gangguan masih belum mau melepas kami. Satu dua tangan atau kepala masih muncul dan hilang disudut mata kami.

Lalu suara burung terdengar jelas. Kaok.. Kaok… Kaok…

Entah aku sudah kelewat terbiasa atau sudah pasrah. Aku seratus persen yakin ini pasti burung jadi-jadian. Lewat diatas kami burung hitam, terbang dengan pelan. Ternyata bukan burung jadi-jadian, ini burung biasa. Aku lega selega-leganya. Aku mendengar Ayu istighfar pelan, lalu jatuh pingsan. Perasaanku kembali berantakan. Ada apa lagi ini?

Sebelum aku juga pingsan, aku sempat melihat apa yang membuat Ayu tumbang. Dibelakang burung tadi, ada yang terbang mengikuti, sebuah kurung batang. (Next Part 2 …)

Baca Rekomendasi :   Part 7 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page