Part 4 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Kami kembali berjalan. Semakin keatas hutan semakin rapat. Pohon-pohon besar berdiri angker disegala penjuru.

Pendakian Gunung Ciremai
2 595

Cerita sebelumnya bisa kamu baca di Part 3 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Jantungku bergemuruh kencang ketika bau pandan tersebut kian mendekat. Kakiku bagai tertancap ditanah. Mataku bergerak liar mencari sosok yang bahkan abang ini pun merasa lebih baik menghindar. Dan jantungku serasa dicabut. Sosok itu tepat berada diatasku. Wajahnya tertutup rambutnya yang acak-acakan. Tangannya yang penuh koreng dan bernanah menjuntai.

Semakin kuat usahaku untuk diam, tubuhku semakin gemetar tak terkendali. Aku lalu menutup mata dan berusaha membayangkan apapun sekedar untuk menghilangkan bayangan Kalong wewe itu dari benakku. Aku membayangkan suasana kantor, keriuhan saat makan siang atau macetnya lalulintas di jam pulang kantor. Sekejap aku berhasil menenangkan riuh jantungku, gemetar diseluruh tubuhku mulai berkurang, ketika tiba-tiba suara berdebum jatuh tepat dibelakangku.

Usahaku barusan langsung sia-sia, tubuhku gemetar hebat, bahkan lebih dibanding sebelumnya. aku seratus persen yakin, Kalong Wewe itu tepat berada dibelakangku. Punggungku serasa panas. Beban carrier yang kubawa kurasakan kian bertambah berat.

Sebuah tangan muncul dari belakang. Berkoreng dan berbau busuk. Kukunya yang panjang dan hitam mulai menyentuh pipiku.

Dititik ini aku bahkan sudah tak sanggup lagi menutup mata. Aku hanya bisa menatap ngeri ketika jari-jari kurus itu bergerak perlahan membelai pipiku..

Dan hilang.

Jari-jari itu hilang begitu saja. Tapi aku masih tidak berani bergerak. Firasatku mengatakan makhluk menjijikkan itu masih ada disekitar, aku hanya tak tahu dia ada dimana ketika tiba-tiba aku melihat hal yang paling mengerikan sepanjang hidupku. Sebuah tangan mencengkeram pinggang ku dari bawah. Tangan yang satunya bergerak perlahan menggores perut, naik ke dada hingga akhirnya mencengkeram bahuku.

Dan perlahan sebuah wajah yang mengerikan muncul diantara dua tangan itu. Matanya menatap kosong ke mataku. Hanya mata kosong itu yang tersisa diwajahnya. Seluruh wajahnya hancur dan bernanah. Dahinya penuh borok-borok besar yang siap meletuskan darah dan nanah kapan saja. Wajah itu terus naik, matanya tetap terpaku ke mataku. Pelan dan pasti dia merayap di perutku, naik ke dadaku, leher dan langsung tepat berada di wajahku. Mata bulat besar itu terus saja lekat menatapku, semakin dekat.

Mataku menatap ngeri ketika mulutnya terbuka menampakkan belatung-belatung yang menggeliat didalamnya. Mulut itu kian membuka lebar dan semakin lebar, seluruh wajah itu sekarang adalah mulut yang menganga, tangannya mencekik leherku, mulut itu semakin mendekat dan mendekat!!

Yang pertama kulihat ketika siuman adalah wajah orang itu. Tubuhku lemas, tidak sanggup untuk digerakkan.

Seluruh tulang serasa lepas dan kepalaku terasa nyeri. Ada rasa sakit disekitar leherku. Ketika aku menyentuhnya, tampak noda darah dijariku. Tubuhku langsung mengejang, kakiku tersentak saat ingatanku kembali pulih menghadirkan kembali saat kuku-kuku hitam Kalong wewe itu menusuk leherku.

“Udah tenang! Jangan panik! Setan sialan itu udah ngga ada.” Kata orang itu sambil membantuku minum teh hangat.

Mendengar itu aku kembali tenang. Tapi rasa sakit disekitar leherku masih terasa panas. Bekas hitam di leherku kelak tidak akan hilang selama berminggu-minggu.

“Terima kasih bang.” Suaraku terdengar lirih. Tapi aku sungguh-sungguh berterima kasih. Tanpa kehadirannya entah bagaimana nasibku dan Ayu.

“Bukan gue.” Jawabnya pelan, sambil membereskan kompor bekas memasak air panas. Suaranya terdengar lemah.

Aku masih memandanginya, menunggu jawaban. Merasa diperhatikan, dia menghentikan aktivitasnya dan menatap serius padaku.

“Berterimakasih sama Nyi Linggi.” Dia berucap.

Aku masih menatapnya. Bingung bagaimana bereaksi. “Nyi Linggi siapa bang?’ tanyaku.

Dia tampak kesal dengan pertanyaanku.

” Emang kalian bocah ngga tau adat. Nyi Linggi itu orang yang rumahnya di Batu Lingga kalian kotorin!”

Aku masih tetap bingung dengan jawaban-jawabannya. “Ta.. tapi orang kan bang?” tanyaku lagi.

Dia mendekat dan berbisik pelan ditelingaku, “penguasa Ciremai.”

Kami kembali berjalan. Semakin keatas hutan semakin rapat. Pohon-pohon besar berdiri angker disegala penjuru.

Sosok-sosok Kuntilanak masih muncul disana sini, walau tidak sebanyak tadi. Sebagai gantinya banyak penampakan-penampakan baru berupa sosok-sosok menyerupai manusia biasa. Tidak ada aura mengancam dari sosok-sosok itu, yang terasa justru aura penderitaan. Sosok itu menyebar di banyak tempat, tiduran di jalur, dibawah pohon, ada yang menangis sesenggukan diantara semak-semak. Semua sosok itu adalah laki-laki. Wajahnya tampak seperti wajah orang desa biasa. Disuatu tempat, aku bahkan harus berjalan zigzag agar tidak menginjak orang-orang ini.

Aku mengenali tempat ini. Sebentar lagi diatas adalah tempat aku dan Ayu mendirikan tenda pada malam pertama saat mendaki. Dan benar saja, tidak lama kami mendapati lahan agak terbuka. Disana kulihat ada satu tenda yang berdiri. Ada sebuah penanda berwarna kuning di pohon yang bertuliskan: Kuburan Kuda.

Wajahku sumringah melihat kehadiran orang lain di gunung ini. Dua orang pendaki yang sedang sibuk memasak. Satu orang lainnya tampak duduk dimulut tenda, kakinya menjorok keluar, memperhatikan rekannya yang sedang sibuk.

Tapi aku juga melihat penampakan sosok lain. Disekitar mereka hantu-hantu berwujud orang desa ada di mana-mana. Sebagian besar berkerumun disekitar pendaki yang sedang memasak. Wajah-wajah sendu itu memperhatikan seorang pendaki yang sedang mencicipi kuah mie. Mereka tampak kelaparan.

Aku sudah bersiap akan menyapa pendaki-pendaki ini ketika orang itu mencolek ku dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Sekarang ini mereka ngga bisa melihat kita.” Katanya.

Aku terperangah mendengarnya. Apakah aku sudah jadi hantu?

“Kita dan mereka ada di tempat yang sama, tapi berbeda dimensi.” Sambung orang itu lagi. “Percuma nyapa, mereka ngga akan dengar.”

Aku lalu menunjuk sosok-sosok hantu kurus berwujud orang desa itu, meminta penjelasan.

“Mereka tadinya orang kampung biasa dikaki gunung. Mereka dibawa kesini untuk kerja romusha di jaman Jepang. Disiksa, kelaparan dan akhirnya dieksekusi. Mayatnya dibuang didaerah ini.”

Aku iba mendengar masa lalu pahit yang harus hantu-hantu ini alami.

Orang itu menggamit lenganku, mengajakku kembali meneruskan perjalanan. Aku mengangguk, lalu mulai melangkah. Ada rasa sedih harus berpisah dengan pendaki-pendaki ini. Bagiku mereka adalah simbol kehidupan biasa. Tenang dan tanpa konflik. Sementara aku harus pergi menuju kerajaan gaib gunung Ciremai. Keceriaan mereka adalah keceriaanku dan Ayu beberapa malam yang lalu. Semoga mereka tidak mengikuti kesalahan kami.

Perhatianku teralih oleh suara gemerisik disemak-semak di kanan dan kiriku. Sesekali terlihat kelebatan sesuatu yang berjalan mengiringi langkah kami. Kadang terdengar nafas berat.

Aku mencolek orang itu, “bang… Bang… “

Dia malah menepis tanganku, dan mengisyaratkan agar terus berjalan. Tapi aku tak bisa menepis rasa takut dan keingintahuan. Hingga terus-terusan mencolek tangannya. Dia yang akhirnya merasa terganggu akhirnya berhenti. “Bawel banget lu sumpah.” Makinya. “Sini gw jelasin biar diem.”

Dia menyelipkan rokok dibibirnya, membakar dan menghisapnya dalam.

“Ngga pernah ada yang bisa jelasin bentuk Kalong wewe. Tadi gw bilang, kebanyakan orang yang diculik Kalong wewe jarang balik, betul?” Tanyanya sambil menghembuskan asap rokok.

Aku mengangguk.

“Sebagian ada yang bisa ditolong walau susah. Tapi mereka ngga kembali utuh. Siapapun yang sudah ditetein Kalong wewe udah ngga akan bisa ngomong lagi.” Dia melanjutkan, “Kalong wewe ngga akan membiarkan orang lolos dan nyeritain bentuknya yang menjijikkan ke orang lain.”

Sampai sini aku mulai gemetar lagi membayangkan bentuk Kalong wewe yang sungguh menjijikkan tadi. “Kalong wewe itu masih ngikutin kita sampe sekarang.” Jelasnya lagi, “Dia ngga akan ngelepas lu boy, tapi dia ngga bisa mendekat karena sejak kejadian tadi, kita dijaga di kanan kiri sama makhluk lain.”

“Apaan bang?”tanyaku.

Dia menghembuskan asap rokoknya ke wajahku. Suaranya terdengar sedikit gemetar dan sedih. Dia berkata pelan, ” Harimau.”

‘Ternyata ada juga makhluk gaib yang baik sama manusia ya bang.” Kataku.

Dia tersenyum kecut. “Baik bukan pilihan kata yang tepat boy.” dia kembali menghisap rokoknya,

” Terus bang?” Aku bertanya menyelidik.

“Buat ganti penjagaannya, ada sesuatu yang nanti harus dikorbanin.” 

Next  Baca di Part 5 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Baca Rekomendasi :   Part 1 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai
2 Comments
  1. […] Untuk selanjutnya bisa baca di Part 4 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai […]

  2. […] Cerita sebelumnya bisa kamu baca di Part 4 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page