Part 5 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Dengan ngeri aku berjingkat minggir menghindari sisa-sisa makhluk itu. Walau hancur tapi dia masih bergerak-gerak lemah.

Teror Gunung Ciremai
2 557

Cerita sebelumnya bisa kamu baca di Part 4 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Bajuku basah oleh keringat. Kakiku mulai nyeri. Semakin keatas jalur yang harus kami lalui semakin curam. Tanjakan-tanjakan ini seakan tidak berakhir. Orang itu seringkali harus berhenti untuk menungguku yang mulai megap-megap kehabisan nafas. Jika sudah begitu dia biasanya hanya merokok dan melihatku dengan sebal. Aku sudah hampir tak peduli dengan harimau dikanan kiriku, atau kalong wewe yang pastinya sedang mengawasiku entah dimana. Selama mereka tidak menampakkan diri sudah cukup bagiku.

Sosok hantu orang desa tidak ada lagi diatas sini. Setelah melewati Kuburan kuda, penampakan mereka semakin berkurang hingga hilang sama sekali. Musuhku yang utama saat ini cuma tanjakan-tanjakan yang semakin curam. Dibeberapa tempat aku bahkan harus menggunakan akar untuk membantuku naik. Sesekali muncul pocong, yang tiap kali selalu membuatku melompat kaget. Kalau sudah begitu biasanya orang itu tertawa terbahak-bahak kegirangan. Rupanya kepanikanku sudah menjadi hiburan buat dia.

“Bener kata abang tadi, setan-setan begitu bisanya cuma muncul hilang, muncul hilang doang. Ngga bisa ngapa-ngapain.” Kataku dengan nafas tersengal-sengal.

Dia nyengir. “Yang gua maksud tadi kan Kuntilanak boy hehe.” Jawabnya sumringah. “kan gua tadi ngga nyebut pocong.”

“Lah kalo pocong gimana bang?”

“Di Afrika ada yang yang namanya cobra penyembur. Dia ngga matok kayak uler lain, tapi dia nyemburin bisa beracun ke muka korbannya.” Dia menyambung, “pocong itu cobra penyemburnya dunia setan. Saran gua, kalo liat pocong cuma satu: lari. Lu ga bakal mau kan diludahin pocong.”

“Kalo diludahin gimana bang?” Tanyaku.

“Ya buta hahaha.” Dia menjawab diiringi gelak tawa senang.

Entah dia bercanda atau tidak, tapi yang jelas aku berharap jangan pernah lagi bertemu pocong.

“Bang, emang bener mitosnya, kalo bisa ngambil tali iketan pocong kita bisa kaya?” Tanyaku iseng.

“Ngapain susah-susah ngambil tali pocong. Ribet amat. Kalo sekedar cuma minta kaya, minta kebal, minta pelet, lu doa aja minta gituan ke pocong.” Jawabnya ringan.

“Emang bisa bang?” Tanyaku polos.

“Ya bisa. Apa sih yang setan ngga bisa boy. Tapi lu gila kalo sampe begitu. Emang yang nyiptain lu pocong? Hahaha, manusia makin kesini makin aneh.” dia menambahkan, “jadi ngga heran gua, kalian sampe ketimpa masalah kayak begini. Hidup lu kebangetan jauh dari agama boy.”

Aku termenung mendengar jawabannya yang terkesan ngawur. Tapi ada kebenaran di situ. Memang betul, hidupku sudah melenceng jauh dari yang seharusnya. Aku bertekad dalam hati, jika bisa lolos dari sini, aku ngga akan meninggalkan sholat. Lalu aku mendengar bunyi berdebum ringan. Suara benda jatuh. Dengan panik aku mencari-cari sumber suaranya. Orang itu pun mendengar suara itu. Dengan mengikuti arah tatapannya barulah aku melihat sumber suara berdebum itu.

Dari tanjakan didepan kita, seonggok kepala tanpa tubuh tergeletak.

Aku bagai tersengat listrik ketika kepala itu berputar pelan dan menampakkan wajahnya. Mulutnya sobek sampai ke telinga, lidah panjangnya menjulur keluar dan bergerak-gerak mengerikan. Air liurnya menetes. Matanya yang tertutup, pelan-pelan terbuka. Dibalik kelopak mata itu tidak ada apa-apa, hanya lubang hitam. Kosong tapi terlihat mengancam.

Pelan, kepala itu terangat ke udara, menampakkan sisa tubuhnya. Ditempat yang seharusnya leher sekarang nampak hanya tulang. Jaringan urat dan otot yang tampak basah membelit tulang itu. Tampak menggantung jeroan perutnya. Busuk tapi juga berdenyut-denyut. Makhluk itu melayang dua meter dari tanah. Ditingkahi suara tawa serak dari mulutnya dia meluncur kearahku dengan cepat. Tak mampu bergerak, aku hanya membelalak ngeri

Tapi dengan cepat orang itu menangkap tulang yang menggantung dibawah kepalanya, dibanting ke tanah dan diinjak hingga hancur. Aku bergidik melihat kejadian barusan. Seperti tidak terjadi apa-apa orang itu kembali berjalan meninggalkanku dibelakang. Kakiku sedemikian gemetar nya hingga membutuhkan waktu beberapa menit untuk mampu berjalan lagi.

Dengan ngeri aku berjingkat minggir menghindari sisa-sisa makhluk itu. Walau hancur tapi dia masih bergerak-gerak lemah.

Tapi tiba-tiba kakiku tak dapat bergerak, tanpa sadar aku minggir terlalu dekat ke semak-semak dan kakiku terjerembab akar yang mencuat dari tanah. Dengan panik aku mengibas-ibaskan akar yang menjepit kakiku tanpa melihatnya. Tapi bukan akar yang kupegang melainkan sesuatu yang kenyal dan lengket. Aku histeris ketika menyadari yang menahan kakiku adalah seonggok tangan putih pucat.

Beberapa pasang tangan putih pucat lain muncul dan menarikku ke semak-semak. Aku berusaha berteriak minta tolong, tapi tenggorokanku tercekat, aku tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun. Dengan kasar tubuhku ditarik makin dalam ke semak. Kurasakan sesuatu yang basah menempel di telingaku, selang seling diantara tawanya dia berbisik: mati.. Mati… Mati.

Lalu kegelapan total.

Saat kesadaranku kembali, kulihat orang itu didepanku. Pipiku berdenyut sakit. Dia baru saja menamparku dengan keras. Aku terkejut karena aku belum bergerak sedikitpun dari tempat tadi aku berdiri.

“Gua bilang pikiran jangan kosong! Ditempat begini lu ngga boleh melamun, paham ga lu! ” Dia membentakku dengan keras. Aku mengangguk sambil mengusap-usap pipiku yang panas. Jantungku masih bergemuruh kencang seakan tangan tangan mayat tadi masih menempel di tubuhku.

Orang itu menarikku dengan kasar, beberapa langkah kami keluar dari jalur. Menganga didepan kami adalah jurang. Kami berdiri tepat dibibirnya. Angin dingin menabrak wajahku. Dalam kegelapan malam, jurang ini terlihat lebih mengerikan. Lalu kudengar suara tangisan, juga teriakan-teriakan minta tolong dari dasar jurang ini. Hembusan angin mengacaukan sumber suaranya, kadang terdengar jauh, kadang terdengar dekat.

“Itu teriakan minta tolong dari pendaki-pendaki yang hilang dan ngga pernah ditemuin lagi.” Katanya.

“Mereka salah apa bang?” Tanyaku.

“Di gunung ini lu ngga perlu salah apa-apa, cukup bengong aja lu bisa hilang. Jangan salah boy, setan ngga cuma bisa nyulik badan lu, mereka juga bisa nyulik jiwa lu. Makanya kalo gua ngomong dengerin! Bentaknya lagi. Dia lalu jalan berbalik sambil kembali menarikku.

” Bang, itu tolongin dulu mereka bang.” Pintaku

Tapi dia tetap berjalan kembali ke jalur. “Bukan urusan gua.” Jawabnya ketus.

Sambil berjalan terseret karena tarikannya, aku terus menerus menoleh ke belakang. Aku iba dengan pendaki-pendaki yang hilang itu. Dalam keadaanku sekarang, aku benar-benar memahami apa yang sedang mereka rasakan.

“Mata lu liat kemana!” Bentaknya lagi padaku.

Ketika menoleh, aku kaget karena wajahku hampir saja menabrak sepasang kaki yang menggantung. Terkejut dan kehilangan keseimbangan, aku jatuh terduduk. Kaki itu masih disitu, terjuntai lemah. Mataku membelalak menatap ngeri. Pemilik kaki itu adalah anak kecil seumuran adikku. Lehernya patah terikat tali yang menggantung di sebuah cabang pohon.

Aku semakin terkesiap saat menyadari didepanku membentang sebuah tanjakan terjal, pohon-pohon besar bercabang dengan ranting-rantingnya yang lebat hingga bulan tidak terlihat sedikitpun. Di setiap dahan pohon-pohon itu terbujur kaku mayat yang digantung. Satu disetiap dahan. Kurasakan dingin memelukku dengan cepat. Aku masih terpaku menatap puluhan pasang kaki yang tergantung itu bergoyang-goyang tertiup angin.

“Jalan boy. Hormatin orang yang udah mati.” Kata orang itu.

Aku beringsut ditanah sebelum akhirnya lari mengejar orang itu. Sekilas kulihat tulisan penanda di sebuah pohon: Bapa Tere. Sengaja aku tidak bertanya apapun tentang mayat-mayat yang tergantung itu. Penampakan mayat anak kecil seusia adikku lebih membuatku sedih daripada takut. Dan aku sama sekali tidak ingin mendengar kisah sedih tentang masa hidup mayat-mayat itu dulu.

Tanjakan ini lebih curam dari yang sebelumnya. Dengan susah payah aku mendaki dari undakan ke undakan. Yang mengherankan, orang itu belum terlihat lelah sama sekali. Dengan rokok di mulutnya dia berjalan dengan santai, kadang melompat di tanjakan terjal ini.

Tiba-tiba dengan mendadak angin berhenti berhembus. Tidak ada bunyi apapun, seakan-akan seluruh hewan malam mendadak bersembunyi. Suasana wingit semakin terasa.

Dari atas tanjakan kulihat orang itu memberikan aba-aba padaku untuk diam tak bergerak. Lalu sayup-sayup terdengar gending-gending gamelan Jawa. Suaranya terdengar mistis. Awalnya terdengar jauh dan pelan, lama kelamaan suara itu seakan bergerak mendekat dan semakin mendekat diiringi wangi bunga kantil yang semakin pekat. Yang terjadi selanjutnya adalah ..

Next Baca di  Part 6 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Baca Rekomendasi :   Part 7 : Teror Gunung Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan
2 Comments
  1. […] Next  Baca di Part 5 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai […]

  2. […] Cerita sebelumnya bisa kamu baca di Part 5 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page