Part 7 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Sosok-sosok Kuntilanak muncul sesekali dari balik pohon. Kali ini aku sudah tak peduli. Tak ku pedulikan juga sosok yang terbang dari dahan ke dahan.

Pemandangan Gunung Slamet via instagram.com @emyebpj
1 604

Cerita sebelumnya bisa kamu baca di Part 6 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Tubuhku menggigil tak terkendali. Tidak sedikitpun aku mampu bergeser. Makhluk itu terus menatapku, wajahnya yang penuh darah nampak berkilat saat tertimpa cahaya bulan. Dibelakangku, jubah hitam Nyi Linggi nampak bergoyang tertiup angin. Dari sudut mataku, kulihat tangannya bergerak hendak meraihku.

Tak mampu bergerak, mataku membelalak dengan ngeri saat jari-jari pucatnya menyentuh pundakku. Dengan kalut aku mencoba mengingat doa apa saja, tapi pikiranku yang panik tak mampu mengingat satu doa pun. Aku mampu menguasai lagi tubuhku saat kudengar bunyi kepakan sayap lewat ditelingaku. Seekor gagak hitam terbang diantara aku dan Nyi Linggi lalu hinggap diatas nisan kuburan Ayu.

Kepala burung itu bergerak-gerak. Matanya yang hitam seakan melihat padaku. Lalu tiba-tiba dia berkaok dengan kencang dan terbang kearahku. Aku berteriak ketakutan sambil menutupi wajah dengan tangan mencoba menghindari cakaran burung hitam itu. Tapi dia lewat begitu saja, dan disaat yang bersamaan terlepas juga kuku Nyi Linggi yang menancap dipundakku. Sadar, aku segera beringsut ke samping dengan cepat menghindari gapaian tangan Nyi Linggi, lalu dengan kaki gemetar aku berbalik arah dan berlari secepat yang aku mampu.

Aku berlari tak tentu arah. Kabut kelabu menghalangi pandanganku. Yang kupikirkan hanyalah bergerak terus sejauh mungkin.

Membayangkan tangan pucat Nyi Linggi menggapai punggungku membuat seluruh tubuhku gemetar.  Sebuah siluet hitam muncul mendadak didepanku, tak mampu menghindari, aku terjatuh berguling-guling ditanah. Aku langsung bangkit, waspada. Mataku nyalang melihat sekeliling berusaha mencari sosok Nyi Linggi dan Mahkluk darah tadi. Mereka tidak terlihat di mana-mana, sekelilingku hanya kabut tebal. Tidak juga terdengar suara apapun.

Didepanku nampak gundukan tanah. Sebuah kuburan lagi. Aku terjatuh karena menghindari kuburan ini yang tiba-tiba muncul ditengah kabut. Sedetik bulu kudukku meremang, takut jika ternyata aku cuma berputar-putar ditempat. Tapi sekilas pandang aku langsung lega, ini bukan kuburan baru. Ini kuburan yang berbeda. Nisannya dari batu yang sudah dipenuhi lumut.

Dengan pelan aku bergeser mendekat. Aku bersembunyi dibalik batu nisan. Dari baliknya, dengan ketakutan aku mencari-cari sosok yang mendekat, tapi yang nampak hanya kabut. Kesempatan ini kugunakan untuk mengatur nafas dan menenangkan riuh detak jantungku. Dengan pelan kusentuh kantong celanaku, khawatir jika pembalut itu jatuh, tapi benda itu masih disana.

Kepakan sayap terdengar lagi, dan tiba-tiba dari balik kabut Gagak hitam itu muncul dan langsung mendarat dibatu nisan diatas kepalaku.

Aku kaget setengah mati, menghindar berguling menjauh. Gagak itu diam disana seakan tak peduli. Dia mengembangkan sayap hitamnya dan mulai mematuk-matuki sayap itu. Aku masih mengawasinya waspada. Berbagai kejadian malam ini mengajarkanku, apa pun bisa terjadi. Leherku kaku, tapi aku tak ingin mengalihkan pandangan dari burung ini.

Aku meyakinkan diri agar siap jika burung itu berubah menjadi Kuntilanak atau setan apapun. Tapi burung itu sama sekali tidak mempedulikanku. Dia mengepakkan sayapnya lalu turun ke atas pusara kuburan itu. Paruhnya mematuki lumut yang tumbuh subur menutupi nisan.

Sesuatu melintas dipikiranku. Pelan kudekati batu nisan berlumut itu. Dengan tangan gemetar kucabut perlahan lumut-lumut yang nampaknya sudah tumbuh di batu nisan ini bertahun-tahun tanpa pernah dibersihkan. Ketika kutarik, akar-akar serabutnya juga menarik lepas serpihan semen. Batu nisan ini sudah sedemikian rapuhnya. Cahaya bulan terlalu lemah untuk membantuku melihat apa yang terpahat di nisan ini, jadi aku menempelkan jariku, berusaha membacanya dengan tangan.

Huruf pertama yang terbaca adalah huruf M, berikutnya tanpa susah payah aku mengenali huruf O. Aku kesulitan mengenali huruf berikutnya, pahatannya sudah aus, guratan hurufnya agak samar, apakah huruf….. K

Sebuah tangan tiba-tiba muncul dari belakang dan menarik tanganku. Aku langsung histeris. Kaki dan sebelah tanganku yang bebas dengan panik memukul dan menendang-nendang berusaha melepaskan diri dari cengkraman mahkluk apapun itu.

Lalu sebuah suara yang kukenal dan terdengar agak kesal, “Hormatin orang yang udah mati boy.”

Aku membuka mataku. Orang itu berdiri tegak dibelakangku “ayo gerak. Waktu lu ngga lama lagi.” Kata orang itu lagi sambil berjalan menjauh.

Aku terseok-seok mengikuti langkahnya yang tampak terburu-buru. Kabut tebal kelabu masih mengelilingi kami, tapi orang itu nampaknya mengerti arah langkahnya. Sebentar-sebentar aku menoleh ke belakang. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang mengikuti, tapi tiap kali kutoleh yang ada hanya kekosongan.

Kabut semakin menipis, tapi perasaan mencekam malah kian terasa. Intensitasku menoleh ke belakang semakin sering. Tiap kali aku melonjak kaget, merasakan tangan dingin menyentuh tengkukku. Aku tak mampu lagi membedakan yang mana halusinasi atau kenyataan. Apakah hanya perasaanku atau memang benar sebuah tangan.

Menipisnya kabut sama sekali tidak membantu. Bayangan-bayangan gelap pohon cantigi yang kurus dan bercabang dimataku bagaikan sosok hantu yang berdiri diam. Berkali-kali aku terjatuh, tapi orang itu menengok pun tidak. Dia masih terus berjalan. Hanya sesekali dia melirik jam ditangannya atau menyalakan rokoknya. Semua dilakukan sambil berjalan.

Sosok-sosok Kuntilanak muncul sesekali dari balik pohon. Kali ini aku sudah tak peduli. Tak ku pedulikan juga sosok yang terbang dari dahan ke dahan.

Nyaliku kembali teruji ketika terdengar suara perempuan tua menyanyikan tembang Jawa. Suaranya terdengar pelan namun jelas. Orang itu mendadak berhenti dan mengeluarkan parangnya. Alih-alih terus jalan mengikuti jalur, orang itu malah menerobos semak disebelah kiriku. Parang tadi ia gunakan untuk membuka jalan. Kami menerobos ilalang setinggi pinggang. Di beberapa tempat ilalang itu bahkan melebihi tinggi tubuhku.

Sebuah tangan menjulur dari balik semak, tapi dengan entengnya orang itu mengayunkan parangnya dengan cepat. Tangan itu putus dan berubah menjadi kabut. Seiring jalan, juluran tangan itu semakin banyak. Mereka tidak hanya muncul dari balik semak, tapi juga dari bawah tanah.

Orang itu kembali berhenti. Kali ini dia mengajakku berbalik arah menyusuri jalur semula. Aku gelisah melihat wajahnya tidak lagi setenang biasa. Parangnya kembali diayunkan ke kanan kiri. Tiba-tiba saja kami keluar di Pos Kuburan Kuda.

Kemunculan mendadak kami rupanya mengalihkan perhatian hantu-hantu orang desa yang tampak sedang merubung ditenda pendaki. Puluhan pasang mata menatap kami tanpa berkedip. Tanpa ada komando tiba-tiba mereka bergerak pelan ke arah kami. Aku histeris ketika hantu yang terdekat memeluk pahaku. Aku meronta-ronta hingga terjatuh. Tangan itu baru lepas ketika orang itu menarikku. Sementara suara perempuan tua yang menyanyikan tembang Jawa terdengar semakin mendekat.

Orang itu berbisik pelan di telingaku, “lari boy.” Lalu dia menambahkan, “Jangan sekali-kali nengok ke belakang.”

Bersamaan dengan terciumnya anyir darah, orang itu berlari sambil menyeretku. Aku berlari zigzag menghindari tangan-tangan hantu orang desa yang berusaha menggapai kakiku. Lepas dari kepungan hantu orang desa, aku memohon orang itu berhenti untuk istirahat. Kedua kakiku hampir mati rasa. Tapi dia terus menarikku. Aku berlari dengan terpincang-pincang dan menahan nyeri di telapak kaki, hingga akhirnya aku rubuh karena pahaku keram. Rasanya seluruh tenagaku dikuras habis.

Didepanku, dibalik semak nampak pohon tua yang sangat besar. Kulit kayunya berwarna putih. Sulur-sulur panjang mirip rambut jatuh disana-sini dari dahan-dahan raksasanya. Yang pertama kulihat adalah pocong yang muncul dari balik pohon itu. Jantungku berdesir pelan. Tapi aku pasrah, menyadari aku tak bisa lari dengan kaki seperti ini.

Berikutnya adalah kuntilanak. Ada yang duduk sambil menggoyangkan kaki, ada yang menggantung dengan kepala dibawah. Ada dua atau tiga kuntilanak yang berwarna merah darah, yang lainnya berwarna putih. Itu adalah pemandangan paling tak biasa yang kutemui dalam pendakian, pohon itu bagaikan berbuah Kuntilanak.

Dan sulur-sulur seperti rambut. Aku salah. Nyatanya itu memang rambut. . 

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 5): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet
1 Comment
  1. […] Next Part 7 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page