Ketika Guruku Menyuruhku Menggambar Karikatur Rasululloh SAW Yang Kucintai

  • Bagikan
Cinta Nabi Muhammad
Cinta Nabi Muhammad

Saat aku menutup mata dan memikirkan betapa agungnya Engkau, Ya Rosululloh. Aku Melihat Engkau Datang, kepadaku, kepada kami dengan senyum yang sempurna dan wajah yang begitu teduh, juga indah.

Lalu, aku berpikir, “Bagaimana mungkin? Bagaimana caranya, aku bisa melukiskan senyum yang sempurna dengan wajah yang begitu teduh nan indah itu? Bagaimana, bagaimana caranya, aku menggambarkan suri tauladanMu yang begitu agung ke semua orang yang belum atau mungkin tidak mengenalMu, termasuk guruku?”

****

Pagi itu, saat kelas melukis belum di mulai. Aku meletakkan kepalaku di atas meja persegi empat yang cukup lebar. Menyandarkan sejenak kepalaku, karena cukup lelah setelah beberapa hari sulit di lingkungan tempat kami tinggal. Para demonstran berhasil ditenangkan. Beberapa anak sepertiku sudah bisa keluar dan kembali belajar di sekolah. Namun, beberapa terror masih terasa setelah terjadi insiden yang cukup mengerikan dan menggemparkan tidak hanya di Negara tempat aku tinggal, tapi juga seluruh dunia.

Sejenak, aku menatap keluar kelas lewat sebuah jendela kecil di samping tempat dudukku. Beberapa poster berisi ujaran kebencian, pelanggaran hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi, bahkan kata umpatan dan terorisme, masih terpampang jelas di dinding-dinding bangunan, rute jalan dan kawasan yang cukup terkenal. Bahkan beberapa kalimat yang meminta pemerintah mengusir kami dari Negara ini, juga tak lepas dari pandangan.

Aku memegang dadaku, ada yang sakit, namun tak berdarah di sana. Saat orang orang itu, menyalahkan keyakinan kami, menganggap kami musuh dalam selimut, hingga selalu menatap kami dengan penuh rasa benci dan takut. Aku tidak membenci mereka, sungguh. Kata ibu dan ayahku, kebencian hanya akan membuat masalah semakin rumit.

Agama kami adalah agama yang mencintai dan membawa kedamaian, dan jika ada yang salah. Itu bukan karena agama, namun satu dua oknum yang belum benar benar memahami apa yang dianut dan diajarkan kepadanya dengan lebih bijak. Sedang, orang orang itu, mereka hanya belum mengenal atau terlalu takut untuk mengenal kami secara utuh. Sehingga lebih memilih menghindar dan diam.

Baca Rekomendasi :   Kepadamu Ku Titipkan Dirinya, Semoga Bersamanya Kau Temukan Bahagia

“Pagi anak anak …,” suara Bu Jessica, guru lukis berambut blonde, menggema di ruangan kelas, menyentakkan diriku dan mengangkat kepalaku secara paksa untuk menyambut, juga menghormati kehadirannya.

Dia seorang wanita yang baik dan tidak rasis terhadap perbedaan keyakinan, meskipun dia juga mengutuk insiden yang baru terjadi kemarin. Mungkin, sama seperti orang lainnya, pandangannya terhadap keyakinan kami juga semakin memburuk. Namun untunglah, dia tetap seprefesional mungkin dalam pekerjaannya sebagai seorang guru.

“Bagaimana kabar kalian hari ini? Ibu harap kalian juga datang ke demonstrasi kemarin, dan melihat bagaimana ketidak adilan sedang terjadi di Negeri ini,” ucapnya lagi dengan suara yang terdengar geram dan sedikit emosional.

Semua siswa yang berada di kelas, termasuk diriku memilih diam mendengarnya.

“Baiklah, mari belajar dari insiden kemarin. Saya akan memberi kalian satu lembar kertas, tugas kalian hari ini adalah menggambar karikatur Muhammad. Anggap saja seperti membuat sampul gambar karikatur seperti sebelumnya. Tunjukkan, bahwa di Negara ini, masyarakat bebas untuk menyampaikan ekspresinya dalam bentuk apapun termasuk gambar atau karikatur,” ucap Bu Jessica, tepat di depan mataku. Kami sempat saling menatap dalam sepersekian detik.

Saat sesi menggambar dimulai, aku menatap kosong kertas putih yang ada di hadapanku. Bingung dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat dengan kertas itu. Kulihat beberapa teman di sekeliling meja, mereka sudah mulai fokus menggambar dan membuat coretan. Seperti, tidak ada yang merasa kesulitan saat melakukan tugasnya.

Baca Rekomendasi :   Kita yang Pernah Bersama, Kini Berpisah Membawa Luka yang Berbeda

“Maaf, tidak ada sesi pertanyaan!” ucap guru itu dengan lugas dan tegas membuatku sedikit kecewa saat mengangkat tangan. Aku hanya ingin menjelaskan alasan kenapa tidak bisa melaksanakan tugas yang dia berikan dengan baik, namun tidak diberikan kesempatan.

Dalam kebimbangan dan kegelisahan, akhirnya aku menutup kedua mataku. Mencoba membayangkan sosok yang begitu kami cintai itu dan mengingat semua kisah tentang Dirinya yang sering ibu sampaikan kepadaku. Dia adalah Rosululloh SAW, Nabi Akhirul Jaman yang membawa pelita dalam kegelapan, yang begitu kami cintai dengan sepenuh jiwa dan raga.

“Wahai Rosululloh SAW tercinta, aku suka melukis dan menggambar, tapi aku tidak pernah melihatMu, lalu bagaimanakah caraku melukiskan Dirimu? Shollu ala Muhammad,” ucapku dalam hati dengan bersungguh sungguh, sambil mengucapkan sholawat Nabi, sama seperti yang telah diajarkan oleh kedua orang tuaku.

Tiba tiba dalam kesadaran, aku melihat banyak sekali kilasan-kilasan kehidupan yang aku jalani. Aku melihat ibuku yang sering menangis saat membaca dan menyampaikan kisah-kisah tentang Engkau, Rosululloh SAW tercinta. Aku melihat ayahku yang sholat di sepanjang malam. Aku melihat kakak perempuanku yang tetap tersenyum, meskipun dia mendapatkan penghinaan di jalan. Aku melihat sahabatku yang meminta maaf kepadaku, padahal aku yang bersalah. Sungguh, aku ingin menggambarkan semua itu pada sosokmu di secarik kertas yang ada di hadapanku.

Saat aku menutup mata dan memikirkan betapa agungnya Engkau, Ya Rosululloh. Aku Melihat Engkau Datang, kepadaku, kepada kami dengan senyum yang sempurna dan wajah yang begitu teduh, juga indah. Lalu, aku berpikir, “Bagaimana mungkin? Bagaimana caranya, aku bisa melukiskan senyum yang sempurna dengan wajah yang begitu teduh nan indah itu? Bagaimana, bagaimana caranya, aku menggambarkan suri tauladanMu yang begitu agung ke semua orang yang belum atau mungkin tidak mengenalMu, termasuk guruku?”

Baca Rekomendasi :   Kepada Hati Yang Dirahasiakan, Semoga Allah Menjagamu Dalam Kebaikan

Aku memahaminya dan tidak akan menyalahkannya. Guruku yang baik hanya belum mengenalmu atau mencintai seseorang seperti yang aku rasakan. Dan aku mencintaiMu Rosululloh SAW, meskipun belum pernah melihatMu. Namun tetap bisa kurasakan cahayaMu menghangatkan tubuhku.

Beberapa detik berlalu, dan kembali aku menatap kertas putih yang masih kosong di tanganku. Lalu, dengan penuh keyakinan dan semangat baru, aku mulai menyampaikan sebagian kecil  tentang diriMu, wahai Rosululloh SAW tercinta. Aku juga membuat Kaligrafi Namamu, untuk menambah keindahan akan sosokmu.

Hingga tiba saatnya, aku maju dengan penuh keyakinan, keberanian dan pandangan baru soal cinta, juga kehidupan. Aku tersenyum begitu manis kepada Bu Jessica dan berjalan keluar kelas dengan penuh pengharapan. Meskipun hanya sedikit, kuharap dia dapat lebih mengenalMu dan tidak lagi berpikiran negative soal keyakinan yang kami punya kedepannya.

Kuharap, akan ada saatnya, Engkau muncul, sebentar saja, beberapa detik saja, di hadapan mereka. Sama seperti Engkau muncul kepadaku, agar mereka lebih mengerti akan keindahan dan keagungan Sosokmu yang tak bisa terlukiskan.

***

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al- Ahzab ([33]:21)

End

Nb : Cerpen diatas terinsipirasi dari cuplikan film pendek dari Mokhtar Festival Film yang diupload pada tanggal 11 Januari 2015  di kanal  Youtube Mokhtar Award berjudul “Draw The Prophet”

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page