Diogo Alves, Pembunuh Berantai yang Kini Tinggal Penggalan Kepala

Karena jalinan asmaranya yang kandas, Diogo Alves memutuskan untuk menjadi pembunuh berantai.

Teror Gunung Dempo Part 3
0 261

Pembunuh berantai asal Spanyol yaitu Diogo Alves tampaknya tidak akan pernah merasakan ketenangan dalam hidupnya bahkan hingga sampai dia meninggal dunia. Akibat dari perbuatannya yang telah membunuh banyak sekali orang yaitu sekitar 70 orang dari tahun 1836 sampai 1840, ia harus menanggung semua ganjaran dan konsekuensi dari perbuatannya tersebut. Berikut merupakan beberapa fakta dari Diogo Alves.

Memiliki kehidupan yang normal pada awalnya

Diogo Malves bukanlah seseorang yang terlahir langsung menjadi penjahat dan memiliki dominan sikap sadis dalam dirinya. Justru sebaliknya, ia lahir dalam keadaan keluarga yang hangat. Saat itu ia hidup dalam keluarga petani dan mulai bekerja pada usia 19 tahun. Oleh karena kinerjanya sebagai seorang petani sangat bagus maka Diogo dipercaya menjadi pelayan di keluarga orang kaya.

Hidup menjadi pelayan dari orang kaya justru membuat sikapnya perlahan menjadi berubah. Karena penghasilannya berbeda dengan sebelumnya, maka hal ini menjadikan kebiasaannya juga berubah. Ia menjadi suka berjudi dan mabuk dengan minum-minuman keras.

Awal mula Diogo memutuskan menjadi pembunuh berantai

Kisah Diogo memutuskan untuk menjadi pembunuh berantai berawal dari hubungan asmaranya dengan seseorang. Dia menjadi sering mencuri dengan cara membobol kunci. Ia biasanya merampok korban lalu mata korban akan ditutup lalu dia akan mulai untuk menyeret ke puncak saluran air dan melemparkannya ke bawah dengan jarak kurang lebih 65 meter. Diogo melakukan hal tersebut selama berulang-ulang.

Alasan mengapa pembunuhan berulang terus terjadi

Pembunuhan yang dilakukan oleh Diego dapat terjadi dikarenakan ada begitu banyak permasalahan yang melanda Spanyol pada saat itu. Negara itu sedang mengalami krisis ekonomi dan politik karena Revolusi Liberal.

Jadi pihak kepolisian menganggap dan mengira bahwa mayat-mayat yang ditemukan di saluran pembuangan air hanyalah orang-orang yang bunuh diri akibat tidak bisa survive dengan keadaan yang ada. Hal tersebut justru semakin membuat Diogo lebih punya akses untuk menyembunyikan setiap kejahatan berupa pembunuhan yang dia lakukan.

Tertangkapnya Diogo Malves

Seiring dengan berjalannya waktu ditemukan begitu sering dan banyak mayat orang yang ada di saluran air, maka polisi mulai merasa aneh dan akhirnya saluran air tersebut ditutup. Hal ini menjadi kesulitan untuk Diogo karena itu satu-satunya tempat dimana dia bisa dengan leluasa membunuh tanpa menimbulkan kecurigaan yang berlebihan.

Akhirnya dia merubah cara merampoknya jadi hanya merampok keluarga-keluarga kaya saja. Namun hal tersebut tak bisa berlangsung lama, dikarenakan semua perbuatannya segera terungkap baik yang lalu seperti membunuh pada saluran air maupun yang saat itu terjadi.

Diogo dihukum dan kepalanya dipenggal

Akhirnya Diogo digantung sebagai ganjaran atau hukuman yang harus dia lakukan akibat dari perbuatannya selama ini. Namun, hal ini menyebabkan rasa penasaran terhadap ilmuwan yang ada pada saat itu. Ilmuwan disana ingin melakukan penelitian terhadap apa yang sebenarnya terjadi dalam otak dari pembunuh berantai ini sehingga dia tega melakukan hal tersebut.

Kesadisan dan kejahatannya telah membunuh puluhan orang merupakan kejahatan pembunuhan berantai pertama kali di Portugal pada saat itu. Setelah dia digantung dan mati akhirnya para ilmuwan mengambil kepala Diogo untuk dapat dipelajari.

Kepala Diogo dibedah dan diawetkan

Para ilmuwan yang penasaran terhadap isi kepala dari Diogo kemudian memotong kepalanya dan meneliti apa yang ada didalamnya. Hingga sampai hari ini kepala Diogo masih ada di dalam toples dan mengambang dalam cairan pengawet. Kepala Diogo kini disimpan di Fakultas Keokteran di Universitas Lisbon.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page