Jadilah Uswatun Hasanah, Contoh Yang Baik. Saat Ingin Menasehati, Tanpa Melukai

  • Bagikan
Cinta Nabi Muhammad
Cinta Nabi Muhammad

(Ilustrasi 1)

“Dek, sholat sana! Main hp mulu,” teriak Mama tanpa menoleh.  Jemari tangan Mama masih sibuk menari nari di atas ponsel keluaran terbaru yang sebulan lalu dibelinya.

Aku cemberut, mendengkus kesal. Dalam hati, sibuk menggerutu.

“Mama sendiri juga gak sholat, sibuk main hp juga.”

“Eh, ni Anak. Bantah mulu. Udah sholat dulu sana. Mama ini sibuk, bukan main main kayak kamu,” jawabnya sembari menoleh sebentar untuk melototiku. Tak lama, wajahnya tertunduk kembali menatap layar ponsel.

Aku mencebik, meletakkan handphone di atas meja. Lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sempat kulirik layar ponsel Mama, sedikit penasaran pada apa yang dikerjakannya.

“Hadeh, ternyata kerja sibuk berghibah ria di medsos, dasar Mama gak ada akhlak. Nyuruh anak sholat, dianya sendiri bergosip ria.”

Rasanya aku sedikit sakit hati dan terpaksa untuk menjalankan kewajiban sholat lima waktu. Apalagi, saat Mama masih terkikik sambil menatap ponselnya. Lupa, jika kemarin berjanji akan menemaniku belajar.

Baca Rekomendasi :   Teruntuk Kamu, Seorang Ayah Dari Gadis yang Aku Cintai

( Ilustrasi 2 )

“Neng, bapak minta sedekah sedikit. Bapak belum makan hari ini.” Tiba tiba seorang pengemis tua sudah berada di dekatku. Tangannya yang renta dan keriput diangkat, mengiba.

Ada rasa kasihan yang mencuat di dalam hati. Namun, rasanya enggan untuk memberi, mengingat uang di dompet tinggal satu lembar berwarna hijau. Sedang, gajianku masih minggu depan.

Saat akan mengusir pengemis tua itu selembut mungkin, Sella yang baru selesai membeli makan siang menghampiri. Dia membawa sekresek makanan untuk dimakan kami berdua.

“Ayo, pulang,” ucapnya seraya naik ke atas motor.

“Maaf ya, Pak. Saya gak ada uang,” ucapku selembut mungkin. Tangan tua yang gemetaran itu turun. Ada raut kesedihan di wajahnya saat meninggalkan kami berdua.

Sella melototiku, aku hanya cuek sambil mengendikkan bahu. Belum sempat menstater motor, gadis berkerudung biru itu segera turun dan berlari menghampiri pengemis tua yang tadi.

Aku memberikannya tampang kesal, saat dia kembali dengan wajah ceria dan senyum lebar. Kantong kresek makanan kami hilang sudah diberikan bapak pengemis itu.

Baca Rekomendasi :   Engkau Adalah Sakit Paling Indah dan Luka Paling Menawan

“Ikhlas, kan?”

“Iya, ikhlas,” jawabku sembari menangis dalam hati, mengingat perut yang keroncongan dan dompet yang mengering.

“Sudah-sudah, nanti Allah pasti ganti. Lagian, di kontrakan masih ada stok mie, kan?”

Sella merangkulku, dia pasti tahu bahwa sahabatnya ini sedang gundah memikirkan nasib kami berdua. Apalagi, aku juga sempat melihat dia juga memberikan uang 10 ribu pada pengemis tadi. Padahal, itu uang terakhirnya juga. Kok masih bisa, dia tersenyum tanpa beban seperti itu.

Drttrrttt …. Drttt … Drttt

Sella segera mengambil handphone di saku bajunya dan membaca pesan di sana.

“Alhamdulillah,” pekiknya tiba tiba mengagetkanku.

“Nin, ayo kamu mau makan apa? Nasi padang, Nasi ayam, Nasi gulai?”

“Tunggu-tunggu, memang ada apa?” tanyaku bingung, melihat wajah sahabatku itu semakin berseri seri.

“Alhamdulillah, Mas ku baru aja kirim uang. Ada rejeki lebih, katanya,” jawabnya segera naik ke atas motor.

Akhirnya setelah berpikir sejenak, Bakso granat didekat kantor menjadi pilihan kami berdua. Makanan yang sering kami nikmati hanya ketika gajian itu, bisa kami nikmati sekarang.

Baca Rekomendasi :   Terkadang, Memaafkan Adalah Cara Terbaik Untuk Mengembalikan Kebahagian

Aku tersenyum, ketika menstater motorku. Mulai menyesal, karena lupa bahwa rejeki sudah Allah yang atur dan jamin. Ditambah lagi, di setiap pundi rezeki kami, ada pula hak orang orang yang membutuhkan, seperti Bapak pengemis tadi. Untunglah, aku sangat bersyukur punya sahabat seperti Sella yang selalu memberi contoh kebaikan, tanpa sibuk menghakimi terlebih dahulu.

****

Ketika kamu ingin menasehati seseorang terdekat. Tidak perlu menghakimi, menjudge atau berkata buruk kepadanya. Karena justru akan menimbulkan sakit hati atas ucapanmu. (Sama seperti ilustrasi yang pertama)

Namun, jadilah contoh, atau uswatun hasanah (seperti ilustrasi kedua). Agar tidak hanya nasehat baik itu tersampaikan. Juga, tanpa melukai hati orang lain.

Karena sesungguhnya sebaik baiknya nasehat adalah dengan memberi contoh yang baik. Dan hal ini berlaku kepada siapa saja dan dimana saja. Semangat menyebarkan kebaikan …

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page