Brenda Spencer, Membunuh Karena Benci Hari Senin!

  • Bagikan
Kisah pembunuhan
Kisah pembunuhan via unsplash.com/@dmey503

Brenda Spencer adalah seorang remaja asal California yang menjadi pembunuh saat berusia 16 tahun. Brenda tinggal dalam sebuah rumah yang terletak pas seberang jalan dari suatu sekolah.

Oleh karena itu tidak sulit untuknya ketika melakukan aksi menembaki dua orang dari sekolah tersebut. Kejadian tersebut berlangsung pada tanggal 29 Januari 1979. Selanjutnya hal itu menjadi sangat populer karena pernyataan dari Brenda Spencer bahwa ia melakukan hal itu karena tidak suka hari Senin.

Berbagai media cetak maupun berita merilis pernyataan tersebut dan sukses membuat setiap orang bertanya-tanya. Kira-kira apa yang ada dalam pikiran gadis remaja ini pada saat itu.

Latar Belakang Brenda Spencer

Brenda memiliki keluarga yang kurang harmonis. Orangtuanya berpisah dan ia harus tinggal dengan ayahnya, Wallace Spencer. Keluarga mereka termasuk memiliki tingkat ekonomi yang rendah.

Ketika beberapa wartawan dan jurnalis saling berlomba untuk mengetahui latar belakang Brenda melalui teman-temannya. Mereka mengatakan bahwa Brenda memiliki sikap yang negatif bahkan gurunya menggambarkan Brenda memiliki sikap introvert.

Baca Rekomendasi :   5 Fakta Unik Benjamin Joseph Varney, Youtuber Horor di After Dark Series

Kemudian hal itu bisa terbukti sebab ketika masa tahanan pemberlakukan tes, Brenda mengalami cedera pada otaknya. Cedera ini akibat dari kecelakaan sepeda yang pernah ia alami sewaktu kecil.

Suatu hari kemudian ada yang memberitahukan kepada Wallace Spencer bahwa anaknya ingin bunuh diri. Evaluasi dari psikiatri merekomendasikan agar Brenda bersedia menjalani perawatan rumah sakit.

Ayahnya memberikan senapan kaliber dengan penglihatanteleskopik dengan 500 butir amunisi. Brenda kemudian mengatakan bahwa dirinya hanya meminta radio namun ayahnya memberinya senjata. Ia merasa saat itu ayahnya menginginkannya untuk bunuh diri.

Tragedi Penembakan

Pada pagi hari saat Senin, tepat tanggal 29 Januari 1979, Brenda tiba-tiba menembak anak-anak yang sedang menunggu didepan Sekolah Dasar Cleveland. Aksi itu Brenda lakukan semata-mata agar gerbang dapat terbuka. Hal itu menyebabkan 8 anak sekolah dasar luka-luka. Dan Burton Wragg sebaga kepala sekolah terbunuh saat sedang mencoba membantu anak-anak.

Baca Rekomendasi :   Part 3 (End) : Pendakian Gunung Gede, Penampakan Nenek Tua di Surya Kencana

Saat mencoba menarik Burton, penjaga sekolah yang bernama Mike Suchar juga ikut terbunuh akibat tembakan. Tak berapa lama setelah itu petugas polisi tiba dan Brenda juga menembak petugas itu pada bagian leher.

Setelah 30 butir peluru ia tembakkan, Brenda mengurung diri dalam rumahnya selama 7 jam. Pada saat itulah ia berkomunikasi melalui telepon dengan seorang jurnalis yang menulis pernyataan Brenda. Pernyataan tersebut yaitu alasan ia membunuh karena ia tidak suka hari Senin.

Saat masa persidangan, mengenai pernyataan yang telah ia berikan kepada jurnalis menjadi pertanyaan oleh Majelis Hakim. Namun Brenda tidak terlalu ingat apakah benar ia mengatakan hal tersebut kepada sang jurnalis. Akhirnya ia menyerah dan mengaku bersalah telah melakukan penembakan secara masal tersebut.

Kisah dari Brenda kemudian menginspirasi Bob Gedolf menulis sebuah lagu berjudul “I Don’t Like Mondays” dalam band Boomtown Rats. Lagu itu sukses menjadi list #1 di Inggris dan begitu populer dalam Amerika Serikat.

Baca Rekomendasi :   After Dark Series, Kisah Horor Penuh Kejutan Dari Thailand

Hukuman untuk Brenda Spencer

Brenda diadili sebagai orang dewasa ketika ia mengaku bersalah pada persidangan. Tentunya hal ini terbukti juga oleh berbagai macam keterangan saksi yang ada dalam tempat tersebut. Putusan dari Hakim adalah ia hrus mendekam dalam penjara selama 25 tahun hingga seumur hidup.

Kehidupan penjara juga tidak membuat Brenda menjadi lebih baik, ia menderita epilepsi dan depresi saat berada di California Institution for Women di Chino, California.

Pada tahun 1993, Brenda memenuhi syarat untuk sidang pembebasan bersyarat. Pada sidang pertamanya, Brenda mengatakan bahwa ia telah menjadi pengguna obat-obatan terlarang. Ia juga mengatakan bahwa ia seringkali mengalami pemukulan atau pelecehan dari ayahnya.

Namun Ketua Dewan Pembebasan Bersyarat meragukan apakah hal itu benar atau tidak. Sebab sebelumnya Brenda tidak pernah menyinggung hal tersebut atau mengatakannya sebelumnya. Akhirnya pembebasan bersyaratnya ditolak dan akan dipertimbangkan selama sepuluh tahun kedepan.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page