Troy Leon Gregg, Pembunuh Berdarah Dingin Dari Georgia

  • Bagikan
Pembunuh Berdarah Dingin Dari Georgia
Ilustaris Pembunuh Berdarah Dingin Dari Georgia via pexel.com

Troy Leon Gregg adalah seorang terpidana yang mendapatkan vonis hukuman mati. Putusan tersebut ia dapatkan setelah kemudian terjadi penguatan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Ia harus menjalani hukuman karena terbukti telah membunuh Fred Edward Simmons dan Bob Durwood Moore yang bahkan telah memberinya tumpangan pada saat itu. Mahkamah Agung sepakat untuk menghukum mati Gregg yang ada dalam Negara Bagian Georgia.

Kejahatan yang Gregg lakukan.

Pembunuh Berdarah Dingin Dari Georgia
Ilustaris Pembunuh Berdarah Dingin Dari Georgia via pexel.com

Peristiwa itu terjad pada hari Rabu, tanggal 21 November 1973. Gregg yang berusia 25 tahun pada saat itu bersama dengan temannya yang bernama Allen yang masih berusia 16 tahun.

Pada saat itu mereka berdua hanya memiliki uang sebesar 8$ sehingga membutuhkan tumpangan bisa sampai ke bagian utara Florida. Setelah perjalanan beberapa ratus mil, mobil yang dimiliki oleh kedua korban yaitu Simmons dan Moore mogok.

Simmons dan Moore sempat untuk memperbaiki mobil mereka terlebih dahulu ke dealer mobil. Mereka lalu kembali menjemput Gregg dan Allen untuk melanjutkan kembali perjalanan ke bagian utara Florida.

Baca Rekomendasi :   Part 3 (End) : Perjalanan Mistis Di Gunung Semeru, Diganggu Penghuni Dunia Lain

Namun ketika perjalanan, Gregg mengamati bahwa Simmons dan Moore terlihat memiliki uang dengan jumlah yang besar. Sebelum itu, Simmons dan Moore berhenti di sebuah klub dan bertemu teman mereka yang bernama Dennis. Setelah mereka selesai dengan agenda mabuknya, Gregg kemudian memberikan instruksi kepada Allen untuk merampok uang milik Simmons dan Moore.

Gregg lalu mulai melancarkan aksinya, ia bersembunyi dengan cara berbaring di mobil dan berencana menembak Simmons dan Moore. Ketika mereka berdua mulai menghampiri mobil Gregg melepaskan tiga tembakan. Salah satu dari mereka terjatuh dan terbaring di selokan drainase.

Gregg langsung mengambil semua harta benda yang ada dalam saku mereka berdua kemudian membunuh mereka. Allen yang menyaksikan semua perbuatan Gregg kemudian diminta oleh Gregg untuk kembali ke dalam mobil lalu mereka pergi membawa mobil tersebut.

Baca Rekomendasi :   5 Alat Eksekusi Mati yang Sangat Sadis Pada Zaman Dahulu

Penangkapan Gregg oleh Kepolisian

Polosi menemukan mayat Simmons dan  Moore dalam selokan drainase. Menurut ahli forensik setempat yang menyebabkan Simmons mati karena tertembak di sudut mata kanan dan pelipisnya. Sedangkan Moore mati karena tertembak pada bagian pipi kanan.

Beberapa saat kemudian, Dennis yang mengenal Gregg dan Allen dari Simmons dan Moore menelepon Kepolisian. Dennis shock dengan apa yang dibaca dalam berita. Ia langsung memberitahu Kepolisian bahwa ada kemungkinan Gregg dan Allen menuju Asheville, Carolina Utara.

Tak butuh waktu lama, Polisi di Ashville menangkap Gregg. Dalam penangkapan tersebut polisi menemukan pistol kaliber yang ada dalam saku Gregg.

Polisi juga mengamankan uang tunai sejumlah 107$ hasil rampokan Gregg. Setelah penyidikan, ternyata terbukti bahwa peluru yang digunakan oleh Gregg cocok dengan luka tembak yang diterima oleh Simmons dan Moore.

Persidangan Gregg yang Memvonis Hukuman Mati

Dalam persidangan, beberapa orang menanyakan alasan mengapa ia melakukan hal tersebut. Gregg menjawab bahwa sudah menjadi keinginannya untuk membiarkan Simmons dan Moore mati.

Baca Rekomendasi :   Kisah Nyata (Part 2): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Ia mengakui secara keseluruhan bahwa ia yang melakukan perbuatan tersebut kepada kedua korban tersebut. Akhirnya Gregg mengalami vonis hukuman mati namun ternyata ia tidak pernah berhasil sampai berakhir dan mati di kursi listrik. Ia melarikan diri dari penjara pada bulan Juli 1980 tepat sebelum malam sebelum eksekusi mati.

Namun tidak lama ia menikmati masa kebebasannya dari penjara. Saat kabur, ia memutuskan untuk menetap dalam bar di North Carolina. Dalam bar tersebut, ia terlibat perkelahian yang sangat hebat lalu berakhir dengan mati mendapatkan pukulan ketika sedang bertengkar.

Dari sini kita belajar bahwa mau bagaimanapun kamu menghindari takdirmu untuk mati, namun kamu tetap tidak akan bisa menghindarinya. Atas segala hal yang perlu kamu pertanggungjawabkan, kamu tetap harus menanggungnya.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page