Human Zoo, Eksploitasi Manusia Dengan Tampilan Kebun Binatang

  • Bagikan
Human Zoo
Human Zoo via www.rarehistoricalphotos.com

Pada akhir 1800-an, pameran kolonial menjadi populer di dunia barat. Pameran ini tidak hanya memamerkan artefak tetapi juga orang sungguhan. Inilah yang banyak orang-orang sebut sebagai ‘Kebun Binatang Manusia’.

Di era sebelum bioskop, pertunjukan ini memungkinkan orang barat untuk melihat orang asing yang hanya mereka dengar dan lihat. Karena pameran ini, banyak penonton yang berteriak histeris untuk melakukan sorak sorai terhadap kebun binatang manusia atau human zoo ini.

Desa Igorot sebagai pertunjukan

Human Zoo
Human Zoo via www.rarehistoricalphotos.com

Salah satu pameran paling populer adalah desa Igorot, sebuah kelompok etnis yang dianggap paling tidak beradab dari yang ia pamerkan. Keberhasilan meraih begitu banyak penonton dan mendapatkan penghasilan dari atraksi ini sangat besar. Pameran ini menampilkan penduduk asli dengan pakaian minim dan yang sering ia temukan memakan anjing saat penonton berteriak-teriak untuk melihat lebih baik.

Baca Rekomendasi :   Siren, Makhluk Mitologi Yunani yang Cantik Namun Mengerikan

Sementara makan anjing adalah keingintahuan yang sensasional bagi penonton barat. Sebab makan anjing merupakan gambaran yang mereka anggap keliru. Igorot memang memakan anjing, tetapi hanya untuk alasan seremonial. Namun selama tujuh bulan pekan raya, anjing-anjing diberi makan ke Igorot setiap hari. Orang-orang suku juga jarang melakukan ritual sakral, seperti berkokok kepala suku, sebagai hiburan sehari-hari, untuk menyenangkan penonton yang memutar payung.

Pertunjukan orang Afrika

St. Louis Fair tidak hanya menampilkan orang Filipina; itu juga menampilkan pameran orang Afrika, termasuk seorang pria Kongo bernama Ota Benga. Setelah St. Louis Fair selesai, Benga dibawa ke New York untuk menjadi bagian dari pameran di Kebun Binatang Bronx. Dia tampaknya percaya bahwa orang menyewanya untuk merawat gajah di kebun binatang.

Namun ternyata ia salah besar. Banyak orang menontonnya dan ia memiliki deskripsi sebagai orang kerdil yang buas. Benga dengan cepat menjadi sorotan kebun binatang, dan memajangnya di rumah monyet. Giginya dikikir sampai ke titik-titik, seperti kebiasaan di sukunya.

Baca Rekomendasi :   Fakta Singkat Aprodhite, Sang Dewi Cinta Pemikat Hati Dari Yunani

Dan banyak orang mengotori lantai kandangnya dengan tulang-tulang yang ada di sana. Tulang itu penjaga kebun binatang tempatkan untuk membuatnya terlihat lebih mengancam. Dia memainkan peran biadab dan pada waktunya ia tampil di kandang dengan kera.

The New York Times menggembar-gemborkan pameran itu dengan judul: “Bushman Berbagi Kandang dengan Kera Bronx Park.” Dalam isi artikel tersebut, Benga masuk dalam kelompok orang Bushman. Orang Bushman merupakan salah satu ras yang tidak bernilai tinggi oleh para ilmuwan dalam skala manusia. Tetapi penonton datang berbondong-bondong; seringkali 500 orang sekaligus, bahkan ribuan orang setiap hari di puncak pameran.

Pameran Desa Kongo

Bahkan hingga pertengahan abad ke-20, praktik kebun binatang manusia terus berlanjut. Pada tahun 1958, Pameran Dunia di Brussel menampilkan Desa Kongo, dan menyombongkan gambar yang menjadi simbol dari fenomena ini: seorang gadis muda Afrika dengan pakaian barat. Dia diberi makan oleh tangan putih pelindung yang terulur. Sebuah pagar berdiri di antara mereka.

Baca Rekomendasi :   Fakta Singkat Aprodhite, Sang Dewi Cinta Pemikat Hati Dari Yunani

Untungnya, pada tahun 1958, pameran di Brussel tampak seperti berkurang. Minat pada kebun binatang manusia telah berkurang dengan munculnya film karena orang dapat memuaskan selera mereka akan negeri asing melalui layar perak dan layar kecil. Dan pada saat pameran di Brussel, gagasan tentang kebun binatang manusia sebagian besar teranggap tidak menyenangkan dan telah terlarang di sebagian besar negara.

Namun perubahan tidak terjadi cukup cepat bagi orang-orang di desa Kongo pada tahun 1958. Sejumlah 297 yang asli meninggal selama pertunjukan dan dikuburkan di kuburan massal tanpa nama.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page